
Dalam perjalanan menuju tempat Dodo bekerja, Jesslyn dan Anggi hening di dalam mobil yang melaju cukup kencang. "Anggi hati-hati menyetirnya, selalu fokus ke jalan." Anggi menjawab iya dan menganggukan kepala.
"Anggi, aku baru ingat. Suamiku bekerja di tempat berbahaya. Tadinya aku mau masuk sebentar untuk mengantarkan ini, menurutmu bagaimana? apa aku harus titipkan di pos penjaga?"
"Jika berbahaya, jangan dititipkan makanannya Nona, anda bisa berkomunikasi dengan Pak Dodo Untuk bertemu di depan."
"Masalahnya, suamiku tidak bisa dihubungi sejak tadi. Nyambung sih tapi belum di angkat juga sampai sekarang." Jesslyn terus saja mengotak-atik ponsel.
"Nona, kalau boleh saya saran lain kali saja melanjutkan salah satu tugas istri ini. Bukankah menjaga diri agar suami tidak cemas termasuk salah satu tugas."
"Iya juga" menimbang sebentar perkataan Anggi, dia menatap paper bag lalu melihat isinya sebentar. "Benar apa katamu. Tapi aku tetap ingin kesana." Keras kepala Jesslyn sangat memusingkan.
"Baik Nona"
Tempat tujuan sedikit lagi akan sampai, Jesslyn bangun dari duduk menyandar dan memperhatikan suasana sekitar dengan membuka jendela mobil.
Dok..dok..dok..
Jendela mobil bergetar di pukul orang. Terus menerus mengikuti hingga mobil menepi di bahu jalan. Anggi keluar dan menemui orang itu. Pembicaraan nampak biasa dilihat dari dalam mobil. Tidak ada adegan kekerasan yang terlihat.
Hingga di menit kemudian Anggi berbalik dan membelakangi orang itu, dia bermaksud kembali lagi ke dalam mobil meneruskan perjalanan. Namun, Jesslyn melihat dari dalam lelaki tak dikenal itu mengeluarkan sapu tangan dan mengikuti Anggi.
"Anggi... Awas" Jesslyn berteriak di dalam mobil, nafasnya memburu naik turun, panik bagaimana jika terjadi sesuatu padanya.
Bugh...
Anggi berbalik badan menumpas lelaki itu dengan ilmu bela dirinya. Lelaki itu tersungkur memegangi perutnya yang terkena tendangan. Temannya datang dari arah sana, dibalik pohon palm di pinggir jalan yang dari tadi sudah mengintai, mereka adalah komplotan terorganisir.
__ADS_1
Fighting tiga lawan satu, untuk sementara mereka berkelahi seimbang. Lama-lama Anggi pun tumbang terkena pukulan. Jalanan sepi membuat Jesslyn memikirkan cara bagaimana menyelamatkan Anggi selain keluar mobil berteriak meminta tolong.
"Ayolah sayang, angkatlah." Peluh bercucuran menghiasi wajah cantik Jesslyn yang sedang panik.
Frustasi dengan usahanya yang belum menunjukan tanda-tanda keberhasilan, Jesslyn mengintip sebentar suasana di luar. Hah, orangnya bertambah banyak semakin membuat Jesslyn sulit bernafas.
Tunggu, ada yang aneh. Walau orangnya bertambah banyak, mereka berkelahi satu sama lain bukan lagi menyerang Anggi. Bodyguardnya sudah menepi ke tempat aman dan tergopoh masuk kembali ke dalam mobil.
Orang-orang yang menyerang pria tak dikenal beserta temannya diperhatikan mereka memakai seragam berlogo Manggala. Jesslyn bernafas lega.
"Anggi, apa ada yang terluka parah? kita ke rumah sakit ya sekarang. Aku akan bertukar posisi menyetir."
"Tidak usah Nona, saya baik-baik saja. Hanya luka kecil nanti juga sembuh. Maaf Nona, saya belum bisa maksimal menjaga Nona sehingga Nona menjadi ketakutan seperti ini." Anggi sedang merasa bersalah.
"Anggi, letak salah kamu memangnya dimana? Kita tidak tahu musibah itu kapan datangnya."
"Huh, jawabanmu membuatku semakin merasa bersalah saja. Kalau saja aku tidak keras kepala dan memutar balik perjalanan tidak akan seperti ini."
"Maaf Nona, saya tidak bermaksud seperti itu"
Tok..tok
Anggi membuka jendela, "Situasi sudah aman, kalian dapat melanjutkan perjalanan dengan putar balik. Kami akan mengikuti di belakang sampai jalan yang ramai." Ucap tim penyelamat dengan berlogo tempat Dodo memimpin.
"Terimakasih tuan, kami akan melanjutkan perjalanan dengan putar balik." Jawab Anggi, seiring lelaki itu pergi, Anggi menghidupkan mobil.
"Aku saja yang menyetir, kau kan sedang terluka."
__ADS_1
"Saya baik-baik saja Nona, terimakasih atas perhatiannya." Mobil merangkak maju diikuti pengawalan dari belakang.
"Anggi, saat kamu menemui penyerang itu, kalian membicarakan apa?" Setelah melontarkan pertanyaan, Jesslyn meneguk air mineral menghempaskan dahaga.
"Kamu minumlah dulu." Jesslyn menyodorkan air mineral baru yang dia buka dan diperuntukkan untuk Anggi.
"Terimakasih Nona"
Glek..glek..glek
Haus telah menghilang, cukup minum air dapat mengembalikan konsentrasi.
"Orang itu berkata jika oli mobil yang kita tumpangi tercecer. Seingat saya, sudah saya cek dengan benar dan teliti tidak ada masalah saat kita pergi. Saya merasa ada yang tidak beres sampai saya harus berpura-pura mengikuti alurnya."
"Oh jadi begitu, aku kira kalian saling mengenal sebelumnya. Alhamdulillah para pria berseragam itu datang tepat waktu dan membantumu, aku sangat khawatir tadi."
"Iya Nona"
Terimakasih My Dodo. Batin Jesslyn.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung