Suamiku Bukan Orang Kaya

Suamiku Bukan Orang Kaya
Kecewa


__ADS_3

"Do.."


"Ada apa pak?"


"Gua mau kasih tau ke lu, mulai hari ini kagak lagi bersihin ruang direktur."


"Oh, gitu ya pak." jawab Dodo nadanya terdengar kecewa.


"Iya Do, jadi ada perubahan jadwal. Gua udah bikin, nih gua kasih kertasnya."


Dodo menerima selembar kertas itu dengan tatapan kosong. Pikirannya sedang menjelajah tentang Jesslyn. Apa istrinya itu marah padanya?


"Terimakasih pak"


"Iya Do"


Kertas jadwal yang sudah tersusun rapi berisi tugas dan area pembersihan diselipkan Dodo di dalam tas. Ia hanya membaca sekilas


Terima kenyataan adalah solusinya, Dodo tak ambil pusing tentang perubahan yang terjadi pada Jesslyn 180°. Toh inilah yang dipersiapkan olehnya jauh setelah menikah. Dia hanya berharap Jesslyn masih mempunyai rasa kasihan untuk tidak menyeret orang tua ke dalam masalahnya.


Tapi tetap saja, pikirannya tak terlepas tentang Jesslyn.


Brugghh..


Tubuhnya menabrak seseorang, yang tak lain adalah Bram.


"Kenapa gak bersihin ruangan direktur?" Bram bertanya yang lebih condong ke sindiran. Ujung bibir sudah tertarik keatas.


"Bukan jadwal saya. Permisi pak saya mau bekerja." Dodo berlalu tak mau menanggapi Bram. Baginya berlama meladeni Bram adalah hal sia-sia. Karena bagaimana pun, Bram merangkai katanya untuk berbicara dengan Dodo sebagus apapun hanya berujung penghinaan.


"Tunggu." Bram menghentikan langkah Dodo.


"Sedikit lagi pernikahan kontrak ini akan berakhir. cuma mengingatkan aja." Bram tertawa dalam langkahnya. Meninggalkan Dodo yang sudah mengepalkan tangan.

__ADS_1


..........


Di ruang kerja Jesslyn.


Setelah serangkaian peristiwa tak mengenakan, akhirnya Dodo bisa berdiri di hadapan Jesslyn yang sedang sibuk menatap laptop.


"Non, sudah jam makan siang, saya bawakan bekal masakan saya untuk non. Tadi pagi non bahkan belum sarapan." Dodo menyerahkan sebuah kantung berisi kotak makan. Tapi tidak ada jawaban dari Jesslyn. Bahkan kehadiran Dodo bagai angin lalu yang berhembus.


"Non, jangan lupa makan ya." lirih Dodo lalu berbalik untuk keluar ruangan. Melihat peletakan barang yang tak sesuai selera Jesslyn membuat Dodo harus membenarkannya. Dia juga membersihkan bagian sudut ruangan yang masih tak enak di pandang.


Dodo menemukan penjepit rambut kesayangan Jesslyn yang sering dipakai. Bagaimana bisa benda ini bisa berada di tempat tak semestinya.


Di benak Dodo, Jesslyn pasti tadi telah meporak porandakan benda yang ada di ruangannya. Meluapkan emosi yang tak tertahan.


Dodo mengumpulkan keberanian untuk mendekati Jesslyn.


"Non, maaf." Dodo langsung memakaikan penjepit rambut itu di kepala jesslyn. Tidak peduli dengan reaksi kemarahan Jesslyn setelahnya. Di tinju dan di maki Jesslyn pun Dodo rela asal Jesslyn tak menyiksanya dengan diamnya itu.


Respon jesslyn pun tak terduga, dia hanya menjauhkan kepalanya tapi membiarkan penjepit rambut tetap terpasang. Matanya tetap tertuju pada laptop dan mulutnya tetap diam membisu. Jesslyn kini sikapnya membeku.


"Bu, sudah masuk waktu makan siang"


"Iya Bram" Jesslyn berdiri menyudahi aktivitas, lalu beranjak pergi diikuti Bram. Saat melewati Dodo yang diam terpaku, Jesslyn berhenti sebentar tapi tidak menoleh.


"Masih ada keperluan lain?" ujar Jesslyn.


"Tidak Bu, saya permisi."


Dengan adanya kehadiran Bram, Dodo lebih memilih pergi dan membiarkan kotak bekalnya teronggok begitu saja di meja.


Dodo menuju gazebo tempat dia biasa bersantai. Ada dua kontak sebenarnya yang dia bawa untuknya dan juga untuk Jesslyn. menu sederhana kesukaan Jesslyn dia buat dengan penuh kehangatan.


Ssampai saat ini, semenjak dinginnya tadi malam, Dodo masih bingung apa yang terjadi dengan istrinya. Pagi hari yang biasanya makian dan sikap manja Jesslyn menyambut, kini untuk menjawab sekadar pertanyaan Dodo pun Jesslyn enggan.

__ADS_1


Dodo mengingat baik kejadian tadi malam, dia tidak mengambil kesempatan walau situasi sudah genting. Dia bahkan memilih tidur dan tak menanggapi terpejamnya mata istrinya yang sedang menunggu.


Dodo pikir, tindakannya sudahlah benar menjaga Jesslyn agar tidak menyentuhnya. karena kebodohannya itulah, dia dalam dalam masalah besar.


Sesuap demi sesuap nasi masuk ke mulut, dikunyah dengan hati yang berkecamuk.


"Do.."


"Eh bang, makan nih."


"Iya santai, gua udah makan. Lu terusin aja."


"Iya bang"


"Do, lu kenapa?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2