
"Kamu gak bodoh, gak ada yang bodoh disini. Kamu yang sering mengajariku bagaimana kita tegar menghadapi cobaan hidup. Dan yang paling penting jangan pernah menyimpan dendam, karena cinta yang tulus tidak akan pernah mendarat sempurna diatas hati yang memiliki dendam. Itu kan yang kamu bilang?" Jesslyn mencoba meraih wajah suaminya yang mendung, menatap lekat bola mata yang sedang menurunkan gerimisnya.
"Benar" Dodo menjawab lemah, lelaki itu menundukan kepalanya malu dengan isak tangis yang masih mengguncangkan bahunya.
Sesedih ini kah kamu melihat apa yang terjadi padaku sayang.
"Sudahlah, aku tidak suka melihat air matamu." Jesslyn tetaplah Jesslyn. Sebagaimana pun manusia berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya, bukan berarti mengubah sepenuhnya karakter. Di balik kata yang terdengar tadi, jauh di lubuk hatinya bergumam lebih lembut, sudah lah sayang, aku tidak sanggup melihatmu sedih.
Jesslyn merengkuh Dodo, mengusap rasa sakit yang dialami sang suami sebisanya. Walaupun wanita itu juga terluka, namun baginya hanya luka ringan yang tak berarti. Yang sedang teramat luka, bisa jadi Dodo yang mengalaminya.
"Maafkan saya Non."
...........
Setelah selesai perawatan di rumah sakit, Dodo tidak langsung membawa pulang istrinya. Faktor masih lemahnya tubuh Jesslyn untuk melanjutkan perjalanan menjadi bahan pertimbangan. Mereka menginap di hotel hanya untuk satu malam saja.
Disana, setelah rapi membereskan yang harus di bereskan, Dodo tiba-tiba pamit ingin pergi meninggalkan Jesslyn seorang diri.
"Non, saya pamit keluar dulu. Saya sudah sewa orang untuk menjaga Non disini." bahkan Dodo pun tidak menanyakan boleh atau tidaknya ia pergi meninggalkan istrinya. Padahal untuk urusan masuk kamar saja lelaki itu selalu meminta ijin.
"Masalah kerjaan?" kata Jesslyn.
Dodo menggeleng pelan dan juga tidak berbicara sepatah kata pun. Lelaki itu hanya berbicara lewat sorot mata, berharap ijinkan saja dirinya untuk pergi.
__ADS_1
"Yasudah pergilah, hati-hati."Jesslyn mengalah.
Akhirnya, wanita itu bisa mengambil keputusan untuk bersikap dewasa demi suaminya. Mengalah baginya adalah hal yang tidak disukai. Namun kali ini ia pun tidak percaya bisa melakukan yang namanya mengalah.
Sebagai seorang wanita yang sudah ketergantungan dengan kenyamanan yang di berikan suaminya, Jesslyn tentu tidak mudah melewati hari ini sedetik pun tanpa Dodo. Bagaimana jika dia merasa takut lagi di bayang-bayangi trauma pertempuran dua kubu. Membayangkannya saja membuat Jesslyn harus menggigiti kukunya.
Selepas kepergian Dodo keluar entah kemana, ada pelayan wanita menghampiri Jesslyn dengan menu makanan yang di bawa, "Permisi Nona, ini saya bawakan menu makan siang." pelayan itu cekatan tanpa di suruh, saat tangannya sudah mau menyuapi Jesslyn, istri kesayangan Dodo menepisnya dengan alasan.
"Tidak usah di suapi, saya bisa sendiri. Saya tidak suka disuapi oleh orang lain."
"Baik Nona"
Sendok hanya berputar-putar di piring, beberapa menit berlalu belum ada satupun isi yang berkurang. Sang pelayan wanita yang mengantar makanan tadi menyaksikan iba, lalu detik kemudian ia menghubungi tuannya untuk memberikan laporan.
Tidak lama berselang ponsel Jesslyn bergetar.
"Iya, kamu dimana sayang?"
"Saya lagi di jalan. Jangan lupa makan ya Non, saya tutup dulu. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam salam." sambungan terputus, Jesslyn mulai membuka mulutnya menyambut makanan. Dikunyah dengan pelan sambil meratapi kesendiriannya.
Anggi dan Pak supir, ya ampun aku hampir melupakannya. Dimana ya mereka?
__ADS_1
"Boleh saya minta tolong?" Jesslyn menoleh ke arah pelayan wanita yang sedang menemani.
"Boleh, apa itu Nona?"
"Dimanakah Anggi dan Pak sopir?" Jika bukan orang suruhan Dodo, pelayan wanita itu pasti sudah kelimpungan dengan pertanyaan Jesslyn, ia bertanya seolah wanita dihadapannya mengenal seluruh manusia di muka bumi.
"Orang yang Nona sebutkan sedang berada di rumah sakit tempat Nona di rawat kemarin. Mereka masih menjalani perawatan intensif."
"Bagaimana keadaannya?"
"Sudah membaik, Nona tidak usah khawatir."
Syukurlah.
Sudah beres dengan urusan kabar kedua orang yang telah ikut berjasa melindunginya, Jesslyn kembali lagi termenung. Makan tak lagi berselera setelah tiga sendok suapan sudah berhasil memaksa masuk.
Do, kamu masih marah ya sama aku? sebegitu kecewa kamu sampai tega menghindar seperti ini. Atau mungkin kamu sudah berfikir untuk menggantikan ku dengan yang lain, yang lebih lembut dariku dan pengertian. Do, benar tidak seperti itu? jika iya, apa aku masih layak untuk hidup?
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...