
Di sebuah gazebo kantor tempat Dodo menyantap sarapan sudah terisi banyak karyawan yang menunggu jam masuk. Dodo pun datang dengan wajah sumringah, tapi tidak membawa bungkusan apapun seperti biasanya.
"Do, tumben lu gak bawa bungkusan?"
"Saya sudah sarapan di rumah bang."
"Sarapan bareng ibu direktur?" celetuk Salah satu karyawan yang sebenarnya tidak tahu menahu tentang pernikahan kontrak itu.
"Sarapan sendiri bang" gugup, kenapa kabarnya begitu merebak. Padahal yang tahu hanya bang Dani karyawan disana, itupun karena kepergok.
"Gak usah bohong Do, kita tahu semua."
Deg..
Terlintas nama bang Dani yang akan menjadi target pertama Dodo untuk dimintai keterangan. Kenapa Dani tidak berpegang teguh pada janjinya, janji seorang pria sejati.
Semua mata tertuju padanya, bukan tatapan menghina atau meremehkan, melainkan segan dan sungkan karena cleaning service yang sudah membersihkan area tempat mereka bekerja adalah suami dari direktur di perusahaan ini.
Mereka berfikir, apakah akan ada lagi kejutan yang akan mengagetkan publik. Bisa jadi Dodo adalah kaki tangan Artha grup, induk dari perusahaan mereka bernaung yang sedang memata-matai.
"Do, kalau gua ada salah maafin ya."
"Heh, gak sopan. Panggil bapak."
"Hah bapak? jangan. Panggilnya tuan muda."
Dodo merasa tidak enak hati, perasaannya tidak nyaman dengan perubahan sikap para karyawan.
"Panggil Dodo saja, kaya biasanya. Tidak usah sungkan."
__ADS_1
"Bener nih?" serempak mereka berkata, meminta persetujuan.
"Iya, santai saja."
Dibalik jawabannya, tersimpan gundah di hati, bagaimana dengan Jesslyn ketika mengetahui para karyawan sudah tahu tentang identitas pernikahannya.
"Do, sebenarnya lu bukan CEO yang lagi nyamar kan?" celetuk salah satu karyawan. Dengan hati-hati dia mencoba meraba ekspresi wajah Dodo.
"Bukan bang, saya benar orang biasa. gak ada penyamaran ataupun yang lain."
...........
Dodo tergopoh mencari keberadaan Dani, orang yang sudah di beri kepercayaan untuk menyimpan ceritanya. Mau melayangkan kecewa juga tidak pantas, karena manusia bukanlah tempat untuk mengadu.
Setidaknya, dengan bertemu dengannya, Dodo akan mendapat titik terang dengan tidak menduga-duga.
"bang"
"Eh lu do, gua kira siapa. Ada apa nih tumben lu nyariin gua? biasanya lu gak pernah nyariin orang."
"Boleh saya minta waktu Abang? sebentar saja ada yang mau saya tanyakan."
"Apa?"
"Para karyawan disini semua sudah tahu jika saya adalah suami Bu Jesslyn..."
"Ah, serius lu do? demi apa lu?"
Dilihat dari keterkejutan Dani, lelaki itu tidak menyangka dengan apa yang dikatakan Dodo barusan, bahkan baru tahu tentang hal ini.
__ADS_1
"Eh, kok gua jadi gak enak ya. Soalnya gua doang yang tahu nih. Tapi sumpah Do gua gak pernah cerita ke siapapun." temannya itu sampai harus mengangkat jari sumpah.
"Oh gitu ya, saya percaya sama Abang. Tapi saya jadi bingung siapa dalang dari semua ini. Memang sesuatu yang yang dirahasiakan akan terbongkar pada waktunya, tapi saya khawatir dengan kondisi mental istri saya, takut dia belum siap dengan resiko yang diterima."
"Do, kalau gua boleh saran ya, daripada sibuk nyari dalang, mending lu sebagai wayang harus bisa berdamai dengan cerita."
"Lu temuin Bu Jesslyn, bilang apa yang terjadi sekarang. Jangan sampai dia dengar dari orang lain, lu kasih dorongan semangat sama keyakinan bahwa lu selalu disisinya di saat seperti ini."
"Jangan pernah malu dengan kesederhanaan, malu itu dengan kebodohan. Jangan sedikit pun lu berfikir buat menyudahi karena kasihan sama istri lu yang dapat suami bukan orang kaya. Itu namanya kebodohan. Tetap perjuangkan cinta kalian, karena kalian gak harus hidup berdasarkan omongan orang."
"Do, gua percaya. Suatu saat nanti lu bisa bahagiakan Bu Jesslyn dengan cara lu sendiri. Semangat kawan!" memperagakan simbol semangat dengan tangan keatas.
"Kalau semua itu udah lu lewati, pasti lu tahu siapa dalang dari semua ini. Karena dia akan muncul ketika caranya tidak bisa mempengaruhi kalian."
Dodo terpaku sejenak, menarik nafas dalam.
"Terimakasih ya bang, atas sarannya."
.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa bahagia.
__ADS_1