
Sambungan telepon masih berlanjut sampai kedua kalinya, terdengar suara dering ponsel yang dari awal tidak disadari. Di telusuri, suara makin keras saat Dodo masuk ke ruang tamu.
"Iyan gak bawa hp. tumben sekali emak pergi ke bulak wa?" tanya Dodo heran.
"Iya Do, tadi tuh gua nawarin lobak sama daun labuh ke emak lu, eh pas banget dia lagi kepengen. Ajaibnya gua lupa bawa malah ketinggalan di bulak."
"Apa lu susulin aja, bilang ada neng Jesslyn disini. Pasti emak lu senang." imbuh uwa Uti memberikan ide.
"Gimana non? saya susulin emak dulu ya?"
"Kayanya gak usah deh, kita tunggu saja disini. Lagian kata uwa Uti emak lagi kepengen sayuran yang tadi disebut, biarlah. kita jangan mengganggunya."
"Iya juga sih, lagian cuma ngambil pasti gak lama. udah sore juga." uwa Uti menambahkan.
"Ya sudah kalau begitu, mari non, kita masuk ke dalam rumah kita." Dodo menyambut Jesslyn dengan senyuman.
'Rumah kita' yang dibangun dari nol dengan banyak menyimpan segudang cerita. Jesslyn masuk bersama suaminya, dahinya berkerut mengingat sesuatu.
"Bi Lilis? Dimana dia? tanya Jesslyn.
"Saya memberhentikan dia bekerja non, tapi jika suatu saat non pulang kesini, saya akan panggil kembali bi Lilis untuk bekerja disini."
"Jadi seperti itu, Hem iya iya, ngomong-ngomong masih empuk kah kasur kita itu sayang? Aku sudah lama tidak mencobanya."
Dodo tersenyum dulu baru menjawab, "Masih non, masih sama kaya dulu. Apa non mau mencobanya?"
"Boleh, jika kamu tidak keberatan." tersenyum nakal.
...........
Melihat situasi dimana keberadaan Bu Unah dan Iyan, yang katanya cuma ngambil sayuran tapi lumayan lama.
"Mak, udah selesai belum?"
"Sebentar lagi yan" Bu Unah membantu menyiram tanaman, begitu peka perasaanya sampai tidak betah jika menerima sesuatu tanpa memberi sesuatu juga.
__ADS_1
Perasaan gak enak banget nih, apa karena gak bawa hp ya.
"Yan, tumben ada di bulak?" tanya seorang tetangga yang sedang mampir.
"Iya mang, nganter emak. Mamang sendiri ada apa gerangan kesini?" tanya Iyan basa-basi.
"Ini gua mau borongin sayuran. Eh iya, tadi gua lewat rumah lu ada Dodo sama bininya."
"Ah serius mamang, jangan goroh!"
"Lah segala goroh, ngapain gua bohongin lu. Coba ge lu balik dah cek sendiri."
"Kalau begitu saya segera meluncur mang, Maaaak balik yu ada Dodo sama bininya."
"Serius?"
"Iya"
Bu Unah melempar ceret yang dia pegang, tergesa menghampiri Iyan untuk segera beranjak pulang. Mereka menaiki motor dengan terburu-buru.
Iyan menepikan motornya, membuka helm yang sedang dia pakai. Walaupun jaraknya dekat, bagi Iyan helm harus tetap dipakai. Sebab, helm berfungsi untuk melindungi kepala, bukan untuk terhindar dari sebuah pelanggaran.
Bu Unah celingak-celinguk, memperhatikan keadaan sekitar. Dia bergumam, merutuki tetangga yang sudah membohonginya. Terbukti tidak ada kendaraan Dodo yang terparkir atau wujud orangnya.
"Yan, kita dibohongin." Seru Bu Unah greget.
"Iya ini Mak, gak ada siapa-siapa."
Uwa Uti datang bagaikan pahlawan, dia membawa informasi yang sebenar-benarnya.
"Nah, tadi ada Dodo sama neng Jesslyn kesini. Tapi sudah balik, baliknya juga terburu-buru, gua juga gak tau dah kenapa." seru uwa Uti.
"Jadi bener mereka kesini, kalau tahu dari awal gua cepat-cepat balik ke rumah." ucap Bu Unah lesu.
"Gara-gara gua nah, lu jadi gak ketemu sama menantu lu. Coba aja kalau gua yang ngambil pasti gak kaya gini kejadiannya."
__ADS_1
"Ini bukan soal gara-gara siapa, emang belum waktunya aja ti. Nanti juga bakalan kumpul keluarga gua. Gua yakin itu ti, suatu saat bakal terjadi. Entah itu kapan."
Hari yang sudah mulai menggelap membubarkan pembicaraan mereka, pergantian sore menjelang malam disitulah waktu yang tidak boleh berkeliaran diluar rumah, waktu tersebut diyakini banyak sandekala sedang berkeliaran.
.
.
.
.
.
.bersambung....
Dibalik layar
Saat Jesslyn tersenyum nakal menggoda Dodo dengan perihal empuknya kasur, ponselnya bergetar.
Drrtt...drrtt...drt..
"Hallo"
Jesslyn masih menempelkan benda pipih itu di telinga, air mukanya berubah menegang. Dodo menangkap tubuh Jesslyn yang terkulai lemas, memapahnya sampai duduk di tepi ranjang.
"Tarik nafas, buang perlahan non. sebentar saya ambilkan minum."
Jesslyn gemetar, masih berusaha mengontrol keadaanya.
"Minum dulu non"
"Terimakasih."
"Ada apa non? telepon dari siapa?"
__ADS_1
"Papah.. papah jatuh di kamar mandi. sekarang sedang di rumah sakit."