
Hujan yang masih belum berhenti menyisakan cerita tersendiri. Cerita mereka yang telah di terpa badai mencoba berdamai dengan keadaan. Di tengah rintikan air yang menetes, Bu Unah dan Pak Nata bersenda gurau mengukir tawa dengan seorang cucu di tengah kehangatan cerita.
Putra, anak dari Chandra yang ditinggal sang ibu menjalani masa hukuman, bertanya menohok soal ibunya. "Nek, mamah kira-kira pulang kesini lagi tidak?" Begitu membuat Bu Unah dan Pak Nata bimbang memberi jawaban.
"Pulang gak pak?" tanya Bu Unah pada suaminya, netranya begitu bingung, ia melempar jawaban begitu saja.
"Tuh, papah balik." Pak Nata menunjuk Chandra yang baru saja tiba menepikan sepeda motor, ini yang dinamakan pucuk dicinta ulam pun tiba. Dia melepas jas hujan yang melindungi lalu tersenyum ke arah mereka.
"Putra, sudah malam kamu belum tidur nak?" Ujar Chandra langsung mengusap kepala anaknya setelah tangan penuh lelahnya itu di cium oleh sang anak.
"Putra nunggu papah, putra takut di rumah sendirian jadi tidak bisa tidur." Anak itu membawa tas ayahnya lalu di peluk. "Papah sudah makan?"
Tiga orang dewasa disana membuang muka menutupi matanya yang berkaca-kaca. Bu Unah langsung menyibukkan diri merapikan dagangannya ke dalam karena malam semakin larut.
"Papah sudah makan, kamu sudah makan belum?"
"Sudah pah, tadi disuapin sama nenek. Pah, mamah pulang kesini lagi gak?" pertanyaan itu beralih pada ayahnya. Memanglah tepat dia yang menjawab, karena dia yang akan memutuskan untuk menerima Erma kembali atau tidak.
Chandra memandang kedua orang tuanya, dari sorot mata dia ingin berbicara sesuatu.
"Orang tua bagaimana sama anak, kalau sekiranya masih mau lanjut ya silahkan, pisah juga gak apa-apa. Memang perceraian itu hal yang dibenci, tapi kalau orang tua maunya begini tapi anak ngerasa pengen begitu gak bagus juga kan kalau ada unsur terpaksa." Pak Nata membuka obrolan.
"Iya benar apa yang di bilang bapak, emak sih terserah anak saja. Orang tua ngedukung apapun keputusannya. Jangan terlalu mikirin bagaimana sama kita ya pak, kita mah gak apa-apa, benar gak emak ngomong?"
__ADS_1
"Iya benar Mak. Kita mah gak apa-apa."
Mendengar petuah orang tua, Chandra meyakinkan diri dengan keputusan yang di ambil.
Semoga ini keputusan yang terbaik. Batin Chandra.
"Mamah pulang kesini, tapi nanti kalau tugasnya sudah selesai." Chandra berucap dengan tegar, terdengar hela'an nafas orang tuanya di belakang. Hela'an bercampur dengan do'a yang terselip.
"Hore, putra jadi punya mamah lagi" seru bocah itu dengan senang.
"Lah emangnya kenapa putra ngomong kaya gitu nak? putra kan memang masih punya mamah" pertanyaan mewakili para orang dewasa disana.
"Putra di bilang tidak punya mamah sama teman-teman, karena mamah sudah lama tidak ada di rumah." Air mukanya murung, dia mengeratkan pelukannya lagi pada tas milik ayahnya sambil merunduk.
"Putra, ayo nak kita ke rumah. Ini sudah larut malam." Sang papah menggendong anaknya dengan perasaan iba.
"Mak, kasihan ya anak tertua kita. Nasibnya jadi kaya gini. Chandra walaupun sudah dikhianati, dibohongi, masih bisa memaafkan dan ngasih kesempatan."
"Iya pak, itu keputusan dia, dan kita hanya bisa berdo'a untuk kebaikan anak-anak. Kalau dia sudah bisa ngambil keputusan berarti itu sudah dipikirkan matang-matang."
Warung sudah tertutup sempurna, orang tua Dodo memasuki rumah dan beristirahat mengumpulkan energi kembali untuk menjalani rutinitas besok.
...........
__ADS_1
"Selamat pagi non"
Samar-samar Jesslyn mendengar ucapan selamat pagi. Dia mengerjap, instingnya kuat sekali jika mendengar suara yang dia hafal.
"Sayang, maaf" Jesslyn begitu kesal kepada dirinya sendiri, kenapa dia harus tidak disiplin seperti ini jika bersamaan dengan Dodo.
"Tidak usah minta maaf non, sekarang non mandi, saya sudah siapkan air hangat."
"Sayang, harusnya aku yang menyiapkan itu untuk kamu, harusnya aku sebagai istri bangun lebih awal, dan seharusnya juga aku memerankan tugas istri dengan baik."
Dodo lagi-lagi lebih memilih tersenyum dibanding marah, dia mendekat, lalu membelai rambut Jesslyn yang sedikit berantakan.
"Non, mandi dulu ya sayang, nanti saya akan ceritakan perihal yang non sebutkan tadi"
"Tapi kan sayang, seharusnya..
"Non" Dodo memotong pembicaraan istrinya, "Hidup itu jangan terlalu banyak seharusnya, saya mau bertanya serius sama non, menurut istri kesayangan saya ini tugas seorang istri itu apa saja sih?"
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...