
Waktu pulang sudah tiba, tidak ada lagi urusan yang harus di selesaikan oleh Bram kepada Jesslyn. Lelaki itu bernafas lega sekaligus kecewa setiap kali berpisah karena jam pulang.
Aku harus bangkit. Gumam Bram menyemangati dirinya sendiri.
Dia melihat jam tangannya dan waktu menunjukan pukul 7 malam. Sudah saatnya menjemput Dara di tempat kerja seperti janjinya tadi pagi.
Sementara itu di tempat Dara.
Gadis biasa saja namun terlihat manis masih duduk di bahu lantai sambil memeluk tasnya. Untuk membunuh waktu dalam menunggu, dia memainkan ponsel membuka salah satu sosial media.
Jarinya mengetikan pesan teks untuk status sosial medianya, "Rendah hatilah saat berbincang, sampai lawan bicaramu tidak menyadari kalau kau adalah orang hebat." status terkirim, senyumnya mengembang seperti habis mengerjakan karya yang begitu membanggakan.
Dara memandangi status itu lagi, kemudian timbul rasa intropeksi diri sudah benarkah dia dalam bersikap. Terkadang seseorang membuat status bijak nan elegan, kenyataannya berbanding terbalik dengan apa yang diterapkan. Seolah kata nasihat itu tamparan untuk dirinya sendiri.
Kemudian dia membuat status lagi untuk yang kedua, "selalu bersamanya adalah suatu kebahagiaan" di bubuhi lope-lope. Geli sih lihatnya, tapi kalau orang sudah jatuh cinta hal seperti ini justru bikin kesemsem sendiri.
Satu menit telah berlalu, tidak di sangka Jesslyn mengomentari status yang kedua, "Ehemm..pasti Bram ini?" Dara segera membalas pesan dari temannya itu, "Kok tau?😁" balas Dara.
"Tau lah, tunggu saja, sang pangeran akan datang sebentar lagi. Karena dia sudah kuperintahkan untuk pulang. Hehehe"
__ADS_1
"Kamu memang yang terbaik Jess."
"Kamulah yang terbaik Dara. Bisa menghargai diri sendiri tanpa harus menjadi orang lain, itu patut untuk di banggakan."
Malam semakin sepi, di tengah keasyikan Dara berbalas pesan dengan Jesslyn, lampu sorot mobil Bram sudah tampak. Security langsung membuka pintu gerbang, sudah hafal dengan rutinitas antar jemput dua manusia ini.
Dara bangun dari duduknya, melangkah dengan senang menyambut Bram yang datang menjemput. Walau dia sebenarnya pulang bekerja dari pukul 5 sore, dia rela menunggu berjam-jam tanpa mengeluh.
Mobil melaju meramaikan jalan, terjebak dalam kemacetan di lampu merah itu sudah hal biasa, walau lelah dengan pekerjaan seharian, mereka tetap jaga image dengan santai menghadapi situasi.
Di lampu merah itu, di sisi kiri jalan ada pengamen jalanan yang sudah memiliki jam terbang tinggi, terlihat dari aksinya yang sudah rapi dengan tema yang di usung.
Mereka berbaris dengan alat musik masing-masing. Menyajikan musik kontemporer dengan suara angklung yang mendominasi. Sangat enak untuk di dengar.
Tidak lama ada salah satu personil mendatangi satu persatu pengemudi sambil membawa bungkusan kosong, berharap ada yang menyisihkan sedikit rupiah untuk penampilannya.
Dara merogoh tas, mengambil uang nominal seratus ribu dari dompetnya lalu memasukannya ke dalam bungkusan plastik itu. Bram memperhatikan, di benaknya, lelaki itu terperangah atas aksi Dara barusan.
Kaca mobil tertutup kembali.
__ADS_1
"Dar, biasanya orang-orang kasih uang kecil yang mereka punya. Tapi kamu malah kasih uang terbesar yang kamu punya." Ucap Bram.
"Mereka menghasilkan seni, bagiku seni itu patut di hargai tinggi." Kata Dara menurut sudut pandangnya.
Ada sisi menarik yang tertangkap oleh Bram dalam diri Dara, wajahnya biasa saja, tapi kalau diperhatikan secara seksama Bram mendapati senyuman Dara lumayan manis. Bram tersadar saat lampu hijau menyala bunyi klakson saling berlomba.
Sampai sudah di depan rumah Dara, gadis itu pamit untuk masuk kedalam rumah, berpamitan lalu melambaikan tangan. Untuk pertama kalinya Bram merasa enggan pergi dan penasaran ingin terlibat lebih jauh gadis bernama Dara.
Sudah melambaikan tangan, Dara lalu berdiri mematung. Bram belum juga beranjak pergi menyebabkan Dara bingung harus melakukan apa lagi. Menyuruhnya mampir? sudah malam tidak enak dengan orang rumah. Menyuruhnya menginap? itu sangat tidak mungkin.
"Dar, akhir pekan kita jalan-jalan yuk ke luar kota. Mau gak?"
Dara tersenyum lebar, "Mau". Bram menyunggingkan senyum, lalu melanjutkan perjalanannya lagi.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...