Suamiku Bukan Orang Kaya

Suamiku Bukan Orang Kaya
Panggilan untuk jesslyn


__ADS_3

"Selamat pagi Bu Jesslyn" para karyawan menunduk hormat. Rutinitas yang selalu terulang di setiap harinya begitu membuat Jesslyn merasa bosan. Bahkan hari ini Dodo pun masih mengikuti sebagaimana biasanya karyawan pada atasan.


benar benar penurut. Batin Jesslyn


Tok tok tok..


"Masuk"


Dodo muncul di baliknya sambil membawa secangkir kopi. "Ini kopi pesanan Ibu, saya permisi." Dodo meletakan kopinya tanpa melihat Jesslyn. Dengan tangan yang sedang memeluk nampan, Dodo berusaha meraih handle pintu dengan tangan kanannya. Namun..


"Tunggu."


"Ada yang dibutuhkan lagi?"


"Lahan depan rumahmu kosong punya siapa?"


"Punya orang tua saya Bu"


"Ok, kamu boleh pergi "


"Saya permisi."


Jesslyn menganggukkan kepala, Ia seperti mendapat ide brilian akan rencana selanjutnya. Tidak lama berselang, Bram pun masuk ke ruangan Jesslyn. Saking tidak lama antara kedatangannya dan kepergian Dodo, mereka mungkin saja berpapasan di depan pintu.


............


Dodo sebagai pekerja yang rajin, disiplin dan punya inisiatif yang tinggi tidak harus jika pekerjaan sudah selesai ia berlenggang santai. Ketika semua jadwal dan titik pembersihan sudah beres semua, lantas ia tak tinggal diam. Taman pun menjadi incarannya kali ini, sepertinya dia tidak betah jika sebentar saja istirahat menscrol layar ponsel pada saat jam kerja.


Suara sapu lidi yang beradu dengan tanah, menyingkirkan dedaunan kering yang berserak terbawa angin. Membuat karyawan yang sedang istirahat santai tak tahan mengeluarkan kalimat indah dari mulut mengetahui siapa di balik sumber suara.


"Do, rajin amat lu. Ini kan urusannya tukang kebon." Ucap salah satu karyawan.


"Bantu sedikit doang. Lagian udah kelar bingung mau ngapain. Hehe"


"Yaelah si Dodo, ampun dah gua mah jadi orang. Badan lu pada kaku kali ya kalo lagi gak ada kerjaan." Ledek karyawan lainnya. Namun Dodo hanya tersenyum menanggapi.


"Angguran kita ngopi nyok."


"Ayo"

__ADS_1


Mereka beranjak ke gazebo untuk sekedar menyeruput kopi. Dari kejauhan, sepasang mata memerhatikan dengan tatapan tidak suka. Bram sedang menyorot mangsanya.


............


Di rumah Dodo


Jesslyn pulang terlebih dahulu daripada Dodo, tidak heran lagi baginya apa yang dialaminya sekarang. Kabar istri tak tahu, istri kemana dan melakukan apa tak tahu bahkan nomor ponselnya pun tak tahu. Karena ia sadar diri dan selalu memposisikan dirinya jauh dari kehidupan Jesslyn.


"Assalamualaikum"


"Wa'alaikum salam." Jawab serentak Bu unah, Pak Nata dan Jesslyn mengikuti. Dodo segera meraih punggung tangan orang tuanya untuk di salami. Tidak disangka Jesslyn pun meraih punggung tangan Dodo untuk di cium. Jesslyn memerankan istri terbaik di sepanjang sejarah.


"Do, sini kita kongko bareng." Ajak Pak Nata nimbrung.


"Iya pak"


"Ini kita lagi bahas bikin rumah di kebon depan. Si neng pengen bikin rumah disitu."


"Bapak sama emak sih setuju aja. Cuma maaf banget nih Do, neng, Bapak sama emak untuk sekarang ini paling bisa bantu batu bata sama genteng aja "


"Bapak gak usah khawatir, saya sudah persiapkan semua. Bapak dan emak juga gak usah repot-repot. Biarkan kami yang mengurusi semua. Iya kan a?" Jesslyn memberikan kode.


"Iya, Pak Mak Dodo sudah merencanakan ini. Emak dan Bapak gak usah khawatir."


"Syukurlah."


Setelah perbincangan selesai, tanpa aba-aba Dodo dan Jesslyn memasuki kamar bersamaan. Dodo ingin keluar lagi karena tak enak dengan Jesslyn namun segera di cegah oleh sang istri.


"Tidak usah keluar, sini saja saya mau bicara denganmu."


"Iya Bu, apa yang mau ibu bicarakan?"


"Kamu terlihat kaku dan tidak memanggil saya dengan sebutan apapun.."


"Saya takut kalau ini tidak dibicarakan dahulu takut saya melakukan kesalahan."


"Kalau gitu kamu ada ide untuk panggil saya apa?"


"Banyak panggilan untuk istri di lingkungan saya, ada sayang, beb, istriku, mamah.."

__ADS_1


"Stop, adakah rekomendasi yang lain?"


"Jelek, Nong, Nyi, Neng, ada juga Non."


"Non?"


"Iya, panjangannya Nona disingkat Non. Hanya satu orang saja yang manggil seperti itu."


"Lumayan juga. Panggil aku dengan sebutan itu."


"Baik."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2