
Dodo menangkap tubuh Jesslyn yang lemas namun masih dalam kesadarannya. Perempuan itu hanya perlu sedikit air minum untuk meredakan sebentar rasa yang bergejolak. Setidaknya dapat menenangkan Panic attack disorder yang sempat menyerang Jesslyn.
Dodo tidak sendiri. Iyan, Neneng, Chandra, Jamal, To'ing, dan Rohim yang memang sejak tadi mengikuti dari kejauhan datang membantu menenangkan Jesslyn. Setelah perempuan itu bisa menguasai lagi dirinya, mereka mundur kembali membiarkan Dodo yang akan memberikan penjelasan selanjutnya.
Jesslyn berdiri, melangkahkan kakinya yang gemetar lalu bersimpuh di dekat pusara Bu Unah yang masih harum potongan daun pandan. "Emak" lirih bibir gemetar itu berucap.
Tangannya mengusap kayu nisan yang tertulis tanggal kepergian tepat dengan tanggal dimana Jesslyn terserang masa. Tangis tidak dapat dihindarkan, walaupun sebisa mungkin Jesslyn menahan, setidaknya tidak ada raungan yang akan memperparah kesedihan.
"Emaaak.. Mak..ini Neng Mak, sudah kembali lagi. Sudah bangun. Sekarang kenapa emak yang tidur? hiks..hiks..hiks.."
"Maaak, terus Jesslyn sama siapa Mak sekarang. Pagi-pagi gak ada lagi yang nganterin sarapan, apalagi kalau Jesslyn lagi pengen makan pecak kembang pepaya, Jess harus beli dimana mak?"
"Emak...hiks..hiks..hiks..emak" Jesslyn mengusap air matanya dengan tangan yang tadi mengusap-usap tanah. Nafasnya sesegukan, wajahnya kini nampak seperti bocah habis bermain dengan alam.
"Non, sebaiknya kita berdo'a untuk emak. Ikutin saya ya." Dengan tegar Dodo menuntun sang istri untuk mendo'akan kepergian Bu Unah. Ketika manusia tidak bisa berbuat apa-apa, biarkanlah Do'a yang akan bertarung di langit, bergema mengantarkan kepergian Bu Unah, dan juga Toyib.
Jesslyn tersentak lagi, saat menemukan nama Toyib di sela Do'a yang di kumandangkan. Apa maksudnya? niat menagih penjelasan di urungkan Jesslyn sampai Do'a bersama benar-benar selesai.
Do'a telah usai, mereka mengusap wajah masing-masing.
"Kenapa?" pertanyaan satu kata yang sarat akan makna lain. Dodo mengerti jika pertanyaan Jesslyn mengarah pada nama Toyib dalam Do'anya.
"Emak pergi bersamaan dengan Toyib Non, saya pikir, perasaan gelisah saat kepergian Non ke kota B adalah perasaan kehilangan Non dan anak kita. Tapi ternyata, saya harus di tinggalkan oleh ibu dan juga sahabat."
Dodo menatap lekat manik yang masih basah oleh air mata. Dia mulai bercerita awal kejadian ini.
.
.
Kilas balik
"Kasihan ya pak, yang terjebak di rusuh orang-orang pada berantem begitu." Seru Bu Unah kepada Pak Nata yang sedang di pijitnya karena mengalami sakit pinggang. Mereka berdua menyantroni televisi tabung yang kualitasnya sudah tidak bagus lagi. Bukan tidak punya uang untuk mengganti, hanya saja televisi ini memiliki cerita tersendiri.
__ADS_1
"Iya Mak, serem amat ya. Lagian apaan sih yang pada diributin." timpal Pak Nata memberi tanggapan.
Selesai memijat sambil mengomentari berita, Bu Unah pergi ke warungnya merapikan dagangan yang hampir habis terjual. "Tumben banget ini dagang pada habis semua. Alhamdulillah."
"Eh Yib, ngapah lari-lari begitu?" Toyib yang memang sedang terburu-buru pulang ke rumah di hadang oleh Bu Unah.
"Apa? jangan cuma mangap-mangap doang Yib." gelagat aneh Toyib menarik perhatian Bu Unah, lalu ia menghampiri Toyib untuk sekedar menenangkan.
Jauh sebelum ini, kawanan Dodo cs sudah mewanti-wanti agar kabar buruk ini tidak terdengar ke telinga orang tua, entah karena apa, Toyib malah menebar bom atom yang sewaktu-waktu akan meledak.
Bagai percikan api disiram bensin, Bu Unah begitu gusar, ia terus saja memaksa Toyib untuk mengantarnya kesana.
Lagi pula, di saat yang lain langsung cabut ke lokasi kejadian, kenapa cuma Toyib yang berlari pulang dengan dalih salin baju. Pikirannya linglung. Dengan sifat Toyib yang memang kadang-kadang, kawanan Dodo cs tidak menaruh firasat apapun.
.
.
Motor melaju cepat meninggalkan Pak Nata yang sedang merintih sakit pinggang. Ia menatap nanar kepergian Bu Unah dan Juga Toyib.
Toyib tersungkur tanpa ada pergerakan lagi, Bu Unah juga terpental, namun masih bisa memanggil-manggil. "Dodo... Neng Jesslyn." panggil Bu Unah saat itu.
Separuh cerita Dodo, Jesslyn memejamkan mata merasakan perih. Lokasi mereka sudah berubah arah tepat di depan pusara Toyib. Dodo melanjutkan ceritanya lagi.
Sementara itu, Bu Unah dan Toyib di larikan dirumah sakit yang sama dengan Jesslyn yang sedang terbaring tidak sadarkan diri. Namun, cerita tidak bisa berlanjut lagi karena Dodo tak kuat menceritakan saat detik-detik dirinya di tinggal pergi, saat detik-detik Bu Unah berseru tidak kuat lagi dan ingin dituntun kalimat syahadat. Dan dunia Dodo pun hancur sehancur hancurnya saat itu.
"Non, maafkan saya yang sempat ghosting saat itu, saya cuma ingin mengantarkan emak untuk yang terkahir, dan mengumandangkan adzan di liang lahatnya." Jesslyn sudah tidak bisa bicara sepatah kata pun. Dia memeluk erat suaminya yang sempat dia curigai.
.
.
.
__ADS_1
Satu minggu kemudian.
"Non, mulai hari ini saya sudah resmi tidak bekerja lagi di Manggala. Gak apa-apa ya, kalau saya gak jadi direktur lagi. Saya sudah memilih jalan ini karena saya sadar waktu dan keluarga adalah segalanya."
"Non istri aa yang baik hati dan cantik, aa sayang banget sama Non. Aa cuma mau menghabiskan banyak waktu dengan Non. Tapi jangan khawatir saya sudah memiliki cukup tabungan untuk anak kita, untuk kesehariannya saya fokus di kolam ikan dan juga ada supermarket pemberian Tuan Niko." Dodo terus mengoceh sambil terus membuat golek dari batang daun singkong. Benda yang mampu membuat senyum pada Jesslyn di saat kehilangan dua orang yang selalu menorehkan tawa
Golek itu selalu dibuat Dodo untuk menghibur istrinya di saat kehilangan, agar Jesslyn tidak merasakan lagi bahwa dia di lahirkan hanya untuk ditinggalkan.
Dodo masih terus meracau ini itu, tanpa tahu orang yang sedang di ajak bicara berurai air mata dengan suara yang di tahan. Jesslyn memunggungi Dodo yang sedang sibuk membuat golek batang daun singkong.
"Non, gak apa-apa kan ya kalau Non punya suami bukan orang kaya?"
Kalimat yang terakhir semakin membuat Jesslyn sesegukan dalam diam, pundaknya bergetar begitu kentara hingga membuat Dodo sadar jika istri kesayangannya sedang menangis.
"Non, aa salah ya?" Dodo memeluk lalu mencium kelopak mata yang mengeluarkan tangis itu.
"Suamiku, aku gak apa-apa punya suami bukan orang kaya. Sumpah, aku sangat bahagia bisa menikah denganmu. Kamu sebenarnya adalah orang kaya yang sesungguhnya."
I always love you my husband
Kebahagian memang bukan diukur dari segi materi. Kebahagiaan bisa di ciptakan dari kita sendiri. Bersyukur misalnya, karena dengan kata itu kita tidak merasakan sempit dan selalu merasa cukup. Dan yang paling penting kita akan merasa tenang dan bahagia.
Bagi yang masih memiliki orang tua, bahagiakan lah mereka selagi ada waktu.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บsekian๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Untuk dua episode terakhir ini adalah hasil kolaborasi saya dengan author kece @nowitsrain. Dia adalah author idola๐. Terimakasih telah menjadi guru menulis untuk saya. Bagi yang mau membaca karyanya, boleh banget.
Dan untuk @dewi payang, terimakasih telah mengikuti dari awal dan menyemangati saya dalam menulis novel ini.
Sekedar promosi, saya akan melanjutkan nulis Novel yang berjudul suami idaman. sedikit cerita, bagaimana punya istri dua tapi malah jadi suami idaman wanita. yuk simak ceritanya.
Salam hangat
__ADS_1
Zenun Smith