Suamiku Bukan Orang Kaya

Suamiku Bukan Orang Kaya
Pagi yang ceria


__ADS_3

Dalam gulita malam yang sunyi,


Dodo masih terjaga, menatap langit-langit dengan segenap pikiran yang menghantui. Bahu kanannya sedang di pergunakan Jesslyn untuk sandaran tidur. Dodo menarik selimut yang melorot menampilkan bahu polos milik Jesslyn yang menyisakan tanda merah, Jesslyn pun menggeliat.


Di usap kembali wajah cantik yang sedang lelah, sejak malam panas itu, kegiatan mereka seolah kebutuhan pokok bagi keduanya. Api yang berkobar semakin membara di setiap pergantian hari demi hari.


Jesslyn sudah terlelap lagi, garis senyum tercipta efek dari mimpi indah. Dodo senang, kini melihat istrinya sudah lepas dari beban dendam membara.


Namun,


Kenapa Jesslyn tetap belum mau menemui sang ibu, bagaimana lagi Dodo harus menjelaskan jika ibunya tidak marah sama sekali, dan begitu mengharapkan kehadiran sang menantu.


Selepas berkunjung ke pasar malam tadi, Dodo berusaha membujuk sesuai apa isi pesan Iyan. Tapi pendirian Jesslyn tidak berubah, nanti dan nanti, hingga saatnya tiba.


Walaupun begitu, Dodo tidak menampilkan kekecewaan terhadap Jesslyn, dia berusaha tetap sabar hingga waktunya akan tiba. Tidak baik terlalu memaksakan kehendak.


Masih dengan mata yang segar,


Dodo teringat lagi sesuatu yang membuatnya harus berfikir untuk mempertimbangkan nya. Di pasar malam tadi, dia bertemu Rianti, nona muda Artha grup yang sama sederhananya dengan dirinya.


Bedanya, wanita itu makin bersinar dengan karisma dan kecerdasannya. Wanita manis berbudi luhur, yang tangguh dalam peristiwa yang telah menimpa, tapi siapa laki-laki itu? laki-laki yang sempat menatap Dodo dengan tatapan mengiris tulang.


Dodo mencoba mengingat-ingat, menggali informasi yang dia tahu tapi samar. Secercah titik terang muncul. Mungkinkah lelaki itu yang bernama Niko, kakak kandung tuan muda Satria yang telah ditemukan.

__ADS_1


Dalam pertemuan yang singkat itu, Rianti mengungkapkan keinginan, apakah harus Dodo mengambil langkah yang ditawarkan? bimbang, Dodo lalu memutuskan membersihkan diri di tengah malam.


Di ruang ganti, dia menggelar sajadah mengadu pada Tuhannya tentang dua pilihan. lanjut dengan suara merdu mengaji di tengah kesunyian malam.


..........


"Selamat pagi non."


"Hmm.." Jesslyn menggeliat seperti bayi, lalu menarik tubuh Dodo agar tidur kembali. Bukannya beringsut dari kasur dan lekas membersihkan diri.


"Non, bangun, saatnya mandi. Apa mau saya mandikan?"


"Hemmm" masih dengan suara parau. "Silahkan saja kalau bisa." Jesslyn jawab asal.


"Sayang, masih ngantuk tau.." protes, tapi tidak ada perlawanan berarti.


"Biar saya yang melakukannya, non kembali tidur juga tidak mengapa, itu pun kalau bisa." Dodo terkekeh saat mengucapkannya.


*A*pa kata dia, melakukannya?


Sudah segar mata Jesslyn saat Dodo membantu membersihkan tubuhnya, menggosok punggung belakang dan juga depan. Hah, benar saja, Dodo memijat dengan asyik yang katanya punggung depan.


Tidak terima, Jesslyn tersenyum jahat. Menjambak baju Dodo hingga nyaris terkoyak. Dodo kehilangan keseimbangan, tubuhnya terjerembab juga ke dalam bathub.

__ADS_1


Kegiatan menjelang pagi yang menyenangkan. Hehe


"Non, pakai handuknya."


Jesslyn mengambil handuk di tangan Dodo, setelah selesai dia tetap berdiri mematung. Dodo heran kenapa istrinya tidak ikut melangkah keluar kamar mandi.


"Gendong." mengangkat ke dua tangan seperti bocah yang merengek pada ibunya.


Lelaki itu pun menyambut bahagia kemanjaan istrinya, melakukan apa yang diminta sambil menghujani c*um di pipi mulus Jesslyn.


"Hentikan sayang, geli haha." Jesslyn terus mengoceh yang membuat Dodo bertambah level kegemasannya.


Atmosfir pagi yang begitu ceria.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa bahagia.


__ADS_2