
Staff HRD masuk keruangan jesslyn untuk menyampaikan informasi.
"Permisi bu, saya mau menyampaikan informasi mengenai pengunduran diri pak Dodo dari bagian cleaning service. Ini surat pengunduran dirinya." Staff HRD itu pun masih canggung takut salah berkata di hadapan Jesslyn, sebab mereka sudah tahu bahwa Dodo adalah suaminya.
Bram meraih suratnya, membacanya sebelum berpindah tangan pada Jesslyn. Ada seutas senyum yang tercipta di wajah.
*Heem alasannya klasik*. *Tapi kenapa Jesslyn tidak bereaksi apa-apa*.
Tidak ada raut wajah terkejut ataupun cemas. Jesslyn dengan santai mengiyakan pengunduran diri tersebut, lalu mengembalikan sepucuk surat yang tersimpan dalam amplopnya kepada staff HRD.
"Jangan lupa cari pengganti secepatnya." Jawaban yang tidak dapat dipercaya.
"Baik Bu."
Jesslyn kembali fokus pada laptop, mengerjakan proyek besar Artha grup agar berjalan dengan semestinya dengan hasil yang memuaskan. Seperti tidak ada kejadian serius yang menyita perhatian.
Ah, mungkin keluarnya Dodo dari sini semata menghindari kesenjangan sosial. Itulah yang ada di benak orang yang menjadi saksi mata langsung perihal tanggapan Jesslyn. namun, jika dilihat dari segi Bram memergoki bagaimana manisnya tingkah Jesslyn dengan Dodo saat di janitor, membuatnya harus berfikir ulang.
"Bram, tolong kamu awasi pembangunan ini dengan baik, jangan sampai ada sedikit pun kesalahan."
"Baik Bu."
Mode ketegasan dan acuh Jesslyn sudah kembali? seperti tidak dapat di percaya.
"Untuk makan siang.." Bram ragu melanjutkan.
__ADS_1
"Kenapa? teruskan kalimat mu?"
"Untuk makan siang biasanya, apa saya perlu menyiapkan seperti dahulu?" ragu-ragu.
Pandangan Jesslyn langsung terlepas dari laptop, menatap Bram yang salah tingkah.
*B*agaimanapun masakan my Dodo adalah makanan favoritku.
"Tidak usah Bram, kamu hanya bertugas dalam hal pekerjaan, bukan yang lain. Mengerti?"
"Iya Bu." pupus sudah harapannya untuk bisa lagi menyiapkan makan siang Jesslyn.
Fl****ashback****
Dalam perbincangan malam.
Jesslyn tersentak kaget, nafasnya sudah sesak menahan perih.
"Aku gak mau ada hari ini, aku gak mau mendengar kalimat itu." sudah menangis sesenggukan, "terus yang nyiapin makan aku siapa? aku gak bisa makan selain masakan kamu."
"Jauh bukan berarti saya tidak tanggung jawab, bukan berarti juga saya tidak memperhatikan istri yang sangat saya sayangi. Untuk hal itu non jangan khawatir, sesibuk apapun saya, makanan non tetap saya yang buat dengan cinta serta rasa yang tidak pernah berubah."
Kecupan sudah mendarat di bibir Jesslyn, Dodo menenangkannya lewat sentuhan.
"Kalau kamu sampai ingkar atau lupa, biarlah aku mati kelaparan saja. hiks..hiks..hiks." Memukuli Dodo dengan tidak pakai tenaga.
__ADS_1
*L*ucunya istri saya.
"Non, jika non tidak berkenan dan membuat non malah bersedih, saya siap untuk menolak tawaran nona Rianti, dan menghadapi segala konsekuensinya."
*G*ila, mau ngelawan tuan Niko. lelaki setengah manusia yang tidak punya belas kasihan. Jika dia sudah berambisi habislah kita do.
"Sayang lagian kenapa kita harus ketemu nona Rianti dan tuan Niko sih, sampai mengobrol pula. Kamu gak tau apah nona Rianti itu kesayangan tuan Niko. Jika nona Rianti kecewa, habislah kita sayang."
"Kamu terima saja, aku gak apa-apa." lanjutnya lagi. Jesslyn harus bersikap dewasa dengan tidak melibatkan kesenangannya.
"Non yakin?"
"Iya sayang aku yakin, aku yakin cinta kita bakal kuat."
"Jangan lupa pesan saya tempo hari ya non, harus selalu percaya."
"Iya suamiku." lirih.
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1
Jangan lupa bahagia.