
"Mah, putra pengen ke rumah om Dodo." rengek putra, anak lelaki Erma dan Chandra.
"Gak usah di rumah aja, ngapain kesana" sanggah Erma agar anaknya tak merengek lagi.
Tok...tok..tok..
Siapa lagi?
Erma membuka pintu tanpa melihat jendela dahulu, ia terlonjak kaget siapa yang berdiri di depan pintu sekarang.
Tidak dapat berkutik Erma mau tak mau melayani sang tamu.
"Boleh saya masuk?" pinta Jesslyn.
"Masuk aja." Erma menjawab dengan wajah khas nya ketika ia sedang korslet. tak ada senyum, wajah di tekuk dan menjawab seadanya.
Jesslyn masuk ke dalam dan menyusuri rumah Erma.
"bagus juga rumahnya, luas juga."
ih apaan si ini orang nyindir banget. batin Erma.
"Iya" Erma menjawab jesslyn namun ia langsung menghidupkan televisi, tak menghiraukan jesslyn yang sedang bertamu. sikapnya masih dingin dan tak menjamu tamu.
"Saya minta maaf sama teh Erma, kalau saya ada salah. saya perhatikan teteh beda sikap sama saya dan juga emak. kenapa? karena menurut teh Erma saya menantu kesayangan?" jesslyn to the poin yang bikin Erma menelan ludah, baru Jesslyn orang yang berani terang-terangan menyebutkan masalah.
"Gak, gak papa. orang biasa aja kok."
__ADS_1
"Yakin? saya gak bodoh kok teh. saya bisa melihat dari cara bicara dan pandang teteh ke saya dan juga emak. saya mau tanya, memang apa alasan teh Erma menuduh saya sebagai menantu kesayangan?"
"Ih apa sih, orang gak kenapa-kenapa juga."
keras kepala juga ternyata. jesslyn
"Baiklah kalau teh Erma tidak mau menjawab jujur. saya jelaskan dari bukti yang saya terima dan juga dari omongan tetangga sekitar. yang nomor satu masalah rumah, saya membangun rumah dengan modal sendiri bukan dari mertua. tadinya mereka mau menyumbang genteng dan batu bata tapi saya tolak melihat kondisi keuangan mereka."
"Bukankah rumah yang kalian tinggali ini juga rumah pemberian dari mertua. mereka yang membayari dengan cara menyicil kepada paman kan? jangan anggap saya tidak tahu. lantas kenapa harus teh Erma menciptakan berita bahwa saya dan Dodo enak sekali rumah dibuatkan mertua!"
Erma masih terdiam, baru kali ini ada yang berani berbicara ketika ia sedang korslet. sebelumnya para tetangga dan saudara sudah menciut duluan takut melihat wajah Erma yang sedang korslet.
"Yang kedua, menantu kesayangan. banyak rumor yang beredar seperti itu namun saya tak mempercayai. saya pikir hubungan saya dan emak terbilang wajar karena emak memang sama kepada kedua menantu selalu memberi makanan. sapaan pun sama, perlakuan sama. bahkan harta perhatian kepada keluarga teh Erma lebih,dan juga putra di jaga dengan baik."
"Rumah pun sudah di kasih dan hanya tinggal renovasi bukan?"
"Tidak usah menyangkal, nih buktinya. chat teh Erma dengan bibi menceritakan tentang keluh kesah."
Erma tak menyangka. seperti tercekik sebuah kenyataan memang jesslyn orang tak bisa diremehkan. yang tak bisa ia memperlakukan seperti perlakuan kepada tetangga dan saudara.
"Mak, sini masuk." ujar jesslyn sambil menuntun Bu unah dengan wajah yang pias. yang ia takutkan adalah pertengkaran antara dua menantunya itu.
Erma semakin gusar.
"Iya neng, emak mah sebenarnya gak ngebeda bedain antara neng Erma sama neng Jesslyn. semuanya emak sayang. ga ada yang kesayangan segala."
"Atuh tetangga pada ngomong kalo emak beda perlakuannya sama jesslyn. lebih istimewa."
__ADS_1
"Astaghfirullah, siapa neng yang ngomong kaya gitu?"
"Bu sarnih, sama Bu bobon. tapi emak cukup tau aja ya." Erma wajah nya merah menahan malu karena ia tidak akan menyangka masalah ini akan di rempug.
Jesslyn yang menyaksikan mengekspresikan dengan datar sambil menyilang tangan di dada. dan tersadar Dodo sedang menunggunya.
"Jika non bersedia, saya tunggu sore hari." kalimat yang memekik di kepala jesslyn.
Jesslyn meninggalkan Erma dan Bu unah yang saling berpelukan tanpa aba-aba dan tanpa permisi. setidaknya masalah korsleting hati dengan iri dengki sudah terurai.
.
.
.
.
.
.
.
.
.bersambung...
__ADS_1