
Waktu yang sudah di tentukan telah tiba.
Terangnya mentari telah mengubah gelapnya langit. Kicauan burung mengiringi kupu-kupu yang bertebangan diantara dedaunan. Dan suara gemericik air kamar mandi turut meramaikan.
Suara gemericik air di sebuah rumah yang tidak terlalu besar namun rapi dan bersih dengan satu orang di dalamnya. Orang itu adalah pemuda lajang dan bekerja sebagai asisten CEO di sebuah perusahaan.
Dia adalah Bram, selesai dengan aktivitas bermain air, dia memakai handuk dan menatap dirinya di cermin. Menggosok-gosok rambutnya dengan handuk agar cepat mengering rambut yang basah, kemudian menyisir rambutnya kesamping sampai terlihat tampan paripurna.
Setelah itu, dia lanjut menyisir alisnya yang cukup tebal agar terlihat lebih rapi, dirasa sudah beres semuanya barulah dia mengenakan pakaian. Wajah dulu dibereskan barulah mengenakan busana, itulah salah satu prinsip hidup yang sering dijalankan oleh Bram.
Sepagi ini di hari libur dia sudah rapi dan bersiap-siap. Bogor menjadi tempat tujuannya sekarang bersama Dara, dengan pertimbangan jarak dan waktu yang mereka punya.
"Dar, mau pakai mobil atau motor saja?" Bram bertanya melalui sambungan telepon, dengan tangan yang sibuk mengorak-arik telur di wajan untuk menu sarapannya.
"Kalau jalan cuma satu hari pakai mobil saja, biar tidak capek mengemudi. Nanti kan bisa gantian nyetirnya sama aku, kalau motor aku tidak bisa Bram".
"Baiklah, aku tutup dulu ya. Lagi sibuk soalnya." Tut..Tut..Tut.. sambungan terputus secara sepihak. Bram terkekeh. Sok sibuk bisa menjadikannya lebih keren sebagai lelaki, pikirnya.
"Yaaahh, gosong kan." telur milik Bram mengalami over cook. "Padahal cuma di tinggal ngambil micin sebentar, huh dasar cobaan hidup, mana telurnya tinggal satu-satunya."
Daripada frustasi memikirkan sarapan, Bram menghubungi petugas pembersih rumah untuk berbenah.
...........
Disamping itu, di sebuah kamar pengantin baru berwajah lama.
Selepas mandi subuh tadi, mereka masih asyik bermain di dalam kamar. Dodo menjadi objek keisengan Jesslyn dengan menciptakan banyak tanda merah di leher suaminya. Jesslyn ingin mengetahui bagaimana Dodo bisa keluar rumah dengan kondisi seperti itu hehe.
Dodo yang memang penyabar hanya terima saja apa yang dilakukan istrinya, dia hanya perlu berpikir lebih untuk menutupi hasil keisengan Jesslyn. Jadi tidak perlu protes, karena Dodo pun menikmati kejahilan tersebut.
"Sayang.."
"Iya Non, mau dimana lagi? disini?" Dodo sambil menunjuk bagian lain yang belum ternoda.
__ADS_1
Jesslyn terus saja tertawa kecil sambil terus melakukannya. Sampai pada akhirnya, ada yang mengetuk pintu rumah dan kemudian bersuara.
"Do.. Neng... Emak bawain sarapan, sudah emak taruh di meja makan. Jangan lupa di makan ya." Bu Unah berbicara dengan keras lalu pergi keluar lagi.
"Iya Mak" jawab serentak.
"Sayang, aku lemas tak bertenaga" Jesslyn berakting lemah, "Aku boleh minta tolong kan sayang, temui emak untuk berterimakasih?"
"Iya Non, saya yang keluar" tersenyum lalu menyambar syal yang tergantung di lemari. Dodo berlalu sambil geleng-geleng kepala, dia gemas sendiri dengan tingkah laku sang istri.
Dodo keluar sudah tidak ada Bu Unah disana, mungkin sudah kembali ke warung. Dodo ke dapur sebentar mengecek sarapan yang di bawakan sang ibu.
"Pagi pak, mau di buatkan teh?" sapa Bi Lilis.
Saya lupa jika di rumah ini ada asisten rumah tangga.
"Tidak Bi, terimakasih. Lanjutkan saja pekerjaan Bibi."
"Sayang, aku mau bulan madu." Suara cukup keras datang menghampiri dari arah kamar, Jesslyn sudah datang memeluk suaminya erat. Tidak mau menjadi obat nyamuk bakar, Bi Lilis langsung pamit keluar lewat pintu belakang.
"Iya Non, sebentar ya saya mau kabarin To'ing dulu."
.
.
Ponsel To'ing bergetar, tertera nama Bos Dodo yang memanggil. "Ya bos, bagaimana? jadi gak kesini?"
Toyib mendengar kata bos otaknya berfikir bahwa yang menelpon To'ing pagi-pagi adalah Dodo.
Masih setia menunggu pembicaraan To'ing di telepon tanpa menyela, Toyib menatap To'ing dengan tatapan sangat serius, dan sekarang malah makin serius.
Bruuuttt..
__ADS_1
Dilihat dari segi Toyib memandang, To'ing masih biasa saja. Belum ada ekpsresi jengkel yang tertangkap mata.
Benar-benar dah si Toyib. Gerutu To'ing dalam hati.
"Ok bos, nanti gua kabarin kalau ada informasi terbaru " To'ing menyudahi percakapan dan segera menutup sambungan teleponnya.
"Yib, gua boleh ngomong sesuatu gak?"
"Apa itu ing? katakanlah." Cengar-cengir.
"Kentut lu gak tau diri. Bilangin sama kentut lu itu, kalau dia mau keluar cari air dalam bak terus rendem tempat persembunyiannya sampe bunyi blubuk blubuk."
"Hehe, ing pagi-pagi jangan emosi. Mending kita sarapan yuk."
"Gak Yib, gua udah kenyang makan kentut lu."
.
.
.
.
.
Bersambung...
Pergi ke gunung ketemu Mak lampir.
Di sepanjang jalan banyak bunga kenanga.
Terimakasih sudah mau mampir.
__ADS_1
Jangan lupa untuk bahagia.