
"Salam hormat juga untuk seluruh pengikut setia Manggala." Kini penghormatan beralih pada para karyawan. Mereka masih tetap mengaktifkan mode siaga, karena bagi mereka di dunia ini tidak ada yang namanya ketulusan. Lebih banyak manipulasi yang bertebaran.
"Selamat datang untuk kalian." Dodo langsung mengarahkan tamunya menuju ruang direktur, namun sang tamu tersebut menolak dan langsung mengutarakan maksud tujuannya datang kesini.
"Maaf jika kedatangan kami membuat kalian tegang dan tidak nyaman."
Masih belum ada respon baik dari para karyawan Manggala. Salah satu mendekat, menyeret besi panjang di tangan dengan ujung yang bergesekan dengan lantai.
Koreeeetttt....
Suara mendecit bikin ngilu yang mendengar. Pergesekan itu masih berlanjut sampai orang yang menyeret tepat dihadapan para musuh. Batin Dodo, dia berharap semoga baik-baik saja.
Sangat sulit baginya mengendalikan anak buah disaat situasi bahwa dia pun belum disegani. Dia terus berpikir mencari cara sambil mengamati apa yang akan dilakukan salah satu karyawan yang maju.
"Mau apa kesini?" Tidak basa-basi bertanya, wajah cemong bercampur keringat itu sangat serius. Menghentakkan besi ditangannya ke lantai seperti sebuah ketukan.
Di tangan kirinya juga tidak kosong, ada gerinda disana dalam keadaan mati.
"Benda ditanganmu menakutinya, lihatlah wajahnya pucat sekali. Saya memberi perintah padamu untuk menyambutnya dengan baik." Titah Dodo.
Lelaki yang diperintah itu lalu menjatuhkan benda dari kedua tangannya, tidak pelan, dia melepas seperti pakai tenaga dalam, hingga menimbulkan dentuman keras mengagetkan jantung yang lemah.
Klontang....
__ADS_1
Suara itu bergema, sebagian orang mengerjap lalu memegang dada. Pul kumpul makan nasi sama garam. Ada pula dengan lantang mengucap, eh copot.
Tentu reaksi itu bukanlah dari Manggala, melainkan dari orang-orang musuh yang sedang bertamu. Sebab Manggala adalah orang-orang terlatih dan terbiasa dengan hal kekerasan. Wajah sangarnya saja sudah begitu menakutkan.
Dodo pikir, dia belumlah bisa untuk mengendalikan orang-orangnya. Namun bagi para anak buahnya titah Dodo adalah sesuatu yang harus diikuti saat ini. Lelaki itu belum menyadari jika para karyawannya telah segan dan menurutinya.
"Berhubung pemimpin kami adalah orang yang bijak. Maka saya akan menyambut dengan baik sesuai perintah. Selamat datang di gedung panas milik Manggala corp." Tidak ada menundukkan kepala hormat, hanya ucapan biasa.
"Terimakasih atas penyambutan yang sangat mengagumkan ini. Kami kesini berniat untuk menyatakan permohonan maaf selama ini kami telah mengusik Manggala dan membuat rusuh. Kami sadar akan kelemahan kami yang tidak bisa mengalahkan Manggala."
"Untuk itu kami ingin berdamai dan mengucapkan terimakasih atas kebaikan Manggala, serta menandatangani surat perjanjian."
Masih dengan respon diam. Pemimpin baru yang ramah dan berwibawa serta manis seperti Dodo, dibelakangnya berdiri jajaran anak buah saling pandang satu sama lain. Kemudian Dodo bersuara.
"Pak, apa isi perjanjiannya?" pertanyaan anak buah yang di tunjukan pada Dodo.
"Baiklah, akan saya jelaskan" Kata Dodo.
Tanpa disadari diatas sana ada sepasang mata mengintai lalu tersenyum smirk.
"Padahal seru kalau sampai rusuh dulu, Dodo ini payah terlalu lurus jadi orang" gumam Niko.
...........
__ADS_1
Belajar mati-matian untuk mendapatkan tugas seorang istri sudah membuahkan hasil. Tidak sia-sia dia mengumpulkan teori dari berbagai artikel sampai harus mandi pun membawa ponsel.
Jesslyn langsung belajar praktek dari hasil teori yang dia dapat, bangun lebih dulu, menyiapkan keperluan suami, menyediakan sarapan, makan siang lalu makan malam, melayani keinginan suami serta banyak lainnya.
Ya, itu yang dia dapat dari pertanyaan Dodo apa itu tugas seorang istri. Dan hari ini salah satunya akan di jalani, mengantarkan makan siang untuk Dodo walau bukan hasil masakannya. Untuk awal, beli dulu juga dimaklumi. Gumam Jesslyn.
Dia diantar oleh Anggi sang bodyguard. Rencana menyambangi gedung Manggala corp memang tanpa sepengetahuan Dodo, walau dia sudah di ceritakan oleh suaminya bagai mana tempatnya bekerja, seolah Jesslyn amnesia dengan cerita tersebut.
"Pakaian, makanan, ranjang, perawatan diri harus selalu tampil cantik. Apalagi ya tadi.." terus saja bergumam seperti itu.
.
.
.
Bersambung...
Bibi seperguruan : Thor, sepertinya dirimu harus banyak belajar mendeskripsikan tentang bunyi. Aku baru dengar decitan besi sama lantai bunyinya koreeeet.
Author : Harusnya seperti apa kakak? mohon pencerahannya.
Bibi seperguruan : Harusnya "peellliiiiit"
__ADS_1
Author : 😁