Suamiku Bukan Orang Kaya

Suamiku Bukan Orang Kaya
Berbagi


__ADS_3

Sudah berada di rumah makan bertema saung. Makanannya begitu lengkap dengan berbagai menu menggugah selera. Dalam kesempatan ini, Jesslyn tidak tanggung-tanggung memesan banyak porsi makanan dengan berbeda jenis.


Sambil memandangi wajah Dodo yang sibuk menata makanan yang sangat banyak itu, Jesslyn bergumam dalam hati, pasti suaminya sedang kebingungan bagaimana cara menghabiskannya. Apalagi Dodo adalah tipe orang yang tidak suka mubazir.


Di dalam pikiran wanita itu juga, ada spekulasi bahwa Dodo sedang ingin melayangkan protes namun tidak berani mengungkapkan. Dodo terus saja sibuk menata makanan di depan mata.


Dodo mengambil piring milik Jesslyn, kemudian dia menuangkan nasi dengan porsi yang sedikit. "Non mau lauk apa? Jesslyn memberikan jawaban dengan menunjuk "ini".


"Sayang, suapin aku ya." Pintanya, Jesslyn bersemangat menyambut makanan dari sang suami, sesuap makan yang disuapi langsung dengan tangan tanpa perantara sendok.


"Buat Dodo Junior" Kata Dodo di sela kegiatan menyuapi. Habis dari mulut Jesslyn kemudian giliran mulutnya.


Dodo junior yang di bahas mereka bukanlah tentang kehamilan Jesslyn, hanya saja istri Dodo tersebut memberikan istilah Dodo Junior untuk keterlambatan datang bulannya. Semoga di sebut-sebut sebagai Dodo junior menjadi sungguhan terjadi.


Setelah makan siang selesai, Dodo meminta kepada pelayan untuk membungkus makanan yang sama sekali belum tersentuh, lalu dia membayar tagihan ke kasir sambil menunggu Jesslyn kembali dari toilet.


"Sayang, ayo kita lanjut perjalanan." Jesslyn datang menghampiri Dodo yang sedang menunggunya.


"Ayo Non" lelaki itu membawa tentengan menuju motor, Jesslyn menyadari dan langsung menanyakannya.


"Sayang itu apa?"


"Ini makanan yang tadi kita pesan tapi belum sempat di makan Non." Jesslyn manggut-manggut, apa yang dipikirkannya memang benar bahwa seorang Dodo tidak akan tega menyia-nyiakan makanan.


"Tapi sayang, kita bawa motor, tidak ada ruang untuk menaruh ini semua. Jangan bilang ini di taruh diantara kamu dan aku. Aku gak mau ya di jauhkan sama kamu sedikit pun." Jesslyn berapi-api, dia tidak rela ada penghalang sedikit pun yang akan menjauhkan mereka, karena saat pergi tadi mereka lengket bagaikan perangko.

__ADS_1


"Iya non, kita gak berjauhan. Tapi saya boleh minta tolong sama Non untuk memegangi ini sebentar tidak?" Dodo memohon dengan senyuman manisnya sambil mengangkat tentengan di kedua tangan.


"Boleh, cuma sebentar kan?"


"Iya Non", sebelum menaiki motor sport merah, Dodo memakaikan dahulu helm di kepala Jesslyn. Setelahnya, Dodo naik ke motor dan meminta kembali tentengan yang tadi agar Jesslyn tidak kesulitan saat menaiki motor.


Jesslyn sudah duduk di jok belakang dan melingkarkan tangannya ke pinggang sang suami. "Non, kalau begini saya tidak bisa menyetir."


"Oh, maaf sayang, sini kembalikan padaku. Tapi janji ya cuma sebentar." menyodorkan jari kelingkingnya lalu disambut tautan oleh Dodo. "Iya janji Non."


Motor melaju meninggalkan parkiran rumah makan, saat motor hilang dari pandangan di balik gerbang, mobil yang yang ditumpangi Bram dan Dara merangkak masuk.


"Non, kakinya sedikit menjepit ya agar tidak tejatuh. Tangan Non sedang tidak bisa berpegangan, saya berusaha untuk mengendarai se pelan mungkin."


"Iya sayang"


Cara mereka menerima beragam. Tapi lebih banyak mendo'akan sang pemberi sambil tangan mengadah. Adapula saking senangnya sampai menyeka air di pelupuk mata.


Jesslyn tersentil, hatinya berdenyut melihat apa yang telah dilihat. Di balik apa yang dia makan hari ini, melimpah dan hampir saja terbuang karena tidak termakan, banyak perut yang lapar di luar sana.


Jesslyn menunduk dalam.


"Ayo Non kita lanjut jalan-jalannya, saya sudah selesai membagikan." Ucap Dodo teramat senang.


"Iya sayang"

__ADS_1


Mereka sudah berada di atas motor lagi dan siap untuk melaju. Sampai detik ini, Dodo belum menghidupkan motornya. Dia meraih kedua tangan Jesslyn lalu menariknya hingga melingkar di pinggang.


"Tidak ada pembatas lagi kan Non, jadi tangan ini bisa nyentuh dan meluk tubuh ini lagi." Ucap Dodo masih begitu sumringah.


"Jadi sebenarnya wajah sumringah kamu karena senang dengan hal ini atau senang habis berbagi?"


"Berbagi memang menyenangkan, tapi saya lebih senang jika diantara kita tidak ada jarak lagi. Seperti saat ini."


"Sayang..."


"Iya Non"


"Kayanya semakin hari aku semakin cinta sama kamu."


.


.


.


.


.


Bersambung ..

__ADS_1


Jangan lupa bahagia.


__ADS_2