
"Sudah selesai non?"
"Sudah, ayo kita pergi. Katanya kamu mau ngajak aku ke suatu tempat."
"Iya non, naik motor gak apa-apakan?"
Jesslyn menaikan alis.
"Kalau pake mobil tidak bisa masuk, kalau jalan kaki kasian non capek. Jadi satu-satunya pilihan adalah naik motor."
"Oke kalau gitu. aku salah kostum berarti tunggu sebentar aku ganti baju dulu."
"Iya non."
Dress pemberian Bu Unah memang belum dilepas sejak menjajalnya tadi. Jesslyn masih terkesima pada kebaikan bu Unah yang tulus.
"Ayo"
Jesslyn berbalut celana jeans hitam dengan kaus merah yang manis. Dilapisi jaket untuk melindungi diri dari dinginnya malam.
Malam? Jesslyn melupakan rencananya lagi yang sudah di janjikan kepada Bram. Padahal Bram hampir saja sampai ke rumah mereka.
Saat naik motor Jesslyn tak hentinya protes, karena jalan yang yang tak mulus membuat Jesslyn yang sedang di bonceng terus saja terjerembab memeluk Dodo. Hal itu tidak berlangsung lama karena, mereka sudah sampai pada tempat usaha suaminya itu.
"Do"
"Iya non"
"Ini usaha kamu?"
__ADS_1
"Iya non, maaf baru kasih tau sekarang. Walaupun ini tempat perkembangbiakan ikan, namun sebisa mungkin saya menyulap pemandangannya dengan konsep yang berbeda."
"Iya sih benar. Bagus di lihat nya pas malam gini. Kaya berasa di pinggir danau."
"do, udah berapa jenis ikan yang kamu kembang biakkan?" tanya Jesslyn
"Baru ikan mas, patin, lele, nila, mujair sama gurame."
"Hampir semua jenis ikan air tawar kamu budidayakan."
"iya non, rencana nya mau merambah ke ikan hias juga. Tapi itu masih rencana."
"Semoga kelak kamu akan menjadi orang sukses dengan caramu sendiri. Dengan kejujuran dan keteguhan hatimu aku yakin kamu bisa, bahkan menandingi ku saat ini."
"Terimakasih atas simpati non terhadap saya. Saya tidak ingin menandingi siapa pun, apalagi dengan istri sendiri. Yang saya mau usaha saya ini bisa bermanfaat bagi banyak orang, terutama orang tua, dan juga seorang istri, yaitu non Jesslyn. Saya berharap non bisa bahagia berada di samping saya."
Jesslyn tersipu, pipinya panas dengan pernyataan Dodo.
"Iya non. Hasil gaji bulanan sama hasil dari budidaya ikan ini sendiri. Awalnya memang masih kecil lahannya, itupun dulu tempatnya yang sekarang jadi rumah kita."
"Oh"
Suara gemuruh hujan terdengar mengepung. Berawal satu persatu tetesan air yang turun lalu membesar. Mereka kepegung hujan hingga Dodo membawa Jesslyn pada tempat berteduh.
Jaket yang dikenakan Dodo menutupi kepala Jesslyn. Aksi sederhana Dodo mampu menyita perhatian Jesslyn yang membuat jantungnya berdegup kencang. Sederhana namun romantis, Tapi bagi Dodo hanyalah sebuah bentuk perlindungan.
Tangan Dodo mengusap tetesan air yang membasahi wajah istrinya, tentu saja aksi tersebut melewati bab pendahuluan sebelum ke daftar isi, yang berawalan "maaf non, bolehkah saya bla..bla..bla.. " sebelum pada kegiatan inti.
"Ini tempat saya berteduh, dan juga tempat kerja saya mengelola bisnis. Lumayan nyaman walaupun tidak besar dan megah."
__ADS_1
"Bagiku ini bagus dan elegan."
"Eh maaf, gak ligat" seru pemuda yang sedang berada di sana juga.
Dodo dan Jesslyn menoleh.
"Oh ya lupa ada to'ing." Dodo mencairkan suasana.
"Do, gua ke warung dulu ya. Tiba-tiba pengen beli kuaci."
"Hujan deres, sini aja." Dodo tidak mengerti maksud sebenarnya. Dia beranggapan bahwa To'ing benar-benar ingin ke warung.
*A*staga Dodo, aku aja ngerti apa maksud orang itu. batin Jesslyn.
"Gapapa gua pake payung kok." temannya itu memberi kode keras pada Dodo lewat kedipan mata.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.bersambung...