Suamiku Bukan Orang Kaya

Suamiku Bukan Orang Kaya
Kepercayaan


__ADS_3

Jesslyn sudah terbangun dari mimpi indah, mencari seseorang yang yang semalam sudah membuatnya terbuai.


Melihat ke samping, tidak ada lagi lelaki yang sudah menghangatkan semalam. Dia lantas ingin beranjak dari tempat tidur untuk mencari keberadaannya. Namun, tubuhnya yang polos menghentikan niat, Jesslyn menarik selimutnya kembali hingga menutupi tubuh.


"Selamat pagi non."


Dodo datang dengan rambut yang basah namun sudah disisir rapi. berpakaian wangi, hingga membuatnya terlihat ganteng maksimal.


"Sayang, kamu darimana? aku nyariin kamu tau." tanya Jesslyn manja.


"Saya habis membersihkan badan. Oh ya saya sudah siapkan air hangat buat non mandi. mau sekarang mandinya?"


"Iya"


Dodo langsung mengambil posisi untuk menggendong Jesslyn. Wanita itu terkejut, kenapa dirinya diperlakukan seperti ini.


"Sayang, gak usah, aku bisa jalan sendiri. emangnya aku sedang sakit."


"Tapi kan non semalam.."


"Kenapa?"


"Maafkan saya non sudah bikin non merintih. sakit ya?"


Sudah merah padam wajah jesslyn, bisa-bisanya Dodo menanyakan hal itu dengan wajah polos. Tidak sekalian saja meminta maaf kalau sudah membuat d*Sahan.


"Gak kok, gak masalah."


"Yaudah saya gendong ya non."


"Iya sayang." pasrah sudah.

__ADS_1


..........


Kembalinya dari aktifitas mandi, Jesslyn sudah bisa berjalan sendiri. Tidak seperti tadi yang harus digendong seperti orang sakit.


Dodo sudah menyambut dengan makanan menggugah selera. Sarapan pagi yang hanya mau di makan oleh Jesslyn setiap hari. Kali ini, mereka pun sarapan bersama di dalam kamar.


"Non"


"Iya sayang, ada apa?" tangannya sibuk menyuapkan makanan ke dalam mulut.


"Emak kangen sama non."


Jesslyn tersedak, segera suaminya memberi minum agar mereda.


"Aku juga sama, nanti ya.. akan ada waktunya aku kembali kesana."


"Ada sesuatu yang memberatkan non?"


"Iya"


Sesekali, jika ada sisa makan di ujung bibir, Dodo menyeka dengan ibu jari, lalu menyuapkan makanan kembali. Dia tidak tahu jika korbannya ini sudah melayang di atas perkebunan bunga. Dan kepalanya dipenuhi kupu-kupu.


Begitu terus sampai makanan habis.


"Saya habis ini mau pamit, ikan sudah mau di panen. Saya harus kesana buat memastikan. boleh kan?"


"Iya boleh, hati-hati ya suamiku. Maaf kali ini aku gak bisa ikut."


"Iya non gak apa-apa, nanti malam saya kesini lagi. Sekalian bawa perlengkapan baju, biar besok berangkat kerja dari sini."


"Iya sayang."

__ADS_1


"Hari ini non mau kemana? atau mau dirumah saja?."


"Hari ini aku ada urusan, harus ada yang aku selesaikan. Tapi aku perginya sama Bram, gak apa-apa kan?"


"Iya non. asal non senang saya mengijinkan. tapi, jaga selalu hati non untuk saya ya."


"Iya, itu pasti. Sebab jika aku melanggar aku bakal kena pasal pelanggaran hak asasi perasaan, yang hukumannya berat, karena harus kehilangan."


Dodo tersenyum.


"Belajar darimana istriku yang cantik ini tentang pasal itu? di dalam kamus hidup saya, non selalu milik saya. Jika non sedang merasa bersalah lalu memutuskan untuk pergi, asalkan non tahu saya akan selalu memaafkan non, dan berjuang untuk kita selau bersama."


Jesslyn terharu.


"Pesan saya untuk non, jika kita sedang dijauhkan oleh jarak, non harus tahu bahwa kita selalu dekat di hati. Jika non menemukan hal aneh yang menerpa di saat situasi itu, non harus berpegang teguh pada kata percaya. Hanya kepercayaan yang bisa membuat kita utuh."


"ilInget ya non, selalu percaya sama saya. disaat genting apapun." kali ini Dodo meyakinkan Jesslyn lewat sorot mata. tangannya sudah memegang kedua pipi Jesslyn.


"Iya sayang, aku akan selalu ingat pesan kamu. Tapi, dari perkataanmu sepertinya kamu sudah tahu apa yang telah menahanku untuk tetap disini." tangan Jesslyn mengusap tangan suaminya yang sedang mendarat di pipi.


"Waktu dan keadaan yang menjelaskan apa yang terjadi. Saya akan berusaha untuk bisa hidup bahagia bersama non. Soal hasilnya, hanya tuhan yang bisa menentukan."


"Sayang"


"Iya kenapa non?"


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa bahagia.


__ADS_2