
Menunggu dua hari rasanya sudah bertahun lamanya.
Segenap kegiatan menyibukkan diri dengan pekerjaan sudah Jesslyn lakukan untuk mengantisipasi penyakit uring-uringan. Kendati apa yang sudah dilakukan tetap saja yang namanya risau tidak bisa berubah menjadi tenang.
Masih dengan masalah ponsel yang tidak bisa di hubungi, Dodo seperti hilang bak di telan bumi. Tapi masakan yang selalu dikirimkan oleh Dodo, membuktikan bahwa lelaki itu masih bernafas.
Jesslyn sedang berfikir, sikap apa yang di ambil jika hari itu tiba. Di satu sisi dia sangat merindu hingga membatin dan akan memeluknya dengan erat. Tapi dia juga ingin protes kenapa Dodo seperti hidup di jaman batu, tidak ada komunikasi jarak jauh yang berfungsi.
Ketukan pintu membuyarkan rencana yang berputar di otak.
"Buka aja gak di kunci." Teriak Jesslyn. Dia malas beranjak hanya untuk membuka pintu.
"Non"
Jesslyn seperti berhenti bernafas. matanya membulat dan ingin cepat-cepat menghampiri sumber suara.
"Sa.." langkahnya tercekat.
"Non jangan tidur malam-malam. Nanti sakit lagi." Ujar Pak Dirga dengan memakai costum khas Dodo dan logat bicara yang dimiripkan sedemikian rupa.
"Pah, sumpah... gak lucu. Itu kenapa kausnya Dodo papah pakai segala?"
"Ih, panggil aa sayang." Pak Dirga bersikukuh melanjutkan dramanya.
__ADS_1
"Pah, dodo gak pernah pakai kosakata 'ih' . dan dia orangnya tidak pernah maksa."
"Non, sini aa peluk." Pak Dirga memeluk Jesslyn serta mencium keningnya.
Jesslyn menggelengkan kepala melihat tingkah papahnya yang berusaha menghibur. Lebih baik dia juga mengikuti alur cerita, pikirnya.
"Aa sayang, kamu darimana saja sih, jadi orang susah dihubunginya."
"Iya nih, hp aa rusak non. Jadi tidak bisa di pakai. Non bobonya jangan malam-malam ya, aa soalnya tidak suka."
"Iya aa, non otewe tidur nih."
"Nah gitu dong non Jesslyn yang manis."
"Mau aa temenin gak nih tidurnya non?"
"Kok masih bertanya begitu sih, ya harus lah. setiap malam memang seperti itu." Jesslyn sudah menemukan ide jahil.
"Bagaimana kalau aa temaninya di luar saja."
"Mana bisa begitu aa sayang."
Pak Dirga tampaknya sudah tidak bisa meneruskan perannya, dia mengacak rambut Jesslyn yang sudah bisa menampakan tawa. Senang bisa melihat kesedihan anak mulai berkurang.
__ADS_1
Sebagai orang tua, Pak Dirga sudah merasa gagal di awal. Janganlah dia meneruskan kegagalannya hingga sampai akhir. Penyesalan memang belakangan, tapi kalau masih ada waktu kenapa tidak memperbaikinya bukan.
Malam yang semakin larut menjadi saksi keakraban ayah dan anak yang sempat terpisah. Sementara absen dulu kegalauan jesslyn karena Dodo, sebab sudah ada Dodo KW yang menggantikan malam yang suram.
...........
Mengintip Dodo yang sangat dirindukan.
Badan dan pikiran yang lelah menggandul pada dodo dengan langkah gontai. Menyusuri lorong gedung Manggala yang akan dipimpinnya ini.
Willy sebagai mentor sangatlah keterlaluan. Bagaimana tidak, tangan kanan tuan Niko itu sampai tidak memperbolehkan adanya alat komunikasi pada Dodo.
Dengan sifat sabarnya, Dodo mampu melewati itu. Walau tertikam rasa rindu yang sangat berat pada keluarga dan juga istrinya. Dengan segenap pikiran dan tenaga yang tersisa, Dodo sebaik mungkin berusaha menyerap ilmu yang telah diberikan, agar semua cepat selesai dan mengakhiri penderitaan orang-orang termasuk dirinya.
Sudah memasuki tahap bebas, bukan bebas dari belenggu Niko yang terlanjur cemburu buta padanya. Tapi bebas dari pelatihan ketat Willy yang terkesan berlebihan. Memang benar, walau sudah menjadi mantan mafia, tetap saja sepihannya masih ada.
Dodo berlalu mengendarakan mobil barunya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...