
Dodo merenung, merasa iba dengan cerita Jesslyn yang pilu. Tidak mudah untuk Jesslyn menjalani hidup di masa kecil dan remaja. Sampai dewasa ini bahkan dia masih terjebak rasa dendam yang membara.
"Yasudah yang terpenting kan non bisa ngelewatin itu semua. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha untuk terus berbuat baik, dan hidup lebih saling menghormati satu sama lain."
"Saya tidak membenarkan tindakan orang itu pada kakak ipar saya, maka dari itu ijinkan saya untuk membantu non mencari keadilan."
*D*o,, pelakunya itu kakak iparmu sendiri.
"Tidak usah Do, ini urusan pribadi saya."
Jesslyn tidak mau melibatkan Dodo terlalu jauh. Dengan menikahinya saja membuatnya sangat menyesal telah bermain dengan ikatan yang sakral.
Awalnya Jesslyn menikahi Dodo hanya untuk sebuah konspirasi, agar dia lebih dekat dengan keluarga Erma lalu pada akhirnya membuat perhitungan yang tidak akan pernah terlupakan.
Tapi, Jesslyn menyadari tindakannya sangat lah berlebihan.
"Do, tadi kamu manggil kakak ipar?"
"Iya,, kakak nya non kan kakak iparnya saya. ada yang salah non?"
Jesslyn tertawa kecil. Dia juga tidak tahu tertawa karena apa, yang jelas perkataan Dodo barusan tak sengaja membuat Jesslyn senang.
"Non"
"Iya do, kenapa?"
"Tidur, udah malam." perintah Dodo, dan merupakan perintah yang pertama.
"Kalau gak ada selimutnya, gak bisa tidur "
Dodo mengerti, dia langsung menaikan selimut ke tubuh Jesslyn.
"Terimakasih."
"Sudah kewajiban saya non."
"Do, emang ada ya kewajiban suami menyelimuti istrinya?"
"Menyelimuti sama dengan melindungi dari udara dingin. Dan melindungi istri merupakan kewajiban suami."
"Oh begitu, berarti menyelimuti sama juga dengan memberi kehangatan. iya gak sih?"
__ADS_1
Dodo kikuk.
"Lupakan ! kamu juga tidur udah malam, nanti kalau kurang tidur besok nyapu ngepel nya lemas lagi."
Jesslyn terkekeh sedangkan Dodo hanya tersenyum dengan manis yang membuat Jesslyn ingin melempar bantal ke wajahnya. kesal, ingin menyentuh tapi tidak bisa.
..........
Pagi hari yang sejuk dengan embun yang menetes.
"Do gimana emak? udah sehat?"
"Alhamdulillah non, sudah seperti biasanya."
"Aku mau ke warung dulu, mau ngecek perkataanmu barusan."
"Iya non."
Jesslyn ingin memastikan sendiri dengan mata kepalanya kalau mertuanya sehat. Lebih tepatnya memastikan kalau mertuanya baik baik saja jika dirinya akan menyerang Erma. Jesslyn sudah akan mengakhiri cerita manis palsu yang sangat memuakkan baginya.
"Mak."
"Eh neng, udah sarapan belum nih. Emak punya goreng nasi lempuyang."
"Saya udah sarapan kok Mak. Oh iya emak gimana keadaan? udah sehat?"
"Sudah neng, sudah sehat. neng mau berangkat kerja ya?"
"Iya mak, syukurlah kalau udah sehat, saya sekalian pamit berangkat kerja." Jesslyn mencium tangan Bu Unah.
"Oh iya hati-hati ya neng."
"Iya Mak."
Jesslyn segera membuka ponsel, mencari kontak bernama Bram.
^^^"Bram"^^^
"iya Bu"
^^^"sore ini ya"^^^
__ADS_1
"baik Bu"
Bram yang sedang dirumah bersiap berangkat menuju kantor tersenyum lebar mendapat pesan dari Jesslyn. Akhirnya pernikahan kontrak yang tidak disukainya akan berakhir.
"Bram, kamu kenapa senyam senyum begitu?" tanya Dara, wanita yang menyukai Bram dalam diam dan juga merupakan teman Jesslyn.
"Rahasia"
Dara tersenyum datar, seperti inilah perlakuan Bram terhadapnya sejak dahulu.
"Kamu ada urusan apa sepagi ini menemuiku?" tanya Bram.
"Cuma mau kasih ini."
"Terimakasih, oh ya Dara nanti sore aku ada urusan mendadak jadi tidak bisa menghadiri undangan mu. Maaf"
"Gak apa-apa kok. santai aja. kamu hati-hati berangkat ke kantornya."
"Iya"
Gak apa-apa kok Bram, sudah biasa. batin Dara.
Mobil Bram sudah memasuki lalu lalang jalanan, bersamaan dengan taxi online Dara yang datang menjemput. Dinginnya Bram sampai tak pernah menanyakan bagaimana Dara setelah ditinggal kepergiannya.
untuk sekedar mengatakan hati-hati, Bram enggan untuk berucap.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.bersambung...