Suamiku Bukan Orang Kaya

Suamiku Bukan Orang Kaya
Pertemuan kedua


__ADS_3

"Lah baru gua mau nyamperin nanya Dodo Ama jesslyn tumben belum balik. Eh udah mabur aja tuh orang." gerutu Bu Unah


Bram pergi tanpa permisi, dari gerakan tangannya sepertinya dia sedang garuk tipis-tipis karena ulah nyamuk kebun yang mengitari kulit.


Hari ini dia tidak seperti biasanya menaiki taxi online, melainkan pakai ojek online. Karena sudah tak ingin berlama di kampungnya Dodo. Satu pesan lagi masuk ke ponselnya.


"Mulai besok kamu tidak usah mengantar jemput."


*A*pa? nona serius ingin berangkat bersama Dodo sampai parkiran kantor? memangnya tidak bahaya.


"Maaf Bu, bagaimana jika para karyawan tahu tentang status pernikahan ibu dengan Dodo karena Dodo mengantar sampai parkiran kantor."


"Saya mengendarai sendiri, jangan mengada-ada."


Sekilas senyum tipis nampak di wajah Bram sepertinya dia terlihat senang dengan penuturan jesslyn barusan.


.........


Di kediaman Jesslyn.


Megahnya rumah yang sepi menyambut kehadiran gadis kecil yang pernah berlarian di taman dan menyerakan mainan, menghangatkan suasana keluarga walaupun dengan waktu yang sangat singkat.


Para pelayan di rumah itu berbinar, gadis kecil yang kini telah dewasa dengan keadaan, hari ini mengunjungi dimana tempat dia berteduh dulu. Walaupun sebenarnya banyak kenangan pahit yang ditelannya namun hal itu tidak dapat menyurutkan jesslyn untuk kembali pulang.


"Selamat malam non dan tuan" sapa pelayan.


Waktu memang sudah menunjukan gelap, karena perjalanan mereka yang panjang dan melelahkan.


Hanya Dodo yang menjawab sapaan dan memberi salam. Jesslyn berpandangan lurus melangkahkan kaki ke arah kamarnya dulu.


"Anakku."

__ADS_1


"Papah !" tak disangka ayah Jesslyn tidak kembali lagi ke luar negeri.


"Papah sejak kapan disini?"


"Sejak kamu menikah"


"Kenapa tidak kembali lagi ke rumah papah diluar sana?" sedikit terdengar pengusiran, sungguh maksud Jesslyn bukan seperti itu. dia hanya memastikan kenapa ayahnya tidak pergi lagi seperti dulu.


Pak dirga bangun dari duduknya, menghampiri jesslyn dan membelai rambutnya yang dari tadi berdiri tak menyalami orang tua.


Dodo membiarkan dulu adegan tersebut sampai benar tepat waktunya untuk memberi salam dan meraih tangan sang mertua.


"Kamu bersama suamimu juga ternyata." menyadari adanya Dodo di belakang jesslyn.


"Iya pah." jawab Jesslyn.


"Assalamualaikum pak" Dodo meraih tangan pak dirga, tangannya masih menggantung belum mendapat respon dari sang mertua.


"Pah" jesslyn melirik ke arah tangan Dodo yang dari tadi masih menggantung.


Kejadian barusan bukanlah karena kesombongan pak Dirga, dia hanya terpana melihat Dodo, masih ada rupanya pemuda yang santun seperti dirinya.


Tunggu dulu, itu merupakan penilaian yang masih terlalu dini, karena orang baik ada dua macam. Baik karena memang tulus atau baik karena kamuflase. Jika pilihan yang kedua itu terdeteksi oleh lalat maka sulit untuk meyakinkannya kalau bunga lebih indah daripada sampah.


Dodo hanya tersenyum menanggapi kata maaf dari pak Dirga, dari sikap berdirinya yang mengaitkan pergelangan tangan kiri dipegang tangan kanan, dengan posisi di depan badan serta jarak yang terlihat, membuat Dodo seperti assisten bukan suami Jesslyn.


"Kalian sudah makan?"


"Belum pah, baru aku mau ngajak Dodo makan disini. dan kebetulan papah ada disini juga. ayo kita makan bersama."


"Papah senang sekali dengarnya."

__ADS_1


Terlihat samar senyuman jesslyn, namun berhasil di tangkap oleh pandangan pak Dirga.


"Kamu bisa tersenyum lagi nak?" ujar pak dirga heran.


"Menurut papah?" jesslyn menjawab sambil berlalu dan melebarkan senyum. pak dirga sangat senang sekali.


"Siapa namamu? papah lupa."


"Dodo pak"


"Oh ya Dodo, terimakasih atas kerja keras kamu selama ini. Bukankah kamu melewati hari-hari pernikahan ini dengan tidak mudah?"


"Sudah kewajiban saya sebagai seorang suami, pak Dirga tak perlu berterima kasih dan sungkan kepada saya. mohon bimbingannya agar kelak saya tidak melakukan kesalahan dan menjaga non Jesslyn dengan baik."


*B*imbingan? aku saja gagal menjadi seorang ayah.


"Kamu panggil papah saja, tidak usah sungkan"


"Baik pah"


Obrolan yang terbilang lumayan lama membuat Jesslyn berteriak pada Dodo dan juga ayahnya. Energinya seperti sudah habis dipakai untuk berfikir dan juga marah- marah hari ini.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.bersambung...


__ADS_2