
"Coba lu telepon Dodo, dia kemana?" pinta Bu Unah pada Iyan, khawatir dengan keadaan anak dan menantunya yang tiba-tiba pergi tanpa sepengetahuan orang lain.
"Iya, saya tadi tidak bawa hp, ada panggilan tak terjawab dari Dodo." Iyan melakukan panggilan, nada sambung belum berubah dari tadi.
Panggilan pertama belum terjawab, Iyan melakukan panggilan yang kedua masih sama belum terangkat juga, pikirnya mungkin Dodo sibuk.
"Gimana Yan, nyambung?" tanya Bu Unah.
"Gak di angkat Mak, sibuk kayanya, apa masih diperjalanan. Nanti lagi saya telepon nya."
"Eh iya dah."
.............
Suasana di rumah sakit.
Dodo dan Jesslyn tiba di rumah sakit, mereka langsung menuju ruang UGD demi melihat kondisi terkini papahnya, walaupun sang pemberi kabar bilang sudah di atasi tim dokter dan menunjukan kabar membaik, tetap saja jika belum melihat masih berasa ketar-ketir.
Tiba di ruang UGD, pak Dirga tidak ada disana, Jesslyn yang masih panik hanya bertanya-tanya pada Dodo, padahal Dodo juga sedari pagi selalu bersama dirinya.
Dodo merengkuh Jesslyn, agar wanita itu merasa nyaman dan tenang, tangan kanannya berusaha menelpon seseorang untuk dimintai keterangan.
Beruntunglah ada Dodo yang tenang menghadapi situasi yang selalu ada disisi Jesslyn.
__ADS_1
"Non, papah sudah di pindah ke ruang rawat inap VIP 001, kita langsung kesana sekarang." Dodo merengkuh Jesslyn sambil berjalan.
"Kalau papah sampai kenapa-kenapa, aku sendirian." masih dengan jiwa terguncang, kejadian pembunuhan Joe masih membekas meninggalkan trauma.
"Papah baik-baik saja non. Lagian non gak sendirian ada saya yang selalu menemani."
Pintu dengan identitas yang dicari sudah tampak. Dodo terus menuntun istrinya dengan penuh kasih sayang. Mereka masuk ke ruangan dengan ponsel Dodo yang bergetar lagi. Dodo terhenti diambang pintu sedangkan Jesslyn melanjutkan langkah.
"Hallo yan, maaf saya tadi lagi di jalan."
"Do, tadi ke rumah ya?"
"Iya, sempat nunggu juga. Tapi sekarang saya lagi di rumah sakit."
"Siapa yang sakit?"
Obrolan mereka terhenti ketika Jesslyn memanggil, Dodo segera menghampiri dan menaruh ponsel ke dalam saku. Saat sudah berada di dalam, ada sosok Bram disana berdiri tegak.
Dodo menyapanya, menundukan kepala sopan tanpa harus menjatuhkan harga diri. Bram sedikit melunak, membalas sapaannya tanpa menghina walau sekedar tatapan. Seperti dahulu yang sering dia lakukan pada Dodo.
Entah memang tulus atau hanya jaim di depan pak Dirga.
Yang menjadi pertanyaan, kenapa bisa Bram bersama pak Dirga. padahal hari ini adalah hari libur, sebelumnya pun mereka tidak memiliki kedekatan.
__ADS_1
"Pah, baik-baik saja kan? Jesslyn harap semua akan baik-baik saja."
"Iya sayang, papah hanya terjatuh saja. Tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Tenang ya sayang, peluk papah sini."
Dua lelaki yang sama mencintai satu wanita, menyaksikan seorang ayah memeluk putrinya yang sedang ketakutan. Cara pandang mereka berbeda namun dengan tujuan sama, sama-sama ingin Jesslyn bahagia.
"Bram, kenapa kamu bisa ada disini?" tanya Jesslyn menyadari kehadiran lelaki itu.
"Saya yang membawa pak Dirga ke rumah sakit."
"Kok bisa?" alih-alih berterimakasih, Jesslyn malah terkejut kenapa bisa Bram yang membawa papahnya ke rumah sakit. Apakah sebelumnya Bram sedang dirumahnya dan berbincang dengan pak Dirga. Lalu membicarakan hal yang membuat Pak Dirga menjadi kepikiran.
"Pah" kini Jesslyn menatap ayahnya meminta penjelasan.
"Iya memang benar Bram lah yang membawa papah kesini, tapi papah juga tidak tahu kenapa Bram ada di rumah kita, mungkin kita bisa menanyakan pada orangnya langsung." pak Dirga memang selalu memiliki cara untuk memojokkan seseorang.
Dodo masih terdiam mengamati sekitar.
.
.
.
__ADS_1
.
.bersambung..