
Jesslyn sangat bingung dengan sikap dan penuturan Dodo, selama ini dia hanya menganggap Dodo hanya seorang pekerja yang hanya secara kebetulan bisa menikah dengannya.
Namun, pengetahuan dan tata krama yang dimiliki Dodo mampu menyita perhatian Jesslyn. Dia sangat mengenal sosok pemimpin Artha grup, atau jangan-jangan Dodo adalah orang yang diutus untuk menjadi mata-mata mengawasi kinerja Jesslyn.
Jesslyn semakin gusar.
"Non jangan khawatir, saya bukan siapa-siapa."
Jesslyn masih mendelik tak percaya, bahkan tak membiarkan Dodo mendekatinya sedikit pun.
"Do bagaimana bisa aku percaya padamu?"
"Yaudah saya cerita tentang kehidupan saya walaupun non gak minta."
"Selain menjadi cleaning service, saya juga sedang merintis usaha pengembangbiakkan ikan. Kenapa punya usaha masih mau kerja? karena usaha saya berasal dari gaji yang saya sisihkan."
"Lalu kenapa saya begitu kenal dengan pemimpin Artha grup, karena mereka adalah panutan ketika saya berbisnis. dan juga.. istri dari tuan muda Satria adalah teman kecil saya."
"Nona Rianti?"
"Iya non."
"Teman masa kecil bukan cinta pertamamu kan?" Jesslyn menggoda. Sesungguhnya Jesslyn menantikan penuturan Dodo yang terakhir ini, kenapa bisa Dodo saat berada di rumah utama tadi begitu akrab dengan keluarga Rianti.
"Bukan non."
"Terus?" Jesslyn meminta penjelasan lebih.
"Dia hanya teman kecil, lagi pula masih kecil memangnya sudah mengerti tentang cinta. kami hanya mengerti tentang permainan tradisional non. Selepas kami besar tak pernah bertemu lagi, sampai saya tahu ternyata dia menikah dengan tuan muda Satria."
"Oh begitu. menurutmu bagaimana?"
Dodo menaikan alis, mencerna dengan baik maksud Jesslyn dari kalimat ' menurutmu bagaimana?"
__ADS_1
"Sudahlah, lupakan. Do aku ingin tidur."
"Saya periksa dulu tempat tidur nya ya non."
"Iya"
Dodo membereskan dokumen yang berserak milik Jesslyn dengan susunan yang rapi. Memastikan disekelilingnya tidak ada hewan serangga yang dapat mengganggu kenyamanan serta membuat Jesslyn berteriak tengah malam.
Ketika Dodo sudah menyelesaikan tugasnya, Jesslyn segera merebahkan tubuh. Tidak ada lagi pertanyaan aneh yang ditujukan pada Dodo. Jesslyn lebih banyak diam kali ini.
Jesslyn tidur menyamping, memunggungi Dodo yang sedang terbaring membaca buku. Dodo suaminya, namun seperti bodyguard yang sedang menjaganya.
Air mata sudah turun membasahi, isaknya tertahan didada. Jesslyn tidak mau terlihat rapuh di mata Dodo.
Dodo mengetahui, saat ia menaruh buku di nakas dan hendak tidur. Punggung Jesslyn yang membelakangi jelas terlihat sedang terisak.
Sejenak Dodo berfikir apa yang harus dilakukannya sekarang. Ya memang menghiburnya adalah sebuah jawaban. tapi bagaimana dengan caranya? Dodo mengumpulkan keberanian untuk meminta ijin dahulu.
"Non" ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Hemm." untuk kata yang lain mungkin masih bergetar.
"Boleh saya memeluk non?"
"Maksud saya bukan untuk macam-macam, tapi untuk mengurangi kesedihan non." Dodo memperjelas maksudnya. Tanpa menunggu jawaban Jesslyn yang sedang kacau.
Jesslyn semakin menumpahkan kesedihannya dalam pelukan Dodo. Tidak ada omelan untuk malam ini. Dodo terus mengusap lembut kepala istrinya, merasakan bagaimana sedihnya Jesslyn saat ini.
Jesslyn membalikan badan, membalas pelukan hangat Dodo. Wajahnya terbenam didada sang suami lalu melanjutkan tangisnya. Kali ini isaknya bersuara bahkan bisa terdengar sampai keluar kamar.
Dodo maupun Jesslyn saling mempererat pelukan mereka.
Tangisnya sudah mereda, Jesslyn hampir kehabisan nafas tenggelam dalam kesedihan yang berlarut. Dodo menatapnya iba tapi tidak tahu apa masalah yang sedang di ratapinya ini.
__ADS_1
"Non, minum dulu biar baikan." Dodo menyodorkan segelas air putih. Diraih oleh Jesslyn dan meneguknya hingga tandas.
"Jika non berkenan, ceritakan masalah non pada saya agar saya bisa membantu."
"Do..."
"Iya non"
"Ketika aku sedang di rumah utama tadi, aku teringat oleh mendiang kakak. Pasti kamu baru tahu kan kalau aku sebenarnya punya kakak?"
"Iya non, laki-laki atau perempuan?"
"Dia Kakak laki-laki, dulu dia sangat menjagaku dengan baik. Hampir setiap kegiatan dan keperluanku tak pernah lepas dengannya. Aku selalu menyusahkannya dengan berbagai tugas dan masalahku."
"Hingga sampai akhirnya, pikirannya terbagi dengan orang lain."
Dodo menyimak setiap perkataan Jesslyn, dari penuturannya, Jesslyn seperti sedang akan membocorkan alasan kenapa dia menikahi Dodo, tapi masih dalam pengendalian
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.bersambung...