Suamiku Bukan Orang Kaya

Suamiku Bukan Orang Kaya
Tidak Fokus


__ADS_3

Hah, aku harus bagaimana menjalani hari di situasi macam ini.


Jesslyn masih saja meladeni kepalanya yang riuh, membuat daya fokusnya tidak sinkron dengan situasi sekitar di sepanjang pesta. Mereka memang sedikit terlambat karena tidak datang tepat saat ijab Kabul di kumandangkan, namun mereka masih memiliki cukup waktu untuk memberi selamat kepada kedua mempelai secara eksklusif.


Di sana, di ujung tempat khusus yang sudah dipersiapkan untuk menerima tamu sepenting Jesslyn, ada empat manusia bersitatap dengan pandangan saling bertembung. Dodo menjabat tangan Bram mengucapkan selamat dengan do'a yang mengalir. Setelahnya, Dodo menyapa Dara dengan santun sambil mengatupkan kedua tangan.


Begitu juga dengan Jesslyn, si manusia yang belum beres dengan urusan kenapa Neneng bisa jadi calon kakak iparnya. Ia menjabat tangan Bram dan mengucapkan kata selamat.


"Selamat ya Dar, kamu cantik sekali hari ini."


Semua mata tertuju pada Jesslyn, kemudian hening, menyembunyikan tawa di balik rongga mulut. Kapan seorang Bram berubah menjadi cantik.


"Non" Dodo menyentuh lembut pipi wanita yang telah salah memberi selamat. Jesslyn terperangah saat tahu siapa yang telah menjabatkan tangannya. "Hehe, Bram cantik." kalimat yang terlontar tanpa rasa berdosa.


Baik Dodo maupun yang lain, mereka menyunggingkan senyum yang tidak dapat diartikan. Perbincangan berlanjut sampai tahap menerawang masa lalu kemudian tergelak bersama setelah membandingkan dengan masa kini.


Bodohnya dulu.


"Ya namanya juga manusia kan, selalu punya salah dan khilaf. Yang terpenting kita bersyukur bisa tersadar apa yang telah kita perbuat sebelum semuanya terlambat. So, i think that's no too bad."

__ADS_1


"Yang di katakan Bu Jesslyn benar,"


"Stop panggil itu Bram, aku bukan lah atasanmu lagi. Kita semua adalah sahabat, tidak ada pekerjaan di tengah-tengah kita."


"Jess, terimakasih ya. Kamu memang sahabat yang paling baik, lope-lope sama Jess pokoknya." Dara merentangkan tangan menyambut peluk hangat dari sosok Jesslyn, dia tidak peduli dirinya sedang seperti apa, gaun putih pernikahan menjuntai dengan segala atributnya tidak menyurutkan Dara dan Jesslyn melakukan pelukan ala ciwi-ciwi.


Sementara itu, diwaktu yang sama dan tempat yang sama, Dodo sudah berkeringat dingin menahan rasa mual yang ingin dia muntahkan. Lelaki itu mengganggu aktifitas perempuan untuk mengatakan jika dia ingin pergi ke toilet. Jesslyn mengiyakan.


"Jess, suami kamu kayaknya sakit ya?" analisa Dara setelah melihat Dodo sudah tidak tahan lalu membungkam mulut.


"Ya bisa di bilang seperti itu" Jawab santai.


"Aku harus apa?" Katanya dengan polos. Sumpah, jawaban Jesslyn membuat istri Bram greget kepengen jitak kepalanya.


"Hehehe, selow Dar selow. Dodo hanya mengalami sebuah bukti cinta kalau pasangan itu harus berbagi senang dan susah." Dahi Dara bertaut, gadis itu tidak mengerti apa yang Jesslyn ucapkan. "Maksudnya?"


"Aku cukup memberinya ini" Jesslyn membuka tasnya, ada plastik kecil berisi buah belimbing wuluh yang dibekali ibu mertuanya saat berangkat tadi. Dara mulai mengerti dan ingin mengucapkan selamat, sedangkan Bram langsung mematahkan semangat Dara yang sedang ingin memberi selamat. Sebab kepala lelaki itu di kerubungi tanda tanya oleh perkataan Jesslyn.


"Lalu apa hubungannya dengan ini?" Bram saking penasarannya meraih belimbing itu. Dia telah menduga kalau Dodo terkena penyakit serius.

__ADS_1


"Suamiku sayang, Jesslyn sedang hamil. Mas Dodo yang merasakan ngidamnya. Nanti aku ingin seperti itu ya sayang." Dara dan Jesslyn tertawa kecil melihat ekspresi Bram.


"My Dodo sini sayang, perutmu sudah baikan?" melihat Dodo baru saja datang, Jesslyn menghampirinya untuk sekedar mengusap punggung. Setelahnya Jesslyn menyerahkan belimbing wuluh kepadanya.


"Sudah baikan Non, terimakasih." Dodo mengunyah belimbing itu dengan santai.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2