
"Pah, hari ini papah sudah boleh pulang. Akhirnya kita bisa berkumpul lagi di rumah. Yeaaay." Semangat.
"Iya nak, terimakasih kamu sudah mau menjaga papah." Pak Dirga sudah melow, matanya berkaca-kaca. Dia membayangkan bagaimana jika nanti Jesslyn kembali kerumahnya bersama Dodo.
"Apaan sih papah, Jesslyn gak denger."
Pak Dirga merengkuh putrinya, lalu mencium pucuk kepala dengan penuh kasih sayang. Walau keinginannya untuk bisa tetap bersama putrinya sampai nanti, dia juga tidak bisa melarang putrinya untuk menentukan jalan hidup sendiri.
"Pah" Jesslyn mengusap air mata seorang ayah yang jatuh karena bahagia. Kata orang, Ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuan. Namun di dalam benak Pak Dirga Dirinya adalah patah hati pertama untuk Jesslyn.
"Pah, kok tambah deras. Kenapa? Papah jangan kaya gitu. Anak papah gak kemana-mana masih sama papah." Sok tegas demi menutupi air mata yang akan jatuh.
Sambil menahan tangis, sambil meringis. Lanjut Jesslyn mencengkram perutnya yang kram.
"Kenapa nak? Kamu sakit?" Pak Dirga ingin meraih tombol panggilan namun di cegah.
"Tidak usah pah, perut aku cuma kram sedikit saja."
"Kamu jangan-jangan hamil?" Pak Dirga menerka.
"Aku lagi haid pah. Dodo juniornya gagal lagi gagal lagi. Hehe, apa aku sama Dodo salah bikinnya ya?"
"Ngawur kamu, yang menciptakan itu Tuhan. Kamu itu cuma usaha, berarti usaha kamu ada yang salah kali. Hehehe."
"Emang yang benar caranya bagaimana pah?"
Krik...krik..krik... senjata makan tuan.
__ADS_1
Di tengah keheningan Jesslyn menunggu jawaban ayahnya, notif pesan masuk ke ponsel.
"Non, nanti akan ada pengawal yang menemui. Saya yang mengirimnya untuk keamanan non."
^^^"Tidak cukupkah jika kamu saja yang menjagaku?"^^^
"Untuk saat ini saya hanya bisa menjaga hati non, tidak dengan keamanan."
^^^"Dih My Dodo udah bisa gombal😁"^^^
"Gombal? point mana yang menyatakan saya gombal non?"
Pesan masih belum terbalas, karena Jesslyn sedang tertawa dengan pesan Dodo.
"Non, maaf"
Masih belum terbalas juga, pesan pun berubah menjadi panggilan. Sayangnya, ponsel sudah berada di dalam tas, dan Jesslyn sedang bertegur sapa dengan seseorang yang telah di kirim Dodo.
"Nak, kamu sewa pengawal untuk keamanan kita?" Tanya pak Dirga.
"Tidak pah, ini ulah menantu kesayangan papah. Sebentar, aku mau angkat telepon dulu."
Panggilan ke lima barulah di jawab oleh Jesslyn.
"Iya sayang ada apa?"
"Non saya bingung dimana letak saya gombal? saya salah ya?"
__ADS_1
"Iya salah, kenapa kamu kirimkan pria tampan sebagai pengawal ku? Katanya mau menjaga hati? nanti kalau aku kecantol pengawal ku sendiri bagaimana?" Jesslyn membekap mulutnya, dia tergelak dalam sunyi. Tidak sabar mendengar reaksi kaku seorang Dodo.
Aku yakin dia akan minta maaf lagi dan menyesali perbuatannya, bahkan dia akan menanyakan dimana letak.. letak apa ya?
"Maaf non sebelumnya"
Tuh kan, tuh kan, apa aku bilang hehe...
"Pengawal yang saya kirim itu wanita, namanya Anggi kan? dia memang seperti itu penampilannya, tomboy. Suaranya juga berat sampai rambut saja di potong menyerupai laki-laki."
"Benar Anggi kan namanya non?" Dodo memastikan bahwa pengawal yang dia kirim memanglah benar suruhannya.
Jesslyn ternganga, di lanjut Pak Dirga tergelak memenuhi ruangan.
"Hahahaha"
"Anggi?"
"Iya nona"
Jesslyn menghela nafas sambil mendengarkan Dodo di seberang sana mengoceh, mengucap syukur karena itu memang benar orang suruhannya.
"Non, sabar ya. Saat ini saya memang tidak bisa menjaga keamanan non, pas pulang nanti baru bisa. Sekarang saya hanya bisa menjaga hati untuk selalu jujur dan untuk selalu berprasangka baik."
Jesslyn semakin menciut, pantas saja dari tadi Dodo menanyakan dimana letak gombal. Karena bagi Dodo, gombal merupakan definisi dari bualan romantis yang bersifat goroh hehe.
Sepertinya besok-besok aku akan banyak makan ikan agar lebih cerdas. Gumam Jesslyn.
__ADS_1