Suamiku Bukan Orang Kaya

Suamiku Bukan Orang Kaya
Titik terang


__ADS_3

Matahari sudah menampakan warna jingga, hewan ternak peliharaan berbondong-bondong kembali pada kandangnya, menghadang laju motor Dodo yang kembali dari bekerja.


Motor berhenti tepat di depan warung, menyalami Bu Unah yang sedang masak di dalam. Harum semerbak jengkol balado menggelitik perut. Sayangnya, Dodo sedang kehilangan selera makan.


Dia sangat berharap bertemu Jesslyn dan membicarakan apa yang seharusnya di bicarakan. Soal bagaimana Jesslyn terima atau tidak itu urusan belakangan. Pikirannya sangat tidak tenang dengan hati yang gelisah.


Seharusnya dia tidak sebodoh ini, yang mengakibatkan situasi menjadi keruh. Dodo sangat takut Jesslyn akan bersikap di luar batas dengan menyeret orang tuanya ke dalam masalah.


Kecemasannya terlihat jelas dari caranya menghubungi Jesslyn. Berulang kali lelaki itu melakukan panggilan yang sama. Beruntung, akhirnya terangkat juga.


"Non, masih dimana? saya tunggu di rumah, ada yang mau saya bicarakan."


"Bu Jesslyn sedang sibuk, jika ada yang ingin si sampaikan, katakanlah." Bram menyahut. membuat Dodo semakin pias, apakah tidak ada kesempatan lagi untuk dirinya berbicara.


Hari pun semakin meredup, Dodo masih merengkuh lutut dengan posisi yang sama, menatap jauh kedatangan Jesslyn agar dirinya bisa berbicara mungkin untuk yang terakhir. Karena dia sudah menangkap sinyal bahwa Jesslyn akan menuntaskan tujuan pernikahan kontrak ini.


Lampu sorot mobil sudah nampak, ada secercah bahagia yang terasa ketika penantian berbuah hasil.


"Non" lirih


Jesslyn melengos menundukan pandangan. tidak berani menatap wajah Dodo yang polos, karena itu akan membuatnya sakit.


"Ada perlu apa?" menjawab tanpa menoleh.

__ADS_1


"Saya mau bicara, sebentar saja." matanya melirik Bram agar lelaki itu bisa memahami dan menjauh dari Dodo dan Jesslyn, tapi kenyataannya Bram masih diam tak bergeming.


"Biarkan saja dia disini, kalau kamu mau bicara, katakanlah." Jesslyn paham arti lirikan Dodo.


"Saya minta maaf atas kejadian semalam. seharusnya saya tidak seperti itu."


Bram rahangnya sudah mengeras, dengan spekulasi bahwa seorang cleaning service di hadapannya telah menyentuh wanita yang disukai. Dia sudah salah paham.


"haha, menyedihkan. Yang kamu lakukan sudahlah benar. Bukankah begitu menurutmu?" getir memang, tapi gadis itu masih mampu menampakan senyum yang dipaksakan.


"Aku nya aja yang salah mengartikan Do." lanjutnya lagi.


"Non tidak salah, sama sekali tidak salah mengartikan."


"Bu Jesslyn, para saksi yang telah di datangkan sudah tiba." Bram mengacaukan.


..........


Jesslyn mengumpulkan semua orang, untuk menunjukan siapa Erma sebenarnya. semua bingung melirik satu sama lain. tapi tidak ada yang bisa memberi bocoran ada apa sebenarnya.


"ada apa ini?" Erma memulai pembicaraan. dirinya sudah merasakan aura yang tidak enak.


*B*aguslah wanita sialan itu yang bertanya dahulu. bukan Bu unah yang membuat aku tidak akan bisa menjawab.

__ADS_1


"Hai Erma, rupanya kamu hidup dengan baik ya selama ini."


"Maksudnya apa ya, teteh gak ngerti?"


"Kalian pasti bertanya-tanya kenapa saya kumpulkan disini. Lihatlah wanita yang bernama Erma ini, dia adalah selingkuhan kakak saya."


"Eh Jesslyn apaan sih lu, kalau ngomong jangan sembarangan." Erma marah, sikap aslinya terkuak.


"Saya tidak sembarangan, mau buktinya? silahkan. Bram tolong berikan pada mereka."


Map coklat rahasia dikeluarkan, isinya berupa foto kebersamaan Erma dengan Joe, waktu dan tempat tentunya dengan status Erma sudah menikah.


Mata Bu unah mulai memerah, tangannya bergetar. Dia tidak tahu harus bagaimana menanggapi, yang pasti perasaannya malu dan hancur, menantu yang selalu dia jaga dan banggakan adalah orang jahat yang bersembunyi di balik sikapnya yang manis.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2