
Semua sudah di pastikan setelah Jesslyn menjalani serangkaian pemeriksaan ultrasonografi. Kantung janin sudah terlihat beserta buah cinta mereka yang masih sebesar biji kacang hijau.
Dan sekarang, hari ini, sudah resmi dinyatakan bahwa Jesslyn betulan hamil selepas kembalinya mereka dari kunjungan ke dokter kandungan. Jika sebelumnya Dodo selalu mencumbu, beda halnya dengan sekarang, ia lebih membatasi diri dengan lebih banyak memeluk mengalirkan kehangatan. Calon ayah tersebut juga memprotektif pergerakan sang istri, maklum ini merupakan kehamilan pertama yang sudah di nanti-nanti.
"Sayang" Jesslyn memanggil suaminya saat melihat Dodo baru saja menampakan diri sehabis kegiatan membersihkan badan.
"Iya Non, istri aa sedang butuh apa? biar saya yang siapkan." lelaki itu mengibaskan rambutnya yang basah, kemudian menggosoknya dengan handuk secara perlahan.
"Tolong ambilkan sisir rambut di sebelah sana yang warna ungu muda."
Untuk apa Jesslyn meminta sisir, keadaan rambutnya saja sudah tertata rapih dengan kepangan pinggir yang cantik berbalut jepitan rambut dari my Dodo.
"Ini Non."
"Merunduklah sayang, aku pengen sisirin kamu. Boleh kan?" Matanya berbinar penuh harap seperti tahanan meminta ampunan untuk bebas.
"Boleh"
Yang rambutnya mau di sisir menjatuhkan tubuh duduk di kursi rias, lalu memutar pinggang ramping dengan perut yang masih rata untuk menghadapnya.
Jesslyn mulai menggunakan sisir sebagaimana fungsinya, merapikan rambut Dodo dengan gerakan yang sangat lembut, dari kiri bermuara ke kanan. "Tampan" kata yang keluar setelah kegiatan itu berakhir.
"Terimakasih Non"
"Sama-sama sayang, semakin hari berganti yang kita lewati bersama, aku semakin bersyukur bisa memilikimu selama ini. Sayang, jangan pernah berubah ya, selalu seperti ini sampai kapan pun." Jesslyn tersenyum mantap. Menatap kelat kening yang mulai menghitam lalu mendaratkan cium bermakna dalam.
__ADS_1
"Kenapa wajah Non gelisah?" si suami siaga menangkap air muka gusar istrinya ketika tatapan sendunya berhasil bertembung dengan manik bening milik Jesslyn.
"Aku.."
"Aku.."
Masih dengan sabar Dodo menunggu apa yang mau dikatakan, wanita itu masih mengatakan kosakata satu huruf berbunyi aku. Entah sampai kapan berkembang menjadi beberapa kata membentuk kalimat jika Dodo tidak memeluknya erat.
"Ada apa sayang?" kini mereka berbicara bukan lagi dengan tatapan bertembung, mereka saling membelakangi pandang dengan memperdengarkan deru nafas masing-masing. Mungkin dengan cara ini mampu membuat Jesslyn tidak kesulitan untuk mengolah kata.
"Aku hampir celaka kemarin saat mengunjungi proyek Tuan Niko yang hampir selesai. Ada Bram yang menolongku sampai kami harus berpelukan. Sungguh aku tidak sengaja." saat penekanan kalimat terakhir Jesslyn semakin mengeratkan pelukannya.
"Non jangan khawatikan saya. Saya tahu Pak Bram hanya menolong tanpa adanya niatan untuk memeluk Non. Untuk hal ini saya juga sudah menegur Anggi kenapa dia tidak bisa menjalankan perintah saya untuk selalu ada disisi Non."
"Jadi..."
"Do.."
"Iya Non"
"Maaf, mungkin aku sudah kebiasaan." Hanya itu yang menjadi satu-satunya alasan kenapa dia lebih memilih minta tolong Bram ketimbang berbicara pada Dodo suaminya.
Helaan panjang terdengar dari belakang, hatinya terasa nyaman saat punggungnya di usap oleh sang suami. Bukannya marah tapi malah berusaha untuk membuat Jesslyn nyaman. Jesslyn juga tidak selugu itu, dia mampu menangkap gerak gerik Dodo jika lelaki itu telah kecewa kepadanya.
"Sayang maafkan aku ya, aku janji tidak mengulanginya lagi."
__ADS_1
"Iya Non saya sudah memaafkan Non jauh sebelum ini. Maafkan saya juga yang belum bisa tegas."
Hati Jesslyn mendesir hebat, dia tentu mengerti apa maksudnya, sangat mengerti. Memang sudah saatnya dia bisa mengambil keputusan untuk permasalahan yang tidak akan berujung.
..........
Bram tersenyum samar saat dirinya dengan tenang membaca sebuah surat yang diberikan oleh bosnya, Jesslyn Andara.
Sudah sangat jelas tertulis bahwa Bram akan di mutasikan menjadi wakil direksi di perusahaan masih satu perhimpunan Artha grup. Dia tidak lagi menjabat sebagai asisten Jesslyn yang dilakoninya selama bertahun-tahun.
"Terimakasih Bu." Kata Bram sangat aneh, sebelumnya dia tidak pernah bermimpi untuk berhenti menjadi asisten Jesslyn. Tapi hari ini kenapa dia mengucapkan terimakasih.
"Untuk apa? untuk ilmu yang telah saya berikan? itu sudah kewajiban saya Bram."
"Untuk itu, dan untuk yang lain yang lebih penting "
"Apa?"
"Ibu telah membebaskan saya dari perbuatan yang akan mencelakai banyak perasaan. Saya orang yang tidak berpendirian. Keputusan ini sangat tepat untuk saya terima."
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...