Suamiku Bukan Orang Kaya

Suamiku Bukan Orang Kaya
Pengakuan


__ADS_3

"Silahkan dinikmati, anggap saja ini permintaan maaf atas ocehan saya yang tidak menghargai hasil kerja keras kamu selama ini."


"Sekali lagi saya ucapkan terimakasih, karena kamu telah mencari keadilan untuk kak Joe."


Tuh kan, ini adalah buah dari kesabaran. Coba kalau tadi aku menepis ocehan Jesslyn sudah pasti akhirnya gak bakalan kaya gini. Dodo emang panutan. Bram bergumam dalam hati.


"Sama-sama Bu, memang saya yang salah terlalu percaya diri dan tidak tahu diri. Saya sangat menyesali apa yang telah saya perbuat "


"Bu Jesslyn, Pak Dirga masuk rumah sakit gara-gara saya. Pada saat itu...." Bram memulai cerita.


Flashback


"Bram, Jesslyn sedang bersama Dodo keluar. Ada perlu apa ya? pekerjaan kah?" tanya pak Dirga sambil menyesap kopi.


"Bukan"


Pak Dirga masih menyimak, karena yang terlontar adalah kata bukan maka Pak Dirga menunggu kelanjutan. Tapi Bram menggantung kalimatnya.


"Lalu?"


"Saya kesini bukan untuk menemui Jesslyn. Saya kesini mau menemui Bapak." Jawab Bram masih menyisakan tanda tanya.


"Kesini menemui saya bukan karena hal pekerjaan?"


"Iya benar, saya mohon dengan sangat pak, coba pertimbangkan kelanjutan rumah tangga antara Jesslyn dengan Dodo. Mereka hanya menikah karena kontrak pembalasan dendam. Saya yang mengurus semua itu dari awal."

__ADS_1


Pak Dirga menghela nafas.


"Pak Dirga selaku orang yang paling tahu dan memahami Jesslyn, tidak akan mau putrinya akan salah mengambil langkah kan, Jesslyn hanya merasa terbuai dengan keadaan. Saya takut kebaikannya akan di manfaatkan oleh Dodo dan keluarganya."


Pak Dirga semakin tidak enak diam, dia menggerakkan ke kanan dan ke kiri kepalanya yang dirasa sudah menegang. Tekanan darahnya jika di tensi mungkin sedang naik.


"Bram, kamu sadar apa yang kamu ucapkan?"


"Sadar pak" Kalimatnya berbumbu keraguan.


"Kalau sadar kamu tidak akan bicara seperti ini, asal kamu tahu, orang yang paling tahu dan memahami Jesslyn bukan saya tapi dirinya sendiri."


"Bram, cobalah kamu berusaha menerima keadaan dan mau mengenal Dodo. Jangan kau jadikan kekalahanmu mendapatkan Jesslyn menjadi rasa kebencian yang amat besar tanpa berdasar, sehingga hati nurani kamu tidak mau menerima segala bentuk positif dari Dodo."


"Tapi pak, bagaimana dengan saya? apakah saya tidak pantas untuk dicintai Jesslyn?" Ada sorot mata sedih bercampur kecewa yang di tangkap pak Dirga.


"Kamu pantas dicintai, sangat pantas." Pak Dirga beralih memijat pelipisnya.


"Bram, terimakasih atas apa yang kau lakukan pada keluarga saya. Saya sangat mengapresiasikan itu. Dan apakah kau sudah tahu orang yang menyelamatkanmu saat di hari pemukulan itu?"


"Maksud papah?" Pak Dirga menajamkan matanya saat mendengar panggilan. "Maksud saya, Pak Dirga. Maaf." Bram menyadari dan langsung mengambil sikap.


"Saat kau mabuk karena Frustasi, kau diserang oleh kawanan pembuat onar, mungkin kau hampir di rampok. Kau tahu siapa yang menyelamatkanmu?"


"Tidak, saya belum mencari tahu. Tapi saya akan mencari tahu. Atau orangnya adalah Pak Dirga?"

__ADS_1


"Hahaha, sayangnya bukan. Orang itu adalah Dodo."


Bram menggeleng tidak percaya.


"Saya juga tahu kalau kamu hampir memukuli Dodo, tapi Dodo tidak membalas perbuatanmu, dia diam dan hanya menghentikan."


Bram memucat. Pak Dirga juga tak kalah pucatnya. Dia bangun dari duduk hendak pergi ke kamar mandi.


Dari awal beranjak, Pak Dirga memang sudah sempoyongan.


Flasback berakhir.


Jesslyn mematung mendengar cerita Bram, ramahnya berubah lagi tapi sebisa mungkin waniti itu akan bersikap tidak di luar batas.


"Bu, maaf. Saya siap menerima konsekuensi atas kelancangan saya apapun itu. Walau saya harus di pecat jadi asisten Bu Jesslyn sekalipun." Bram merunduk.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2