
Walau mendapat pertanyaan secara tidak langsung, Bram masih enggan untuk menjawab.
Persoalan Bram untuk detik ini dikesampingkan, yang penting adalah kesehatan pak Dirga terlebih dahulu. Dodo menyapa sebentar sang mertua, setelahnya dia mendapat telepon lagi.
"Maaf saya ijin keluar sebentar, nanti saya akan kesini lagi." ujar Dodo, dari gerak geriknya Dodo sedang terburu-buru.
"Iya nak silahkan." jawab pak Dirga.
"Sayang, kamu mau kemana?" Jesslyn gusar, dia bahkan sudah tidak bisa berjauhan dengan Dodo.
Dodo mendekatinya, lalu berucap dibelakang telinga, "Keluarga saya datang kesini mau menjenguk papah." Jesslyn menegang lagi, lalu menganggukan kepala tanda setuju.
.............
Di lobi rumah sakit.
"Do..."
Panggil Bu Unah mendapati Dodo sudah terlihat batang hidungnya. Tidak hanya Bu Unah, disana juga ada Pak Nata dan Iyan, tapi tidak dengan Chandra.
Dodo memberi salam, lalu mencium tangan kedua orangtuanya. Dia lantas mengambil alih barang bawaan berupa buah dan membawa keluarganya menuju kamar Pak Dirga.
Deg
Deg
__ADS_1
Deg
"Kamu kenapa nak? kaya lagi cemas gitu? mikirin papah? papah sudah sehat gini kok." hibur sang ayah mendapati Jesslyn begitu gusar.
"Keluarga Dodo ada disini, mau menjenguk papah" Pak Dirga terkejut sekaligus senang, iya senang karena putrinya sudah bisa mengubah kata "gak apa-apa", Jesslyn sudah membuka hatinya untuk sang ayah.
"Hadapi nak. Kamu pasti bisa."
"Tapi pah, boleh aku mencari angin sebentar? Mau persiapan hati."
"Iya, yang penting jangan lupa berdo'a nak."
"Iya pah."
Bersamaan dengan Jesslyn pamit keluar, Bram pun pamit untuk pergi.
"Iya, saya akan selalu mengingatnya." Mereka melangkah bersama keluar dengan dibentangkan jarak. Bram mengekor.
Trap... trap.. trap..
Suara langkah yang menggema di lorong senada dengan suara hatinya.
"Non" Dodo berada di depan Jesslyn dengan membawa keranjang buah, sudah pasti dibelakangnya keluarga mengikuti. Jesslyn menunduk dan segera akan membalikan badan lalu pergi.
Saat kaki ingin melangkah, tangannya tercekal, dia melihat kebelakang suaminya sedang menahan dan menatap teduh dirinya seakan sedang memohon.
__ADS_1
Di tambah, didepannya ada Bram yang memperhatikan tanpa beranjak pergi. Pertemuan tak dapat terelakkan.
"Neng Jesslyn"
Suara itu, suara yang semakin membuat tubuh pemilik nama bergetar. Dengan ragu Dia mengangkat kepala dan menatap sumber suara
"Emak" lirih, bercampur hati yang berkecamuk.
Mereka saling mendekati satu sama lain dengan langkah pelan, saat jarak sudah dekat Jesslyn sudah akan mengambil posisi untuk bersimpuh di kaki Bu Unah.
Hal itu tidak sampai terjadi, Bu Unah segera memeluk menantunya agar tubuh yang sedang menahan rasa bersalah tidak melorot ke lantai.
"Mak... hiks..hiks.." air mata tumpah beriringan dengan rasa sesak. Jesslyn tak mampu menahan rasa bersalah bercampur rasa rindu pada seorang ibu. Mereka saling menangis dalam pelukan.
"Neng, maafin emak ya sampai bikin neng pergi dari rumah. Emak kangen. Hiks..hiks..."
Jesslyn hendak menjawab namun lidahnya kelu tak kuasa berbicara, tangisnya semakin pecah dalam keheningan.
Pak Nata dan Iyan menyaksikan penuh haru, mengalihkan perhatian dengan memandang ke segala penjuru agar tidak berlarut dalam suasana.
Bram menyaksikan dengan air muka yang datar, entah apa yang dia pikirkan hanya dia dan tuhan yang tahu. Lelaki itu belum juga beranjak pergi karena menyangkut kondisi Jesslyn.
Sedangkan dengan Dodo, lelaki santun dengan senyuman yang manis tersenyum lega, akhirnya tidak ada lagi tembok pembatas diantara dua wanita yang sangat dia cintai di dunia ini.
Setelah keharuan isak tangis yang menyelimuti udara sudah berkurang, bahkan sudah tidak ada lagi rasa menyeruak karena sudah tertumpahkan, Dodo mengusap pipi basah sang Istri dengan sapu tangan lalu bergantian dengan ibunya.
__ADS_1
Air mata yang mengering meninggalkan jejak kelopak mata menjadi kebi. Diciumnya dengan lembut oleh Dodo lalu beralih ke ibunya.
Bram yang dari tadi memandang datar tanpa ekspresi, kini menundukan pandangan. Dia mundur beberapa langkah agar tidak mengganggu pertemuan hangat keluarga. Namun, lelaki itu masih menuntut telinga dan matanya menyaksikan apa lagi yang terjadi.