Suamiku Bukan Orang Kaya

Suamiku Bukan Orang Kaya
Undangan


__ADS_3

Acara makan bersama dengan para sahabat telah usai, makan bersama dengan Jesslyn pun sudah selesai. Demi menurunkan makanan yang baru saja masuk kerongkongan dan akan menyapa lambung, Dodo dan Jesslyn masih menempelkan diri di kursi meja makan.


Bersamaan itu, Dodo merogoh kantung kresek berwarna hitam yang teronggok di pinggir meja. "Non" lelaki itu memanggil dengan tangan yang menggeser benda uji coba ke hadapan Jesslyn.


Dia mengambilnya dan menatap lekat benda yang diberikan sang suami. "Aku takut bikin kamu kecewa." Alih-alih menunjukan rasa senang justru Jesslyn malah takut jika hasilnya tidak sesuai harapan.


"Saya pikir untuk mendeteksi lebih dini, jika memang benar kita telah di berikan amanah, kita dapat menjaganya dengan hati-hati. Kalau Non merasa takut, yasudah tidak apa-apa. Biar saya simpan saja sampai nanti Non mau melakukannya." Tangan hangat itu mengusap pucuk kepala, mengalirkan sengatan kasih sayang melimpah.


Dodo meraih benda itu kembali dari tangan Jesslyn, secepat kilat istrinya menggenggam kuat, tidak mau di ambil apa yang telah menjadi miliknya. "Borok sikut" Kata Jesslyn, kosakata yang telah ia dapat dari lingkungan keluarga Dodo setelah tinggal beberapa waktu belakangan.


"Kamu tahu kan apa itu borok sikut? jadi berhentilah mengambil apa yang sudah kamu berikan sayang. Aku akan menggunakannya besok di pagi hari."


Dodo tergelak kecil, dengan rambut belah pinggir cenderung ke kanan menambah kesan tampan di mata Jesslyn. Wanita itu segera pergi mengalihkan jantungnya yang sedang gugup.


"Sayang"


Ada sesuatu hal yang dirasa belum tersampaikan kepada Dodo telah membekukan langkah Jesslyn yang hampir sempurna menunutup pintu, badannya berbalik, netranya menangkap kegiatan suaminya yang sedang meneguk air sambil tangan satunya memainkan ponsel.


Sadar telah terpanggil dan di tatap oleh mata indah istrinya, Dodo bangun dari duduknya dan lekas mendekat.


"Ada apa Non?"


"Kamu habis ngapain?" pertanyaan yang tidak ada dalam benak lolos dari mulut Jesslyn, bukannya menyampaikan hal yang mau disampaikan tadi, tapi malah menaruh cemburu pada benda pintar berbentuk pipih.


"Habis cek kerjaan di Manggala, saya kan sedang WFH Non."


"Oh"

__ADS_1


"Tadi Non mau ngomong apa sama saya?"


"Aku ada kunjungan kerja ke luar kota, kalau kamu mengijinkan, aku akan turut serta membawa Anggi bersamaku. Bukan besok sih masih beberapa hari lagi."


"sayang" Jesslyn memastikan lagi keadaan Dodo, lelaki itu malah melamun seperti ada sesuatu yang tengah dipikirkan. "Jadi bagaimana? kamu setuju?".


"Boleh Non, iya nanti Anggi ikut jagain istri aa yang sangat saya sayangi ini."


"Terimakasih sayang."


............


Di pagi hari dengan tempat yang berbeda dari hari kemarin.


Kembali lagi pada rutinitas keseharian yang terkadang begitu membosankan. "Selamat pagi Bu" sapa Bram melihat Jesslyn sudah memasuki ruang seperti biasanya. "Pagi juga Bram."


"Bu, Ini undangan untuk Bu Jesslyn dan Pak Dodo, saya berharap Ibu dapat meluangkan waktu untuk datang ke pernikahan saya Minggu depan."


Seutas senyum kecil muncul di bibir Jesslyn, wanita itu senang pada akhirnya sang asisten yang selalu mendambakannya bisa bangkit dan tidak terus meratapi hidupnya yang menyedihkan. Karena mengharap seseorang yang tidak mencintainya adalah hak sia-sia.


"Bram, akhirnya kamu bisa bahagia juga. Aku turut senang mendengarnya. Aku pasti akan datang setelah kembali dari kota Bandung."


"Terimakasih banyak Bu, waktu Bu Jesslyn dan Pak Dodo sangatlah berharga."


Jesslyn membuka kartu undangan Bram di sela tangannya sibuk menandatangani dokumen. Senyumnya cerah, seperti cuaca hari ini yang telah mengikis langit gelap kemarin.


"Bram" Jesslyn berdiri melangkahkan kakinya menghampiri Bram, ia ingin menyampaikan sesuatu yang penting menurutnya, "Bisakah kau menjualkan rumahku?".

__ADS_1


Manik Bram menatap lekat wanita di hadapannya, tatapan dengan segudang pertanyaan yang tersirat.


"Ibu serius ingin menjual rumah itu?" dahi Bram berkerut tipis, berusaha memaksa otaknya untuk bekerja keras mengurai benang kusut yang menggelung di kepala.


Disaat orang-orang seusianya sibuk mengumpulkan pundi kekayaan untuk menebalkan tabungan masa depan, Jesslyn justru ingin menjual aset berharga yang menaunginya sejak kecil.


"Bram, kau jangan berfikir lebih tentang ini, aku ingin menjualnya karena memang sudah tidak ada yang mau menempatinya, jadi lebih baik aku jual saja."


"Tapi Bu, bukankah rumah itu memiliki banyak kenangan?"


"Kenangan apanya? bahkan aku tidak ingat wajah ibuku seperti apa. Mungkin maksudmu kenangan aku di tinggal ibu pergi, atau kenangan papah meninggalkan karena kesedihan, oh atau mungkin kenangan kak Joe terbunuh oleh kakak ipar suamiku sendiri?"


Rasa bersalah menyeruak memenuhi relung hati Bram yang bergetar. "Bukan itu maksud saya Bu, maaf telah banyak ikut campur." ia menundukan kepalanya.


"Bram, bisakah kamu.."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2