Suamiku Bukan Orang Kaya

Suamiku Bukan Orang Kaya
Telat lima menit


__ADS_3

Senja sudah mulai menjemput.


"Non, saya boleh minta sesuatu?" pinta Dodo dengan wajah sendu.


"Kamu mau minta apa?"


"Kita ke rumah emak ya." pelan Dodo berucap, takut menyinggung perasaan istrinya. Jesslyn menundukan kepala, dia tampak berfikir dan mempertimbangkan.


"Maaf ya non, mungkin non belum siap ya?" Dodo berasumsi sendiri melihat Jesslyn masih diam tak menyahut.


"Ayo." jawaban tidak terduga terlontar membuat Dodo setengah tidak percaya.


"Serius?"


"Iya sayang, ayo cepat sebelum aku berubah pikiran." ujar Jesslyn sambil berlalu menutupi wajah cemasnya.


"Saya senang sekali dengarnya non." Dodo menyusul di belakangnya, tanpa tahu jika istrinya sangat gugup.


Do, bagaimanapun aku tidak boleh egois. Aku ingin membahagiakan kamu sedikit demi sedikit. Aku harus bisa melawan diriku sendiri.


.............


Mengintip rumah orang tua Dodo.


Bu Unah sedang menjaga warung sambil memasak, dirinya begitu sehat dari hari-hari sebelumnya. Kepulangan Dodo menjadi penguat untuk bisa bangkit dari rasa sakit.

__ADS_1


Tidak ada kekuatan lain bagi orang tua kecuali melihat anaknya berkumpul. Ruang lingkup yang dihinggapi masalah bertubi sangat membuat banyak pikiran. Cuma anak adalah penguat orang tua.


"Nah, ini gua bawa lobak sama daun labuh, lu mau? enak banget buat lalapan dicocol pake sambal terasi." uwa Uti datang dari bulak tempat dia berkebun.


"Mana? emang lagi pengen itu pas banget di bawain." Bu Unah sumringah, mematikan kompor lalu tergesa menuju sumber suara.


"Nih, coba cari dah." uwa Uti dan Bu Unah mengorek gerobak sayur hasil panen dari bulak.


"Mana ti, kangkung sama bayam mulu. Kagak ada lobak sama daun labuhnya. Kalau ini mah di warung gua juga banyak." Bu Unah meletakkan kembali kangkung dan bayam ke dalam gerobak.


"Hehe perasaan gua mah ada tadi nah, kemana perginya ya itu daun. Et dah gak mau di makan kali ya."


"Segala, lu emang goroh mulu Ama gua."


"Ya ampun, udah biarin gua aja yang ngambil. Kasihan lu capek habis jalan." seru Bu Unah.


"Lah emang kalau lu yang kesana kagak jalan? apan lu sama kaya gua gak bisa naik motor?"


"Gampang itu mah"


"Yan, anterin emak ke bulak uwa Uti nyok! daripada lu nontonin kartun mulu dari pagi."


"Iya Mak" sahut Iyan dari dalam rumah.


Bu Unah dan Iyan tancap gas menuju bulak tempat berkebun uwa Uti. Selang lima menit, suara deru mesin mobil Dodo terdengar dari kejauhan.

__ADS_1


Uwa Uti terkesima melihat Jesslyn kembali lagi ke rumah. Walau pada kenyataannya, Jesslyn hanyalah mampir dan tidak tahu kapan akan kembali lagi.


"Neng Jesslyn, ya ampun kangen banget sama neng." uwa Uti menyambut dan merengkuhnya, ada air mata yang jatuh membasahi kulit yang sudah terlihat keriput. Caping yang sedang dikenakannya pun di lempar begitu saja.


"Jesslyn juga kangen."


"Alhamdulillah neng balik lagi kesini. Uwa senang banget rasanya. Unah jadi gak kesepian lagi ada teman kongko anak perempuan." uwa Uti terus meracau tentang kegalauan Bu Unah sang adik, setelah di tinggal kedua menantunya.


Yang satu di tahanan, yang satu pergi menyisakan harapan. Bu Unah menjalani hari-hari dengan menangisi nasib rumah tangga anaknya.


"Do, emak lu pergi ke bulak lagi. Coba telepon Iyan, soalnya perginya sama dia."


"Iya, saya telpon dulu." setelah menepikan mobil dengan benar, Dodo segera menelpon Iyan agar segera kembali ke rumah.


.


.


.


.


.


.bersambung..

__ADS_1


__ADS_2