Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 10. Membujuk


__ADS_3

Disisi lain.


Di kampung sebelah.Terlihat


Rosyanti dan Andi memperdebatkan


sesuatu.


Setelah kejadian di bengkel Kadir sore itu.


Rosyanti merasa jengah selalu berada


di dalam rumah.


Dia tak mau hidupnya terkurung. Andi


mengunci pintu rumahnya dari luar.


Aku ini istrinya bukan binatang peliharaan


yang terkurung dalam sangkar.


Benar-benar aku menyesal karena sudah


meninggalkan keluarga kecilku.


"Mas Aan. Hari ini aku mau keluar sebentar.


Keperluanku ada yang habis. Jadi aku harus


membelinya di minimarket depan." Kataku


gugup.


"Catet aja kamu butuh apa! nanti aku yang


belikan semuanya. Kamu gak boleh


berkeliaran. Apalagi sampai ke kampung sebelah.


Bisa-bisa aku dilempar bom sama mantan


lakimu itu. Siapa namanya? MJ ...huhhh sok


kota namanya." Tampangnya berubah malas.


"Tapi mas. Mas gak malu beliin aku barang


kewanitaan?" tanyaku lagi memastikan.


"Ngapain malu. Toh beli keperluan istri


sendiri," ucapnya enteng.


Sambil membetulkan letak kerah baju di


lehernya.


"Aku berangkat dulu. Kamu jangan


pernah berpikir bisa keluar dari rumah ini


tanpa pengawasanku!" ancam mas Aan


padaku.


Dia mulai melangkahkan kakinya keluar rumah.


Kriieeekkk....


Terdengar suara kunci yang memutar.


"Dikurung terus....bosen nonton televisi


sama main sosmed. Padahal aku pengen


melihat Annisa anakku. Walaupun dari jauh


tak mengapa." Gumamku seorang diri


sambil menghela nafas.


Aku memikirkan cara agar bisa keluar dari


rumah ini. Mas Andi seminggu ini kerja sore


sampe malam. Jadi waktu terbaik untukku


keluar di pagi hari. Ketika dia masih terlelap


tidur. Ya....sebuah ide muncul di kepalaku.


Besok aku akan mencobanya. Mencoba


keluar dari rumah ini dan melihat Annisa


anakku.


...----------------...


Adzan shubuh berkumandang. Mas Aan tak


berkutik dari tidur lelapnya. Mungkin dia lebih


capek dari hari biasanya. Syukurlah dia masih


lena dalam tidurnya.


"Hari ini aku harus melihat Nissa," batinku.


Aku memakai pakaian lengan panjang dan


membawa topi untuk penyamaranku. Aku


harus bisa keluar dari sini. Kerinduanku


sudah memuncak pada anakku.


Aku keluar perlahan dari kamar dan menuju


pintu. Ku putar kunci itu perlahan. Kuputar


kenop pintu. Aku melakukannya tanpa suara


yang berlebihan. Semoga saja dia gak


terbangun.


"Akhirnya....aku bisa menghirup udara pagi


yang menyegarkan." Gumamku perlahan

__ADS_1


sambil melangkah menjauh dari rumah.


Ku telusuri jalanan di pagi hari ini. Aku


melangkah tanpa henti. Tak ada uang di saku.


Jadi aku berjalan kaki menuju kampung


sebelah yang jaraknya sekitar 10km.


"Kenapa mas Aan berubah drastis dari


awal kita bertemu ya?... apakah sekarang


ini adalah watak yang sebenarnya?"


tanyaku dalam hati sambil memikirkan


masa depanku kelak bersama mas Aan.


Sang surya mulai menampakkan dirinya.


Sudah lama aku tidak terkena sinar matahari.


Sungguh hal yang menyenangkan terkena


matahari pagi.


...----------------...


Tibalah di depan Rumah mas Malik.


Tidak terlihat ada tanda kehidupan diluar


rumah.


"Apa mereka berada di dalam rumah kalau


pagi kayak gini?" tanyaku dalam hati.


Aku menyebrang jalan di depan rumah


mas Malik. Kupandangi rumah itu.


Kenop pintu berputar dan terbukalah pintu


rumahnya. Dia keluar dari rumah


memanaskan motor butut kesayangannya.


"Mas malik gak berubah sama sekali. Tetap


tampan seperti biasanya. Kebiasaannya


bangun pagi pun masih sama." ucapku


seorang diri.


Tiba-tiba dia merasa ada seseorang


mengawasi. Langsung saja aku berpura-pura


berbalik dan berjalan mondar-mandir.


"Topi yang kupakai ternyata berguna juga,"


batinku.


dan menghampiri ayahnya sambil memeluk


sebuah boneka. Wajahnya terlihat kusut.


khas anak kecil yang terbangun dari tidurnya.


Aku melihatnya dengan tatapan sendu.


Ingin sekali aku berlari memeluk dan


mencium wajahnya. Terlihat Nissa merengek


pada ayahnya tentang sesuatu. Wajahnya


berubah lesu. Ayahnya mulai membujuknya


dan akhirnya wajahnya mulai berbinar kembali.


Mas malik menggendong tubuh mungil Nissa.


Dia benar-benar menyayangi Nissa. Bodohnya


aku dulu...cemburu melihat seorang ayah


menyayangi anaknya.


Nissa sudah berlari masuk ke dalam rumah.


Mas Malik mulai menyadari keberadaanku.


Aku yang mulai di perhatikan, mencari


kesibukan agar tak dicurigai.


Aku berjalan mondar-mandir sambil


menundukkan pandanganku. Kupercepat


langkahku menuju jalan pulang.


Hari ini aku sudah cukup puas melihat


Annisa dari jauh.


Setengah berlari aku melangkah menuju


rumah mas Aan. Aku khawatir dia sudah


bangun dan mencariku.


Nafasku tersengal. Perutku nyeri, dan


tenggorokanku kering ketika aku mencoba


berlari sekuat tenaga menuju rumah mas Aan.


Aku mengatur nafasku. Memutar kenop pintu.


Pintu, ku buka perlahan-lahan. Ku kunci


kembali pintu rumah seperti semula.


Aku bernafas lega ketika suara dengkuran

__ADS_1


halus terdengar dari arah kamar tidurku.


Itu tandanya mas Aan belum bangun dan


tidak menyadariku yang sudah keluar dari


rumah ini.


Aku mengeringkan keringat yang muncul


akibat berlari tadi. Kuberjalan menuju arah


kamar mandi untuk membersihkan badan.


"Ti....kamu masih lama? aku kebelet pipis nih,"


teriak mas Aan dari luar kamar mandi setelah


beberapa saat aku berada di dalamnya.


"Bentar lagi mas...tahan aja bentar ya!"


sahutku dari dalam kamar mandi.


Selang beberapa menit kemudian. Aku keluar


dari kamar mandi. Dan langsung saja mas


Aan masuk tanpa suara.


...----------------...


"Apa aku harus membuat kunci cadangan?


agar aku kapan saja bisa keluar dari rumah


ini setelah mas Aan pergi kerja?" batinku


bertanya-tanya.


Aku memulai aktifitas pagi hari di rumah ini.


Sungguh hal yang membosankan. Mungkin


kalau saja aku bisa menghirup udara segar.


Bosan itu pasti tak akan ada.


Aku akan berusaha membujuk mas Aan lagi


supaya mengijinkanku keluar dari rumah ini.


...----------------...


Sore hari pun tiba.


"Mas....Yanti bosen dirumah terus. Sekali-kali


ijinin aku keluar ya mas?" pintaku padanya


dengan nada memohon.


"Iya boleh...nanti...kapan-kapan tapi." Jawabnya


malas.


Sejenak aku merasa senang akan


kata-katanya. Tapi di akhir ucapannya,


aku tau itu hanyalah harapan semata.


Wajahku berubah murung. Mas Aan


menyadari perubahan raut wajahku.


"Kalo kamu emang ingin keluar. Mau keluar


kemana Ti?" tanya nya memecah


keheningan.


"Ya keliling kampung ini aja mas.


Semenjak disini aku gak pernah keluar


rumah. Aku jenuh mas," ujarku padanya


dengan pandangan memohon.


"Nanti kalo aku libur. Kita jalan-jalan di sekitar


kampung ini....gimana?" tawarnya padaku.


"Daripada gak keluar sama sekali. Ya


udah deh aku mau keluar sama mas


Aan nanti kalo libur tiba," kuterima tawarannya.


"Ya udah...aku harus bersiap-siap berangkat


kerja. semalam ada mobil pak kades di


bengkel. Sepertinya dia langganan tetap


mas Kadir. Jadi aku harus bener-bener


menyiapkan mobil itu malam ini." Lanjutnya


sambil beranjak meninggalkanku ke arah


kamar tidur kami untuk mengganti


baju kerjanya.


"Coba dia gak temenan sama adik mas


Kadir. Gak mungkin dia keterima di bengkel


itu," cemoohku seorang diri.


Aku meluruskan punggungku di kursi


panjang ini. Menerawang dan mengingat


kejadian tadi pagi.


"Annisa, anakku....gadis kecilku yang ceria."


lirihku sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2