
*Marshella POV.
Aku yang mengingat kejadian 2 tahun lalu merasa mulai bersalah. Seketika mood untuk bersenang-senang hilang dan luntur begitu saja.
Kami sudah sampai dirumah. Om MJ yang mengantarku, cuek dan tidak mempedulikanku yang turun dari mobil.
Suatu saat akan gue buat lo jatuh cinta sama gue om. Lihat saja nanti, gue kudu bisa menaklukkan cowok cakep kaya lo. Gak peduli om itu udah duda apa gak.
Aku sudah tertarik ketika om Mj mulai menginjakkan kakinya di rumah ini. Bukan hanya wajah dan tampangnya saja. Gaya santainya dalam bersikap membuatku semakin ingin mengejarnya.
Aku masuk kedalam rumah seenaknya. Tanpa memberi salam, tanpa apapun.
"Bi Minaaaaahhh. Ambilin gue minum! haus banget inih. Buruan geh!" pekikku.
Bi Minah tergopoh menuju dapur dan membawakanku minuman kesukaan.
"Ini minumnya non. Silahkan diminum!" seru bi Minah.
"Buatin cemilan dong bik! nanti bawa ke kamar ya! GAK PAKE LAMA!" suruhku asal.
"Bbbbaaa-ik non." Bi Minah tergagap dan melangkah pergi.
Aku melihat istrinya papa keluar dari kamarnya, dia mendorong kursi roda papa.
Dia berkata sesuatu kepada papaku. Tapi, aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas.
Mungkinkah dia membicarakanku.
"Heh, istrinya papa. Tumben betah dirumah ini. Sudah jadi pengangguran ya sekarang!" Ucapku kasar.
"Sopan dikit kalau ngomong sama orangtua Shella" suruhnya.
"Emang lo udah tua apa? lo itu masih muda dan pantes jadi anaknya papa. Bukan jadi istrinya papa!" aku melengos begitu saja meninggalkannya.
Kamar ini begitu besar dan luas. Dari kecil aku sudah terbiasa hidup mewah dan punya segalanya. Tapi, kepergian mama membuat hidupku selalu merasa kurang dan kurang.
Mama adalah seorang wanita yang kuat. Beliau selalu berada disisi papa. Ketika mengandung aku. Mama pernah bercerita, papa masih belum kaya seperti sekarang. Mama yang selalu setia dan memberi dukungan pada papa sudah tiada di dunia ini.
Duniaku juga berubah. Apalagi sudah tiga tahun ini papa menikah lagi dengan orang udik dari kampung kecil nan jauh disana.
Entah apa yang papa lihat dari wanita udik itu.
Penampilannya biasa saja dibandingkan mamaku sewaktu muda.
Aku duduk di pinggir springbed yang empuk.
Di nakas, ada sebuah pigura besar. Foto keluargaku terpampang nyata disana.
Tiba-tiba, aku mendekap foto itu. Kusentuh gambar mamaku. Aku sangat merindukannya.
"Ma, Shella kesepian dirumah ini. Hanya Silvia yang peduli dengan Shella." Aku menelisik gambar mama.
Kupandangi foto kami lama.
*Klek.
__ADS_1
Pintu terbuka. Bi Minah membawakan cemilan yang aku minta tadi.
"Maaf non, permisi. Ini cemilannya non. Martabak telur dan kroket kentang. Kalau masih kurang nanti bibi buatin lagi!" tawarnya.
Aku menoleh dan mencium aroma makanan ini.
"Taruh saja di sana bik! bibi keluar saja!" suruhku sambil menunjuk meja kecil di sebelah sofa mini kamarku.
"Baiklah non!" sambil meletakkan piring yang berisi cemilan tadi.
Bi Minah keluar dengan terburu-buru
Bi Minah dan istrinya papa adalah salah satu hiburanku di rumah ini.
Aku bisa melampiaskan semuanya pada mereka.
Aku tidak peduli tanggapan mereka terhadapku.
Toh ini sah-sah saja, aku nona muda dirumah ini. Semua keinginanku harus mereka penuhi.
Aku mulai menyantap cemilan dan minuman kesukaanku. Sambil ku buka berkas ijazah sekolahku. Aku melihat nilai-nilaiku disana.
"Setidaknya gue gak beg*-beg* amat dah. Untung ajah gurunya gue ancem, kalau gak ya gak mungkin kaya gini juga nilaiku, hahaha." Tawaku puas.
"gue harus menunjukkan ini pada papa. gue mau kuliah di jurusan business management. Biar kantor papa bisa gue ambil alih suatu saat nanti." Tekadku kuat.
"Om Rudi, tunggu saja! aku tidak akan membiarkan om menguasai harta kami!" Yakinku.
Aku keluar kamar dan mencari Silvia.
Akhirnya aku memutuskan menghampiri papa yang seorang diri duduk di kursi rodanya. Tangannya bergerak pelan ketika melihatku.
Aku hanya mengacuhkannya. Aku sudah malas mau menunjukkan berkas ijazahku.
Aku melihat pintu utama setengah terbuka.
Aku mendekati pintu dan melihat mereka berdua sedang mengobrol seperti seorang teman lama.
Si*lan istrinya papa. Baru kali ini gue lihat ada raut bahagia di wajahnya. Gue harus kesana dan membawa om Mj ke pelukan gue.
Tap...tap...tap.
Suara langkah kakiku yang cepat. Aku menghampiri mereka berdua yang berdiri mengobrol di teras rumah sebelah tiang besar.
Aku menggandeng lengan om Mj.
"Om, Shella pengen makan nih! anterin yuk!" Ajakku.
"Maaf Shella, nyonya Elisa sebentar lagi harus pergi ke ruko miliknya." Jawabnya membuatku geram.
"Jadi, om gak mau menuruti perintahku? dia ini hanya istri papa yang gak diterima sama keluarga besar kami. Keinginanku lebih penting daripada istrinya papa." Ucapku kasar.
Tanganku masih menggandeng om Mj.
Dia berusaha melepaskannya berkali-kali, tapi aku mencubitnya dengan keras agar berhenti melepas gandenganku.
__ADS_1
Raut wajah wanita udik ini berubah marah. Belum pernah aku melihatnya seperti ini.
"Heh, Marshella Cahyono. Aku mempekerjakan Mj itu untuk menjadi supir pribadi. Bukan menuruti keinginanmu yang tidak masuk akal.
Kau pikir aku tidak tau, kalau kamu sudah makan cemilan dari bi Minah. ITU HANYA ALASANMU SAJA!" ucapnya kasar padaku.
Baru kali ini dia membentakku seperti ini.
"Emang gak boleh ya, kalau aku mau makan lagi. Inikan sudah masuk waktunya makan siang." Lawanku tak kalah kasar.
"Aku punya urusan yang lebih penting daripada meladenimu beradu urat." Ujarnya sambil menarik tangan om Mj.
Om Mj melepaskan tanganku. Dia mengikuti istrinya papa masuk ke garasi.
si*lan, aku kalah cepet sama wanita udik itu. Awas saja nanti. Aku akan membalasmu wanita kampungan.
Aku kembali menuju kamarku. Sudah lama aku tidak membuka akun sosial mediaku.
Aku mengambil ponsel termahalku. Kubuka kode akun sosial media ku yang berwarna biru.
Banyak sekali pemberitahuan masuk.
Ada juga berita-berita perselingkuhan artis lokal di beranda sosial mediaku. Video akun gosip menayangkannya.
Paling males kalau ada akun gossip kek gini. urusan artis. Gue mah bodo amat. Artisnya ajah lebih miskin dari gue. Yang komen ternyata banyak juga ya. Ternyata manusia be*o masih banyak didunia ini. Ngapain juga komen, makin tenar lah itu artisnya. Videonya ajah gue gak tonton apalagi komen.
Aku menaik-turunkan layar. Tiba-tiba saja ada suatu pencarian disana yang mengusikku.
Akun Fatma wiguna mencari keberadaan seseorang di pulau S daerah L. Aku mengamati foto itu.
"Gak salah nih? kalau dilihat lagi sih, ini fotonya om Mj. Tapi, disini kok kurus ya? sementara sekarang om Mj mulai berisi badannya." Gumamku seorang diri.
Akun Fatma menawarkan hadiah untuk siapapun yang menemukan dan memberitahukan informasi tentang om Mj.
"Om Mj bilang sih dia kangen sama keluarganya. Tapi, apakah perempuan ini salah satu keluarganya juga?" gumamku lagi.
Aku berpikir untuk menghubungi nomer ponsel yang tertulis disana. Namun tiba-tiba saja ponselku mati kehabisan baterai.
"Si*lan, bener-bener bikin kesel nih hape. Ya sudah lah besok saja aku hubungi orang itu. Fatma wiguna, aku harus mengingat nama akun itu." Tekadku.
Aku mengisi daya ponselku di sebelah nakas.
Kurebahkan badanku. Semua yang ingin aku lakukan hari ini semuanya gagal total.
Mulai dari shopping bareng om Mj, makan siang diluar bareng om Mj. Dan memberitahukan keluarga om Mj di kampung.
Aku melihat kelangit-langit kamar. Ngantuk mulai menguasai. Aku terlelap dan berharap besok akan ada waktu bersama om Mj kesayanganku.
*
*
Selamat membaca para reader setia.
Authornya jadi kesel sendiri deh bikin karakter Marshella. 🙊🙊 Jangan lupa terus dukung author dengan cara like, komen, rate ⭐️ 5, favorit dan vote. Terimakasih sebelumnya 🙏🙏😘😘
__ADS_1