Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 8. Kesempatan


__ADS_3

*POV Kadir


Aku tengah bersantai diruang kerja.


Sambil memperhatikan karyawanku di


balik kaca ruangan. Mobil yang kukenal


terparkir sempurna didepan bengkel.


Kupikir pemiliknya yang datang.


Malik keluar dari mobilnya. Aku langsung


tergopoh mendekati. Aku tak mau terjadi


sesuatu dengannya. Apalagi ini menyangkut


masalalu terburuk dalam hidupnya.


Aku tidak bisa menyembunyikan raut


wajah gusarku. Susah rasanya ketika tau


sesuatu tapi seakan-akan tak tau apa-apa.


"Kenapa sih mas? ada setan ngikutin ya?


kok celingak celinguk gak jelas gitu?" ujarnya


terkekeh.


"Jiah....kamu gitu amat ya. Bentar lagi


maghrib Lik. Mulutmu jangan iseng,


shuuuutttt.....," Aku menyuruhnya diam.


Memang kusadari tanpa sengaja tadi. Aku


celingak-celinguk mencari keberadaan Andi.


"Udahlah gak usah dibahas lagi. Kamu


ngapain kemari?" tanyaku tanpa basa-basi.


"Kalau kemari kan, pasti ada yang gak beres


sama kendaraan mas. Masa aku gak beres


mau di servis disini sih. Ogah kali...bau


oli...he..he," Cengir Malik.


"Jadi, mobil Toni onderdilnya ada yang harus di servis Lik? kenapa dia gak kesini sendiri?" tanyaku bertubi-tubi.


"Biasa...orang sibuk. Mana sempet dia


kemari mas. Kerjaannya tuh dia bilang


selalu numpuk. Makanya aku yang disuruh


bawa ini mobil kemari," jawab Malik sambil


menepuk badan mobil.


"Ya udah siniin kuncinya. Biar aku aja yang


bawa masuk," tawarku padanya.


Diberikannya kunci mobil Toni padaku.


Terlihat Malik mencari keberadaan


seseorang. Pandangannya mengitari seluruh isi


bengkel.


Jraaaasssshhhh......


Tiba-tiba terdengar suara ban mobil kempes.


Ya, aku melihatnya disana. Andi


menaik-turunkan dongkrak mengganti ban


mobil di sebelah mobil Honda civic.


Terdengar suara gumaman Malik sambil


tersenyum. Sebenarnya aku tau dia


bergumam apa. Tapi, aku pura-pura saja tak


dengar.


"Kamu ngomong apa Lik? kesambet apa ya!"


aku berkata sambil mengusap pucuk


kepala Malik.


"Hush....bener-bener deh mas kadir nih.


Amit-amit mas, jangan sampe kesambet.


Itu lho mas... si Andi, aku tadi nyariin dia


ada dimana. Eh... malah nongol mendadak,"


terang Malik panjang lebar.


"Oh.. Andi? emang kamu kenal dimana


Andi Lik?" tanyaku penasaran.


"Kapan ya Malik kenal sama Andi? perasaan


aku gak pernah ngenalin mereka berdua," aku


berpikir sambil berkata dalam hati.

__ADS_1


"Kenal disini mas. Emang kenal dimana


lagi sih?" kernyit Malik heran sambil


menatapku.


"Oh ya. Aku ingat sekarang. Waktu itu dia


ambil angkot malem-malem. Aku nyuruh


Andi yang nungguin Malik," batinku.


"Ooo...kirain dari dulu kalian udah saling kenal,


pantesan kamu biasa ajah sama dia,"


lanjutku lagi.


"Aku biasa ajah ama Andi? maksudnya mas


Kadir tuh apa? aku gak ngerti nih," tanya


Malik heran padaku.


Aku menghela nafas. Berpikir sejenak.


Apa yang harus kukatakan pada Malik?


aku bingung sekali, padahal sudah jelas


kemarin sore Rosyanti kemari menemui


Andi. Dan aku juga baru tau bahwa Andilah


yang membawa Ros kabur dari Malik.


"Hadeuh...bener bener aku gak tega melihat


orang baik di depanku ini. Udah ah


kuceritain ajah." Kataku dalam hati.


"Jadi kemaren tuh..." Aku mulai bercerita.


-----Flash back-----


Sore itu aku keluar hendak pulang. Karena


sudah waktunya aku beristirahat di rumah.


Aku melihat seorang perempuan di parkiran


bengkel. Dia seperti mencari-cari seseorang.


Sudah lama aku tidak melihatnya.


Ya ...sudah 2 tahun dia pergi dan menghilang tanpa kabar dari kampung ini.


Dia melihatku dan menghampiriku.


Sambil tersenyum dia menjulurkan


tangannya. Tanda ingin berjabat tangan.


dia berkata sambil melepaskan jabatan tangannya.


"Alhamdulillah baik. Kamu....kenapa kamu


bisa disini? ada perlu apa emangnya Ros?"


aku bertanya-tanya. Reaksi itu, reaksi raut


wajah terkejut akan pertanyaanku.


"Oh....itu....aku...aku mau ketemu sama Aan


mas," jawabnya sambil menundukkan wajah.


"Aan? siapa Aan...?" kernyitku bingung.


Setahuku gak ada karyawanku yang


bernama Aan disini.


"Itu dia mas, orangnya...," tunjuk Rosyanti


padaku.


Aku melihat Andi menghampiri kami.


"Ada apa dengan mereka? kenapa Rosyanti bisa kenal dengan Andi?" batinku bertanya-tanya.


Aku terperanjak memikirkan keterkaitan


mereka berdua. Ternyata...Aan yang


dimaksud Ros itu si Andi. Montir baruku


sekaligus teman dari adikku.


"Andi?... jadi kamu sama Andi....?" tanpa


melanjutkan pertanyaanku. Raut wajah


Rosyanti di depanku seakan-akan sudah


menjawab pertanyaanku yang belum


selesai.


"Ngapain kamu kemari Ti. Bukankah sudah


kubilang jangan kembali ke kampung ini?


apalagi kamu sampai berada di tempat ini.


Ayo kita pulang!" seru Andi pada Rosyanti


sambil menarik lengannya kasar.


Pemandangan di depanku sungguh tak

__ADS_1


biasa. Mungkin ini karma yang harus


di terima Ros karena sudah menyia-nyiakan


suami dan anaknya.


Andi bersikap kasar padanya.


"Maaf sebelumnya mas Kadir. Aku pamit


sebentar ya! mau nganterin Yanti pulang mas,"


wajahnya tampak tak enak hati.


"Daripada mereka nanti berantem disini.


mending aku langsung iyakan aja deh.


Bisa-bisa jadi tontonan orang-orang


di bengkel ini," batinku.


"Iya....iya....lagian kan Imran udah dateng.


sementara kerjaanmu tinggal ajah sebentar.


kalian pulanglah dulu," ku ijinkan mereka


secepatnya untuk meninggalkan bengkel ini.


"Makasih mas pengertiannya. Kami pamit,


Assalamualaikum." Ucap Andi sambil


menyeret Ros keluar.


"Waalaikumsalam," jawabku sambil


memperhatikan tingkah mereka berdua.


"Ternyata Aan itu Andi? dan Ros itu Yanti?


sepertinya Ros kesulitan dengan sikap Andi


yang tempramen. Dia kasar sekali pada Ros.


Kuikuti arah pandangku pada mereka berdua.


Di tempat parkir motor. Aku melihat Mereka


berdua mendebatkan sesuatu. Sepertinya itu


membuat Andi naik pitam pada Rosyanti.


Kuhembuskan nafasku perlahan. Tuhan


memang maha adil. Dia memang membalas


orang-orang yang berbuat dzalim di dunia ini.


Salah satu contoh adalah pasangan


di depanku ini.


"Sudahlah mereka bukan urusanku.


Sekarang aku harus pulang dan


memperhatikan anak-anakku dirumah."


Ku melangkah ketempat mobilku berada dan masuk ke dalamnya.


Kuarahkan mobil menuju jalan pulang.


------- Flashback Off-----


Malik mendengar ceritaku. Reaksinya


berlebihan sambil memegang dadanya.


Pandangannyaa menyiratkan sebuah kebencian yang dia pendam.


Sekarang dia sudah tahu. Pria yang sudah


membawa istrinya kabur dari rumah.


Dan aku tak menyangka. Bahwa Andi itu


adalah Aan yang pernah dicari Malik dulu


waktu istrinya baru meninggalkan rumah.


Waktu itu Malik pergi ke rumah pria di


kampung sebelah dan ternyata hasilnya nihil.


Dua tahun berlalu. Pria itu sudah ada di depan


matanya dan mereka saling kenal tanpa tau


masalalu mereka yang saling terkait.


Malik pamit dan langsung pergi meninggalkan


ku seorang diri.


Aku tau pikirannya berkecemuk kali ini.


Mungkin sekarang dia mendapat


shock terapi dari kejadian ini.


Dia berjalan seorang diri menuju rumah


majikannya. Pak Ahmad, sang bos angkot


satu-satunya di kampung ini.


"Lebih baik dia sama Fatma aja. Diakan


gadis manis, pintar dan baik hati." Batinku

__ADS_1


sambil berlalu pergi menuju kendaraanku


yang terparkir rapi.


__ADS_2