Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 2. Montir baru


__ADS_3

"Akhirnya...sampai juga di bengkel mas Kadir,"


aku menghela nafas sambil berkata lirih.


Ku dekati Mas Kadir yang tengah sibuk


mengamati mesin mobil yang baru saja


selesai di kerjakannya.


"Mas kadir, apa kabar bos? masih sibuk ajah


nih, kapan nyantenya mas? mbok ya sekali kali


ngopi bareng!" aku menyapa Kadir, pemilik dari


bengkel ini.


Sejurus dia menoleh ke arahku tanpa beranjak


dari tempatnya berdiri.


"Banyak kerjaan Lik, tuh kamu liat aja," tunjuk


kadir kearah mobil dan motor yang berdekatan.


"Wah...jadi nanti angkotku belakangan dong


mas, padahal besok harus narik lagi mas," aku


berkata sambil menyengir kearah kadir.


"Tenang saja Lik, asalkan rusaknya gak parah


pasti mas duluin kok," Mas kadir tetap saja


berkata tanpa beranjak dari tempatnya.


"Kayaknya gak parah kok mas, ada suara


dengung kalo mesinnya di nyalain, tau deh


apanya yg bermasalah," lanjutku lagi.


"Oh...kalo cuma gitu doang sih gampang Lik,


Biar karyawan baru mas nanti yang benerin, dia


masih di kamar mandi, udah tinggal aja!" Kadir


kemudian mengambil kunci angkotku.


"Kalau gitu, aku pulang dulu mas. Kabarin ya kalau


udah kelar, katanya sih mas Toni yang mau


ngambil." Kataku sambil berlalu pergi.


...----------------...


Ku langkahkan kaki di jalanan yang berdebu.


Aku harus pergi ke rumah pak Ahmad, untuk


mengambil motor kesayangan yang


memang aku titipkan disana setiap kali


berangkat narik angkot.


Tampak sepi. Tak ada satu orangpun di


halaman rumah pak Ahmad. Tiba-tiba ada suara deritan pintu terbuka.


Fatma menghampiriku. Dia


membawa sebuah bungkusan plastik di


tangannya. Disodorkannya plastik tersebut


kepadaku.


"Lauk lebih buat kamu mas," katanya


tersenyum lebar.


"Aduh... aku gak enak nih Fat. Masak hampir


tiap hari dapat lauk terus. Kok jadi ngerepotin


kamu ya." Kataku tak enak hati.


Fatma menyunggingkan senyum manisnya.


"Gak repot kok mas, lha...ini aja lebihan lauk kok, lagian kalo berlebih nanti nyisa, gak ada yang makan mas." Tambahnya lagi.


"Makasih banyak Fat. Aku sudah banyak


dibantu olehmu dan keluargamu," ucapan


terimakasih yang tulus dariku.


"Ya udah.... aku pulang dulu, salam buat bapak


dan ibuk ya, hari ini gak bisa ngobrol bentar,"


lanjutku lagi.


Fatma hanya menganggukkan kepalanya.


Ku arahkan motor menuju rumah yang


berjarak sekitar 5 km dari rumah Fatma.


Aku kasian sama Fatma. Kenapa dia, yang


berpendidikan tinggi dan sebentar lagi mendapatkan pekerjaan serta umur yang


cukup untuk menikah. ma2sih saja melajang


sampai sekarang. Tidak mungkin dia seperti


ini hanya mau menungguku.

__ADS_1


Bukankah pria yang mendekatinya juga bukan


dari sembarang orang. Pikiranku melayang


entah kemana.


Suara motorku yang berisik, mengalihkan


perhatian Annisa yang tengah bermain


bersama neneknya.


"Yeeyyyy...... Ayah udah pulang, Nissa bisa


minta gendong kalo gitu," matanya berbinar


sambil berlari menghampiriku di halaman


rumah.


" Aduh...duh... anak ayah kok tambah gede ajah


sih, makan apaan ya kok bisa tambah gede


kaya sekarang?" aku bertanya sambil


memajukan mulutku.


"Makan nasi dong Yah, o iya.... makan esklim


juga dong," jawabnya sambil terkekeh.


Dia melebarkan tangannya ke arahku, tanda


minta di gendong.


"Weiii....anak ayah tambah gede tambah berat


ya," ucapku sambil menggendong Nissa dan


mengelus elus kepalanya.


"Kan bental lagi Annissa mau sekolah Yah,"


seringainya lebar.


Kami masuk ke dalam rumah masih dengan


Nisa di punggungku. Ku berikan bungkusan


plastik dari Fatma tadi ke tangan ibu.


"Pasti dari Fatma ya nak?" ibuku sudah


menduganya.


"Siapa lagi buk, kalo bukan dia. Selama ini


cuma dia yang selalu ngasih bungkusan


plastik...he...he." kataku sambil menurunkan


Nissa dari punggungku.


"Nissa, jangan ganggu ayah ya nak! Biar ayah


pada Nissa.


"Iya Yangti...tapi aku mau salim sama ayah


dulu, tadi kan aku langsung minta gendong,"


cengirnya dengan wajah yang lugu.


Setelah selesai dengan Nissa, aku beranjak ke


kamar mengambil handuk dan langsung


menuju ke kamar mandi di belakang rumah.


...----------------...


Kami bersenda gurau di dipan ruang tamu,


setelah makan malam selesai. Nissa yang


selalu berceloteh. Tak henti-hentinya membuat


kami tertawa dengan segala kelucuannya.


Malam ini, seperti biasa kami mulai tidur pada


pukul 9 malam.


Nissa sudah berada di alam mimpinya. Kubelai


wajah lugu dan polos itu. Aku akan melakukan


yang terbaik untuk masa depannya nanti.


Tiba-tiba......dertttttt.....derttttttt.....


Suara telepon genggam yang kuletakkan di


meja. Kulihat di layar sambil mengernyitkan


dahi.


"Ngapain ya pak Ahmad nelpon malem-


malem gini?" gumamku seorang diri.


"Assalamualaikum, ada apa pak?"


"Waalaikumsalam," jawab pak Ahmad dari


seberang telpon.


"Lik, bapak mau minta tolong! Toni belum


pulang. Tadi dia pamit telat pulang. Mampir


kerumah temennya. Kamu aja ya yang ngambil

__ADS_1


angkot di bengkel kadir!"


"Oh...begitu ya pak. Ya sudah pak saya kesana


sekarang."


Ku ambil jaket dan kunci motor, kulajukan ke


arah bengkel mas Kadir.


Setibanya disana kulihat orang baru," pasti ini


karyawan baru mas kadir sepertinya," ucapku


dalam hati.


"Maaf mas ganggu. Saya mau ambil angkot


biru itu, di suruh pak Ahmad kesini," aku


berkata sambil terseyum dan menelisik wajah


di depanku.


"Oh... pasti mas yang namanya Malik ya. Mas


kadir udah pulang dari tadi mas."


"Saya montir baru disini. Kenalin dulu saya


Andi," sambil menjulurkan tangannya ke


arahku.


"Saya Malik mas. Jangan sungkan mas Andi,


panggil saja nama, gak usah pake


mas...he...he," cengirku lebar.


"Panggil juga aku Andi, kayanya kita seumuran


deh, biar cepet akrab gitu mas, eh....Lik,"


tambahnya lagi.


Setelah mengobrol sebentar, aku pamit pulang.


"Ini kuncinya jangan lupa Lik," sambil


menyerahkan kunci ke tanganku.


"Kelamaan ngobrol jadi kelupaan deh," ucapku


terkekeh.


"Kamu lanjutin beberes ajah dulu, nanti kan


aku mampir lagi ngambil motorku," lanjutku


lagi.


Andi hanya mengangguk tanda setuju.


Ku antarkan angkot ke rumah pak Ahmad.


Kuserahkan kunci nya pada beliau. Tanpa basa


basi aku langsung pamit pulang. Karena


malam sudah hampir larut.


Aku melangkah menuju bengkel. Mengambil


kembali motor yang kutitipkan disana.


Untunglah jarak dari rumah pak Ahmad dengan


bengkel tidak terlalu jauh. jadi selang sepuluh


menit kemudian. Aku sudah di depan bengkel.


"Andi, aku langsung pulang aja ya. Kasian


kamu, pasti udah capek seharian kerja."


"Santai aja napa Lik, lagian aku masuk sore


tadi, makanya aku pulang jam segini,"


sahutnya.


"Kapan-kapan kamu mampir ke rumah ya Di,


ngopi bareng gitu. Cerita-cerita hal seru," ajakku


padanya.


"Beres pokoknya, nyantai aja lah. Gue selalu


punya waktu. kalau di hari libur tapi...he...he..,"


cengirnya.


"Bisa aja lu," aku tertawa kecil.


"Ya sudah lah, aku pulang dulu.


Assalamualikum," aku memberi salam.


"Waalaikumsalam," jawabnya.


Ku kendarai motorku di kegelapan malam.


lampu lampu jalan sekitar tidak banyak. Tapi


lumayan buat di jadikan penerang di jalan.


Kulihat para pemuda memadati warung kopi


pinggir jalan.


"Dapet kenalan baru, dapet temen baru nih,"

__ADS_1


gumamku seorang diri sambil melajukan


motorku dengan lebih cepat.


__ADS_2