Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 42. Elisa dimasa lalu


__ADS_3

*


*Elisa POV.


Aku masih di dalam kamar dan mengganti baju pria tua disampingku yang tengah sakit ini.


Sudah tiga tahun menjadi nyonya di rumah ini. Tapi, aku masih merasa tersiksa.


Rumah mewah dan uang yang banyak seolah masih belum bisa membeli hatiku.


Ya, aku sungguh terpaksa menikah dengan baliau. Orang yang sudah menyelamatkanku dan keluargaku dulu.


Hutang budi ayah ku pada om Cipto sangatlah besar. Karena itulah ayah menjodohkan aku dengan om Cipto agar aku bisa memberikan keturunan seorang anak lelaki. Om Cipto sendiri sudah lama menjadi duda. Semenjak anak keduanya berumur 8 tahun. Istrinya meninggal akibat penyakit kanker.


*


*Flashback Elisa umur 20 tahun.


Aku hanya seorang lulusan SMA saja. Orang tuaku tidak sanggup membiayaiku untuk melanjutkan ke jenjang universitas. Mereka terlilit hutang yang cukup besar. Sampai menguras tenaga dan pikiran ayahku. Rumah kami pun sudah pindah ketempat yg lebih kecil di suatu kampung.


Ayahku meninggal karena sakit yang di deritanya. Sebelum meninggal, beliau memintaku untuk berjanji agar aku mau menikah dengan om Cipto yang sudah lama membantu keluarga kami. Beliau berpesan demikian ketika ajal akan menjemput.


Janji tetaplah janji, walau hati ini melakukan semuanya dengan terpaksa.


Aku dinikahkan tanpa ayahku. Beliau sudah menghadap sang khalik. Bunda terus menerus menasehati dan membujukku agar bisa menerimanya dengan ikhlas.


Setelah pernikahan terjadi. Aku di bawa kerumah mewah ini. Sampai disini, penderitaanku masih berlanjut.


*


Hari pertama pernikahan.


Dua anak om Cipto menghampiri. Sorot matanya tersimpan kebencian.


"Hey, orang udik. Jangan harap kamu akan betah tinggal disini. Gue gak rela lu nikah sama papa gue. Lu tetaplah wanita asing di rumah ini. Ingat itu baik-baik!" gertak Marshella.


Putri sulung om Cipto Cahyono. Umur kami terpaut hanya 5 tahun. Pantas saja dia tidak menyukaiku. Mana mungkin aku yang masih muda ini menjadi ibu sambung untuknya.


"Bener tuh kak. Jangan baik-baik sama orang udik, nanti dia ngelunjak dan gak tahu diri." Lanjut Silvia. Dia putri bungsu om Cipto.


Setiap hari, anak-anak om Cipto meledek dan mengerjaiku.


Hanya om Cipto saja yang menghargai keberadaanku disini.


Beliau juga tidak memaksaku untuk melakukannya. Melakukan kewajiban seorang istri.


Aku yang belum pernah melakukan itu sebelumnya, hanya bisa menangis.


Malam itu kami berdua di dalam kamar.


Om Cipto mulai melepas semua pakaianku ketika hari pernikahan kami sudah memasuki usia 2 minggu.


Aku hanya gemetar dan ketakutan. Buliran air bening menetes tanpa henti.


Om Cipto meihatku, wajahnya frustasi.

__ADS_1


"Sudahlah, pakai saja bajumu! Lekas keluar dari kamar ini. Aku tidak bisa memaksa seseorang untuk melakukannya. Walaupun itu istri sah sendiri." Ucapnya.


Aku masih sesenggukan dalam tangisku.


"Maaf om, Elisa melakukan semua ini dengan terpaksa." Ucapku pelan.


"Aku akan keluar sekarang. Kamu tidurlah! Aku akan memuaskan nafsuku dengan wanita malamku. Aku tidak sanggup melihatmu seperti ini. Aku merasa seperti akan menggauli anak sendiri." Om Cipto berkata dengan cepat.


Beliau memakai bajunya kembali dan langsung pergi meninggalkanku sendiri dikamar ini.


"Ayah, maaf kan aku yang masih belum bisa menerima om Cipto sebagai suami." Isakku perlahan sambil mendongakkan kepala.


Aku memakai baju dan kembali tidur. Om Cipto sangat baik padaku. Beliau melakukan dosa besar, hanya karena aku yang masih belum bisa melayani nafsu birahinya.


......................


Pagi hari beberapa bulan kemudian.


Marshella dan Silvia melancarkan aksinya kembali. Kali ini tidak hanya perkataan saja.


Mereka sudah mulai berani menginjak kakiku terang-terangan.


"Awas Vi, ada virus lewat. Kita injek yuk!" ajaknya pada Silvia.


"Ayuk kak. Biar gak ganggu kita." Sahut Silvia.


Mereka yang melewatiku. Langsung melancarkan aksinya.


"Aduh. Kalian ini kenapa? selalu saja bersikap kasar kepadaku." Emosi mulai menguasaiku.


"Hey, si udik. Kamu itu gak pantes jadi nyonya dirumah ini. Udah miskin, hidup numpang lagi." Kata Marshella yang menusuk.


"Asal kalian tahu saja. Aku ini terpaksa menikah dengan papa kalian. Aku tidak mencintai papa kalian." Hardikku agak kasar.


Selama ini aku hanya diam dan mengalah ketika mereka berbuat buruk padaku. Tapi, kali ini aku tidak akan membiarkannya.


Bi Minah hanya mampu melihat kami bertengkar. Mereka berdua melancarkan aksinya ketika om Cipto sudah berangkat kerja.


"Elo itu emang gak cinta sama papa. Tapi elo cinta sama harta papa kan? udah ngaku aja sih, gak usah ngeles!" Marshella berkacak pinggang.


"Kamu pikir, saya bisa di beli dengan harta dan rumah mewah disini? aku seperti orang yang tersiksa berada disini." Amarahku sudah ada di ubun-ubun. Mereka berdua sudah membuatku emosi.


"Alesan aja tuh kak. Biar dia pikir kita tertipu dengan ucapannya!" Kesal Silvia.


"Sudah males aku nanggepin kalian berdua. Terserah kalian mau bilang apa. Aku sudah menjadi nyonya di rumah ini. Ingat itu!" Suaraku bergetar dan langsung pergi meninggalkan dua anak om Cipto.


"Si*lan itu orang udik. Sudah berani dia melawan kita." Geram Marshella sambil mengepalkan tangan.


"Sudah lah kak, kita lets go shopping ajah. Papa ngasih ATM baru, kado ultahku kemaren." Ajak Silvia yang masih berumur 12 tahun.


Mereka masuk kembali ke kamarnya, dan bersiap untuk pergi berbelanja di sebuah Mall besar langganan keluarga Cahyono.


...----------------...


Aku menghubungi om Cipto. Aku harus berani mengambil keputusan. Aku akan minta ijin untuk bekerja.

__ADS_1


"Emang kalau kamu g kerja, kamu itu gak bisa makan apa?" tanya om Cipto.


"Bukan begitu om, aku juga mau punya penghasilan sendiri agar tidak diremehkan oleh keluarga besar Cahyono." Ucapku berterus terang.


"Kamu mau kerja dimana? sebelumnya sudah pernah bekerja atau belum?" tanya om cipto bertubi-tubi.


"Ehm...itu. Belum pernah sih om. Tapi, waktu sekolah dulu. Lisa pernah jualan sama temen-temen lisa om." Jawabku.


"Jualan apa emang?" tanya suara di seberang lagi.


"Jualan baju-baju cewek om. Ada baju bayi dan anak-anak juga sih." Jawabku lagi.


"Kalau begitu, begini saja. Kamu tidak usah pergi bekerja di luar. Om kasih modal 50 juta. Bisa kamu kembalikan kapan saja! Kamu lakukan saja, kalau memang kamu mau berjualan." Seru om Cipto.


"Terimakasih om. Saya tidak akan mengecewakan om Cipto. Dan berjanji akan secepatnya melunasi hutang." Tekadku yakin.


"Ya sudah. Om harus kembali bekerja. Nanti malam kamu bisa tidur di kamar. Om tidak akan pulang kerumah." Suruhnya.


"Baiklah om. Terimakasih." Ucapku tulus.


Aku menghubungi teman sekolah dulu. Dan mengajak mereka bekerja sama. Sudah lama aku tidak bertemu mereka berdua. Sahabat baikku waktu sekolah. Kini aku akan memulai semuanya dari awal dengan bantuan mereka.


*Flasback off


Malik Jayadi sudah berada dirumah ini untuk menjadi supir pribadiku. Terlihat raut kesedihan dan kecewa di wajahnya ketika aku menyampaikan sebuah kebenaran.


Kebenaran bahwa aku adalah istri sah orang lain.


Apakah aku harus jujur pada mas Adi? sepertinya kita memiliki perasaan yang sama.


Aku tidak bisa menahan belenggu yang selama ini mengikatku. Hatiku mulai membuat perlawanannya ketika dia mulai berlabuh.


Aku menghampiri mas Adi yang berada di garasi mobil. Dia mengelap semua kaca mobil yang ada disini.


"Mas, ehm....sebenarnya." Ucapku ragu.


"Ada apa nyonya? apakah nyonya mau pergi?" tanya mas Adi.


"Gi-ni lho mas Aa-di." Ucapku tergagap.


"Panggil MJ saja nyonya! biar lebih akrab antara majikan dan karyawan." Ucapnya tenang.


Raut wajahnya berubah lebih dingin dari biasanya.


"Iya mas MJ. Nanti malem, biar aku carikan kosan atau kontrakan untuk tempat tinggalmu." Kataku beralasan.


"Terimakasih nyonya untuk perhatiannya. Biarkan saya bekerja sekarang!" Ujarnya mengusirku halus.


"Maaf sudah mengganggu waktunya mas MJ.


Lanjutkan saja kerjaannya!" seruku.


Aku menjauhi garasi. Wajahnya masih terlihat dingin.


Apakah keputusanku tepat memilih mas MJ menjadi supir pribadiku? hal itu masih saja membebani pikiranku.

__ADS_1


__ADS_2