
Tiik, tik, tik.
Malam ini hujan turun membasahi bumi.
Elisa yang menghubungi Mj merasa heran dengan tingkah dingin Mj. Tak biasanya Mj bertingkah seperti ini.
Lamunan Elisa akan kebersamaan mereka menguap begitu saja.
"Pasti masih capek karena baru keluar dari rumah sakit, makanya dia begitu." Elisa tetap berpikiran positif terhadap sikap Mj di telepon.
"Sudah jam segini, tapi masih saja belum bisa memejamkan mata." Gumam Elisa seorang diri.
Malam ini anggota keluarga Cahyono diliputi dengan perasaan gundah dan bingung.
Elisa yang bingung dengan sikap Mj.
Alexandra yang bertemu dengan cinta lamanya.
Dan Marshella yang ditentang oleh tantenya karena menyukai seorang supir.
Di lain sisi, sang kepala rumah tangga di rumah ini berlatih bergerak ketika semua orang sudah terlelap. Tangan yang biasa nya bergerak perlahan mulai terlatih dan bisa membolak-balik kan telapak tangan. Keinginan yang kuat mendorong nya untuk sembuh dan bisa bergerak kembali.
"Akhirnya aku bisa bergerak walaupun belum bisa leluasa seperti dulu," batin Cipto.
Mulutnya berusaha berucap. Mulutnya masih bergetar ketika mulai berbicara. Elisa yang sudah terlelap, tidak tahu akan usaha Cipto seperti apa.
Hujan masih membasahi bumi. Semua orang di rumah Cahyono akhirnya terbuai oleh mimpi.
Rumah ini menjadi saksi dari beberapa kejadian yang banyak orang tidak tahu.
...---------------...
Pagi hari di kampung Mj.
Sumiyati di jemput oleh Fatma. Sumiyati heran akan tingkah Fatma selama ini. Fatma terlalu sering tersenyum lebar. Ketika di tanya oleh Sumiyati dia menjawab nya tidak ada apa-apa.
Fatma yang sudah berada di dalam mobil menunggu cucu dan nenek yang melangkah mendekati nya.
Braaakkk.
Pintu mobil tertutup.
"Tumben kamu cuti nak!"
"Sengaja bu, lagian lama gak cuti Bu." Cengir Fatma.
"Gak punya alasan kok ambil cuti!" ujar Sumiyati.
"Suntuk juga sih bu sama kerjaan!" sahut Fatma.
"Eyang, Tante, kita berangkat sekarang saja!" seru Nissa tak sabar.
Sumiyati dan Fatma saling berpandangan mendengar perkataan Nissa. Keduanya tersenyum lebar sambil melihat Nissa.
"Cucu eyang udah gak sabar!" ujar Sumiyati.
Nissa hanya menyengir lebar sambil mengangguk.
"Baiklah, kita berangkat sekarang!" seru Fatma sumringah.
Mobil melaju di jalanan yang kering. Embun pagi sudah mengering oleh sinar mentari.
__ADS_1
Fatma menyetir sambil tersenyum kecil.
Sumiyati melihatnya. Dia menggelengkan kepalanya pelan.
"Nak, ibu tanya lagi deh. Sebenarnya ada apa dengan mu? kok ibu perhatikan kamu lebih sering tersenyum dan raut wajah mu lho, ceria selalu." Tanya Sumiyati heran.
"Nanti ibu juga akan tahu kalau kita sudah sampai tempat tujuan." Jawab Fatma enteng.
"Tante, Nissa pengen banget tiduran di sini! boleh ya tante?" tanya Nissa sambil menepuk kursi mobil yang empuk.
"Boleh dong! kan Nissa cuma tiduran ajah gak ngerusak, he...he..he," Jawab Fatma.
"Makasih tante," girang Nissa. Dia langsung saja berbaring menguasai kursi bagian tengah.
Tak lama kemudian, Fatma membelokkan kendaraannya pada sebuah rumah. Rumah yang luas dan lumayan besar.
"Lho, rumah siapa ini nak?" Sumiyati celingukan melihat rumah itu.
"Kita turun saja dulu bu." Ajak Fatma.
Mereka bertiga keluar dari mobil dan melangkah mendekati rumah berpagar bagus itu.
Fatma menghubungi seseorang. Dari nada suaranya terdengar manja.
"Kita masuk bu, Nissa, ayo!" ajak Fatma ketika pintu pagar terbuka otomatis.
Sekuriti menyambut kedatangan mereka bertiga. Fatma memberikan kunci mobilnya pada sekuriti itu.
"Gak usah terlalu dekat dari rumah ya pak!" seru Fatma.
Sekuriti langsung mengangguk dan masuk kedalam mobil Fatma. Dia langsung mengendarai mobil Fatma kearah garasi rumah.
"Selamat pagi semua! selamat datang!"
" Nak Evans?" seru Sumiyati terkejut.
"Iya bu, ini saya! mari silahkan masuk bu!" ajak Evans gembira.
"Kalian sudah....? Sumiyati menggantung pertanyaan nya.
Evans dan Fatma hanya saling berpandangan dan tersenyum.
"Sudah hampir 2 minggu kami jadian Bu!" jelas Evans.
"Alhamdulillah, syukurlah kalau kalian berhubungan. Semoga bisa ke tahap selanjutnya ya nak Evans!"
"Aamiin Bu, doakan kami selalu ya!"
Evans tersenyum kecil.
"Insya Allah nak!" sahut Sumiyati.
"Eh kita kok jadi ngobrol disini ya! mari masuk dulu bu. Kita sarapan dulu!" ajak Evans ramah.
Sumiyati melihat sekeliling rumah Evans, luamayan besar dan mewah. Perabotan juga tak kalah mewah dengan penampilan rumah ini.
Setelah berkeliling sejenak, mereka menuju ruang makan.
"Nak Evans tinggal sendirian disini?" Sumiyati tak melihat ada orang tua Evans.
"Eh, gak kok bu. Ada mas Halim pak sekuriti, ada bi saroh juga. Jadi, 3 orang kami disini!" cengir Evans.
__ADS_1
"Orang tua nak Evans mana?"
"Mom dan dad ada di Australia bu."
"Wah beruntung sekali nak Evans. Jadi dokter, Tampan, dan punya segalanya." Puji Sumiyati.
"Evans juga bekerja keras dari kecil bu. Tidak langsung jadi sebesar ini!"
"Setidaknya kamu lebih beruntung dari kami nak! anak ibu harus merantau jauh ke pulau S agar hidup kami layak." Sendu Sumiyati.
"Ibu jangan bersedih. Kalau mau nanti suruh anak ibu pulang saja! biar Evans yang mencarikan pekerjaan buat dia!" tawar Evans tulus.
Sudah beberapa kali Evans dan Sumiyati bertemu. Sosok Sumiyati yang penyayang mengingatkan Evans akan sosok mommy nya di Australia. Setahun hanya dua kali saja orang tua Evans berkunjung ke rumah anaknya.
Kerinduan itu perlahan memudar seiring Evans bertemu dengan Sumiyati.
"Jangan nak, ibu bukan siapa-siapa. Jadi, tak pantas nak Evans kuatirkan!"
"Ibu sudah seperti keluarga sendiri buatku dan Fatma. Jadi, tidak usah sungkan dengan kami Bu!" Seru Evans senang.
Evans dan Fatma yang duduk berdekatan saling bergandengan tangan. Tangan mereka saling meremas mesra. Terpancar sinar bahagia dari kedua netra mereka.
Makanan sudah di hidangkan oleh bi Saroh. ART di rumah ini. Nissa uang yang hanya terdiam sedari tadi hanya bisa melihat makanan di depan nya.
"Om, makanan nya seperti nya enak!" cengir Nissa yang akhirnya bersuara.
"Makanya itu om ajak kalian sarapan di rumah ini. Bi Saroh itu pinter masak lho sayang!" Evans memuji bi Saroh kepada tamunya.
"Iya om, Nissa pasti habisin kok makanan nya." Girang Nissa.
"Mari kita sarapan dulu. Nanti om ajak Nissa jalan-jalan ke Mall. Mumpung om bertugas malam."
"Asyikkk, makasih banyak om Evans!"
Mereka berempat menyantap makanan dengan khidmat. Seperti sebuah keluarga yang harmonis dan kompak, mereka saling menyayangi walaupun tidak ada hubungan darah.
Sumiyati yang tersentuh dengan perlakuan Fatma dan Evans mulai membanding-bandingkan dengan kedua anak perempuan nya.
"Seandainya kalian tahu bahwa banyak sekali orang-orang yang sayang dengan kami disini IPah, Amah." Batin Sumiyati yang mengingat kedua anak perempuan nya.
...----------------...
Mj sudah berangkat bekerja. Dia berjalan perlahan dan tertunduk lesu. Dia akan menghadapi Elisa di rumah itu. Sebisa mungkin Mj berusaha untuk tampil tenang.
Tin, tin.
Klakson berbunyi di belakang Mj.
Sebuah kendaraan mengikuti nya.
Mj menoleh kebelakang.
"Kamu? sedang apa kamu disini?"
*
*
*
*
__ADS_1
Happy reading.