Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 9. Tidak mau tahu.


__ADS_3

Annisa sudah menungguku didipan teras


rumah. Dia duduk sambil memainkan


bonekanya. Sepertinya dia asyik sekali


bermain. Sampai-sampai aku yang tak


bersuara mendekati, tapi dia tidak


menyadari keberadaanku.


"Baaaaa...," ku kagetkan dia.


Dia terperanjat dengan aksiku.


"Ayaaaahhhh.....Nissa hayus di bawa ke


yumah cakit lho, nih...dug...dug...dug,"


tangannya menempel ke bagian dada


sebelah kiri sambil memancungkan


bibirnya.


"Aha..ha... anak ayah kan gak sakit, cuma


kaget...kaget nak," aku tertawa sambil


mencubit pipinya gemas.


"Maafin ayah napa, ayah kan mau bikin


kejutan sama Nissa, lagian ayah udah


pulang...eh...Nissa malah gak tau kalo ayah


uda disini," aku pura-pura ngambek


padanya.


"Nissa main sama Molly yah," sambil


mengacungkan bonekanya.


"Ini ada eskrim lho, rasa strawberry sama


rasa coklat, kamu mau makan yang mana


dulu?," tawarku.


Dia terlihat memikirkan sesuatu. Mungkin


dia bingung harus makan eskrim yang


mana dulu.


"Ayah tunggu sini ya," dia beranjak dari


dipan dan berlari masuk kedalam rumah.


Dua menit berlalu, dia membawa 3 gelas


plastik kecil. Aku hanya mengernyit


saja....bertanya-tanya. Sebenarnya apa yang


anak ini akan lakukan? padahal kan tinggal


makan saja eskrimnya.


"Ayah...cini esklimnya, tapi...yang cokkat aja


duyu yah.. ," pintanya padaku.


Diambilnya eskrim yang aku sodorkan


padanya.


Dia mematahkan eskrim dengan


sendok. Setengah eskrim coklat dia


masukkan dalam gelas yang berbeda.


Jadi 2 gelas sudah terisi eskrim coklat.


"Yang scrobeyi mana yah," pintanya lagi.


Aku memberikan sisa eskrim padanya.


Dia mematahkan lagi eskrim itu menjadi dua


bagian, satu bagian dia taruh di gelas kosong


dan satu bagian lain dia campur dengan


eskrim coklat tadi. Dan sekarang 3 gelas


sudah terisi dengan eskrim.


Aku tersenyum melihatnya seperti itu.


"Ini semua mau Nissa makan sendirian ya?,"


tanyaku sambil tersenyum.


Nissa menggelengkan kepalanya.


"Nissa mau yang eskyim ini ajah. Yang ini


buat nenek, yang ini buat kakek," terangnya


sambil memegang gelas berisi campuran


eskrim strawberry dan coklat.


Nissa meletakkan gelasnya didipan.


Dia membawa 2 gelas sisanya masuk ke


dalam rumah. Terdengar dia memanggil


kakek dan neneknya.


"Anak pintar. Dia mau berbagi makanannya


dengan orang lain," batinku.


"Sudah yah. Nenek sama kakek lagi makan


eskyim. Sekarang kita makan eskyimnya yah,"

__ADS_1


tawarnya padaku. Nissa sudah menyiapkan


sendok untuk memakan eskrimnya.


"Enak yah....yummy...bangett...," katanya


spontan.


"Tau yummy banget tuh darimana sayang?,"


Sambil menggelengkan kepalaku.


"Ya dayi tipi yah, banget ...banget...gitu,"


dengan gaya khas balita seusianya.


Aku tersenyum melihat tingkahnya. Setelah memakan eskrimnya sampai habis. Aku menggendong Nissa menuju kamar mandi. sudah sesore ini dia belum mandi karena sengaja menungguku makan eskrim.


Adzan Maghrib mulai terdengar. Kami


melaksanakan perintahnya dengan khidmat


dan khusyuk. Dalam doa, kami selalu meminta


kedamaian hidup dan ketenangan hati.


...----------------...


Ting....ting....ting


Terdengar suara sendok beradu dengan piring.


"Pasti Nissa yang memainkannya," gumamku


seorang diri.


Tap...tap...tap....


Suara langkah kaki terdengar menyusulku dari belakang. Kutolehkan pandanganku. Bapak keluar dari kamarnya.


"Bapak... tadi pagi, pagi sekali sih berangkatnya. Malik kan gak sempet pamit pak," ucapku padanya.


"Bapak udah janji sama pak Marjuki Lik.


Sawahnya harus di garap dan disuburkan


kembali. Maklum lah udah beberapa bulan


dianggurin," jawabnya.


"Kita makan dulu aja pak. keburu waktu Isya!,"


ajakku.


Kami beriringan menuju dapur. Didipan kayu


dapur, ibu dan Nissa sudah menunggu kami.


Makan malam seadanya khas kampung telah


tersaji. Menunggu untuk kami nikmati.


...----------------...


Pikiranku menyeruak kembali karena


kebenaran yang diungkapkan mas Kadir


Ku hisap rokok dalam-dalam. Mengobati


kalutnya hatiku. Aku mulai merokok lagi


disaat gundah melanda hati dan pikiran.


Orangtuaku menghampiri. Kami bertiga duduk


santai didipan kayu luar menikmati dinginnya


angin malam dan pemandangan malam yang


temaram.


"Gak usah mikirin hal yang udah berlalu nak.


Biarkan saja dia, kamu harus melanjutkan


hidupmu! baik ada dia disini ataupun tidak,"


ibu menyampaikan pemikirannya.


"Ibumu benar Lik! ngapain kamu harus


memikirkan orang yang sudah tidak berharga


buatmu. Buang-buang waktu saja lho nak,"


bapak menambahkan.


Kusundutkan rokok yang masih tersisa


setengah.


"Makasih ya buk...pak...hanya


kalian yang mengerti keadaan Malik


selama ini."


"Kalo bukan kami siapa lagi yang bisa


menghiburmu Lik. Masa Fatma ibu suruh


kemari untuk menghiburmu sih," ibu


menggodaku.


"Fatma lagi nih yang mulai dibahas," sahutku.


"Daripada bahas perempuan itu. Ya wajarlah


ibu ngebahas Fatma. Anak gadis yang


manis, pintar dan baik," ibu sumringah.


"Calon mantu idamannya ibuk ya? tapi kan


ibu tau sendiri kalo Malik nganggep dia


tuh gimana," Jelasku lagi.


"Ibu tau sih. Tapi masalahnya kamu harus


membuka hatimu buat perempuan lain Lik.

__ADS_1


ini asyik-asyik nariiiiikkk mulu gak ada


liburnya udah sebulanan ini," sungut ibuku


kesal.


"Belum ada yang pas di hati buk. Kalau


udah ada nanti Malik pasti kasih tau ibu dan


bapak....oke," kerlingku membalas kekesalan


ibu.


"Annisa tumben banget ya dia tidur awal


malam ini. jadi sepi gak denger celotehnya,"


akhirnya bapak buka suara setelah


mendengar perdebatan kecil antara aku dan ibu.


Kami hanya mengangguk tanda setuju.


...----------------...


Pagi menjelang. Aku melihat ada gelagat


seorang perempuan di seberang jalan depan


rumah. Dia terlihat gusar dan mondar-mandir


berkali-kali.


Aku hanya melihat dari jauh. Tak tau dia


siapa. Ku panaskan motor butut


kesayanganku sebelum berangkat


ke rumah pak Ahmad.


Annisa mendekat kepadaku. Sepertinya dia


baru bangun tidur dan mencariku.


Molly...boneka kesayangannya ada di


pelukannya.


"Ayah...Nissa mau naik motor bareng


ayah!," rengeknya padaku.


"Ayah kan harus kerja. Masak Nissa harus


ikut. Diluar itu panas banget lho," ujarku


lagi sambil meringis kepanasan.


"Tapi Nissa kan pengen ikut ayah. Nissa


pengen tau ayah kerja dimana," rengeknya


lagi.


Ku gendong gadis kecil ini. Ku seka peluh


yang mulai menetes dari dahinya.


"Emmm....gimana kalo nanti ayah libur.


ayah ajak Nissa naik motor. Kita keliling


kampung...oke," sambil ku acungkan jari


kelingking padanya.


"Oke.....ayah janji lho," dia mengaitkan jari


kelingkingnya yang mungil.


"Sekarang. Ayah harus pergi kerja. Nissa


masuk dulu sana. Mandi yang bersih! bauk


acem tawuuu...," kutirukan kata-katanya yang


biasa dia ucapkan padaku ketika pulang kerja.


Nissa berlari masuk ke dalam rumah sambil


memanggil neneknya.


Aku hanya menggelengkan kepala.


"Bocah itu...pasti dia bosan dirumah terus. Fatma kan udah jarang kesini semenjak kerja


di kota sebelah," gumamku seorang diri.


Perempuan itu memperhatikan kami sejak


tadi. Dipakainya topi ketika aku melihatnya.


"Daritadi cuma berdiri disana. ngapain coba?


aneh sekali, orang gila kali ya cuma berdiri


sambil mondar-mandir gak jelas," batinku


sambil meninggalkan rumah.


Aku melesatkan motorku di jalanan kampung


ini. Aku sudah tak mau tahu lagi. Apa yang


akan terjadi dengan wanita itu. Wanita


pengkhianat.


Pikiranku sudah normal kembali karena


aku harus mengalihkannya pada Annisa.


Gadis kecilku satu-satunya.


Aku bersiul sambil memecah kesunyian jalan


ini dengan suara motor butut ini. namanya


juga motor butut, pasti suaranya merdu


dan spesial....ha...ha...ha.

__ADS_1


__ADS_2