
Seringai wanita itu sungguh licik. Tampaknya dia mengamati Sandra yang belum sadarkan diri di Rumah sakit. Wanita itu melangkah menjauh dari kamar perawatan Sandra. Ia lega dan puas ketika tahu keadaan Sandra yang sebenarnya.
Elisa mengamati Sandra yang masih dalam keadaan koma.
Ceklek, pintu terbuka lebar.
Silvia yang baru pulang sekolah menghampiri brankar Sandra. Ia mencium tangan Sandra sambil menangis tersedu.
"Tante bangun, Silvia disini tante!" rengek Silvia.
Tak ada respon apapun dari Sandra. Silvia kemudian melihat Elisa.
"Heh elo orang kampung! semua ini karena ulah elo yang kampungan itu!" tuduh Silvia.
"Kok aku? aku tak berbuat apapun! aku hanya meninggalkan om Cipto pergi ke toko tadi." Belaku.
"Kalau elo gak nyuekin papa dia gak mungkin jatuh dan dibawa ke Rumah sakit!" Silvia masih saja menuduh Elisa.
"Uhuk, uhuk! " suara batuk pelan.
Suara batuk itu mengejutkan Elisa dan Silvia bersamaan. Sontak keduanya menoleh kearah Sandra yang terbaring.
"Aku akan panggil dokter!" Elisa keluar kamar dan berlari.
"Tante, Silvia dan kak Shella ada disini!" seru Silvia.
Sandra hanya menoleh kearah Silvia. Mulutnya masih sakit ketika digerakkan. Ia tak mampu mau berbicara. Sekujur badannya terasa remuk redam.
Dokter datang bersama Elisa, dokter memeriksa Sandra dan bernafas lega.
"Syukurlah anda sadar. Sementara ini tak ada gejala kerusakan organ vital. Anda harus segera minum obat!" dokter menjelaskan panjang lebar.
Dokter sudah berpesan pada keluarga Sandra. Sandra tak boleh tahu tentang keadaan kakinya saat ini karena bisa mempengaruhi mental dan kesehatannya. Sandra pun merasa mati rasa diarea paha ke bawah tapi ia tak berkata apapun kepada dokter. Ia berpikir mungkin itu hanya efek setelah ia bangun dari koma seharian.
Dokter dan suster sudah pergi meninggalkan kamar tempat Sandra dirawat. Kini tinggallah mereka bertiga.
Sandra menatap Elisa dengan sorot mata yang marah. Ia seperti ini karena ulah Elisa.
"Pergi kamu dari sini orang kampung!" Sandra menahan agar tak berteriak kencang. Ia tak mau mulutnya menahan sakit.
Elisa terkejut dengan ucapan Sandra yang mengusirnya. Ia pun keluar dari kamar itu secepatnya. Ia tak mau membalas perkataan Sandra.
"Tante, kenapa bisa jadi begini?" Silvia mengungkapkan rasa penasarannya.
"Seingat tante ada mobil berwarna hitam mepet mobil tante ke pembatas jalan. Karena tante gak mau mati konyol jadi banting setir. Tapi, beginilah keadaannya sekarang. " Sandra meratapi nasibnya.
"Kalau begitu bukan murni kecelakaan tante! apa ini semua ada hubungannya dengan orang kampung itu?" dugaan Silvia.
"Maksudnya Elisa? dugaan Silvi ada benarnya!" Sandra pun mulai curiga.
Mereka berdua berbincang. Sementara di kamar perawatan yang lain, Elisa duduk di tepi brankar Cipto yang masih saja tak sadarkan diri. Shella masuk kedalam kamar, ia sudah siap melihat papanya lagi yang tak berdaya.
__ADS_1
"Orang kampung, keluar dulu sana!" perintah Shella.
Elisa tak menyahut, ia melangkah pergi begitu saja. Ia sebenarnya kasihan melihat Cipto dalam kondisi seperti itu. Tapi, semua keluarga Cahyono yang lain malah menudingnya sebagai dalang dari semua ini.
Di koridor Rumah sakit Elisa melangkah perlahan. Tujuannya pergi ke kantin RS. Perutnya terasa bergejolak minta diisi.
Setengah jam berlalu. Elisa masih tenang dan nyaman ketika duduk seorang diri di meja makan di kantin RS.
Tap, tap, tap.
Suara langkah kaki yang cepat dan keras terdengar. Elisa menoleh dan heran kenapa orang di depannya itu begitu terburu-buru.
"Maaf bu, anda di tunggu pasien kamar Dahlia sekarang juga!" ucap Suster itu sambil mencoba mengatur nafas.
"Itu kan kamar suami saya Sus! ada apa dengannya?" tanya Elisa.
"Pasien sudah sadar bu, pasien ingin berbicara dengan anda!" jelas Suster lagi.
Elisa beranjak dari duduknya dan segera bergegas ke kamar Cipto. Ia bersyukur karena Cipto sudah sadar.
Ada Silvia dan Shella disana. Elisa mendekat kearah Cipto. Cipto meraih pergelangan tangan Elisa.
"Alhamdulillah kamu udah sadar om!" ucapnya lega.
"Elisa, maaf-maafkan aku!" gumam Cipto pelan.
"Kenapa kamu minta maaf om, seharusnya aku yang meminta maaf pada om!" sesalnya tertunduk.
Tangan Elisa digenggam tak dilepas oleh Cipto.
"Suster tolong papa saya!" Shella berteriak memanggil Suster.
Suster masuk dan memencet tombol darurat. Dokter datang dan memeriksa keadaan Cipto lagi. Elisa, Shella, dan Silvia keluar ruangan karena perintah Suster. Mereka bertiga khawatir dan bingung.
"Kak, papa kak!" isak tangis Silvia mulai terdengar. Ia memeluk Shella dengan erat.
Elisa pun tak kalah khawatir.
"Siapa yang menjaga Sandra kalau kalian berdua disini?" tanya Elisa.
"Ada orang suruhan om Rexy tadi kesana! tante Sandra aman!" Shella menyahut.
"Syukurlah kalau begitu!" Elisa bernafas lega.
Dokter keluar dari ruangan Cipto.
Mereka bertiga berkumpul dan bertanya tak sabar. Dokter mulai berbicara.
"Maaf, pak Cipto Cahyono tidak bisa tertolong lagi. Riwayat sakit yang lama berefek pada saraf utama. Maafkan kami, kami dari pihak Rumah sakit sudah berusaha semaksimal mungkin. Kami turut berdukacita." Terang dokter yang berkata pelan.
Shella dan Silvia sontak masuk kedalam. Mereka menangisi kepergian papanya. Shella mencium pipi Cipto, air matanya menetes membasahi badan Cipto. Silvia meraung sambil mengguncang tubuh papanya. Ia tak sanggup kehilangan orangtua satu-satunya.
__ADS_1
Elisa merangkul Silvia. Dalam keadaan seperti ini Silvia memeluk Elisa sambil menangis.
Lima belas menit kemudian Sandra di berikan informasi setelah kondisi Sandra mulai normal kecuali kakinya yang lumpuh. Sandra yang shock ingin segera menemui abang satu-satunya itu. Ia menangisi kepergian Cipto.
Shella, Silvia dan Sandra tengah berduka cita.
Raut wajah mereka bertiga sembab oleh air mata.
Jenazah sudah dibawa pulang oleh ambulans. Orang berdatangan untuk melayat dan mengaji untuk Almarhum. Satu jam kemudian, jenazah siap di makamkan. Kedua anak Cipto masih tak rela ketika berada di pemakaman. Mereka diam membisu dan tak mau beranjak dari sana walaupun banyak orang yang mengajak mereka pulang. Elisa menunggu kedua putri Cipto. Sandra pun tak kuasa melihat makam abangnya. Rexy mendorong kursi roda menjauh dari pemakaman.
"Kenapa kakiku lemas dan seperti tak bertenaga?" tanya Sandra cemas.
"Mungkin itu karena kamu shock sayang, sebentar lagi pasti kakimu baik-baik saja!" ucap Rexy menenangkan Sandra. Ia tak mau membuat Sandra lebih terpukul karena keadaan kakinya yang lumpuh.
Rumah Cahyono yang megah kini telah sunyi. Orang-orang pulang kerumah masing-masing. Para anggota keluarga yang lain hanya terdiam tak berkata sepatah katapun. Sandra dibawa kembali ke RS tempatnya dirawat.
Setelah kondisinya membaik barulah ia boleh pulang walaupun dengan kaki yang sudah lumpuh.
Selang tujuh hari, Elisa mulai melupakan Cipto dan kembali teringat pada Malik. Ia menjalani masa Iddah di rumah itu sambil memikirkan rencana selanjutnya. Tak disangka statusnya kini menjadi seorang janda. Sandra dan Silvia bahkan Sandra tak pernah mengusirnya dari rumah itu. Mereka bertiga berharap Elisa mau menemani ketiganya dirumah mewah Cahyono.
"Maaf, aku tidak bisa tinggal disini lagi! terlalu banyak kenangan disini, aku akan pindah secepatnya!" Elisa sudah berucap tegas.
"Baiklah kalau itu memang keinginan elo!" Shella menyahut.
Elisa pindah ke Rukonya. Ia nyaman berada disana. Semua fasilitas dari keluarga Cahyono ia pulangkan kembali, termasuk mobil yang biasa ia pakai. Ia tak mau kemudian hari ada anggota keluarga yang lain mengungkit.
Kini ia terbiasa memesan ojek online ketika ia mau bepergian.
*Flashback off.
"Begitulah mas kenapa aku bisa berada didepan mu sekarang ini."
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un. Aku pikir om Cipto rela menceraikan kamu, tapi ternyata!" Malik menggantung ucapan nya.
"Begitulah keadaan mereka sekarang disana! Rexy yang mengurus Sandra dan keponakannya. Karena Rexy yang akan menjadi kepala rumah tangga nanti ketika Sandra sudah sembuh dari lumpuhnya!" Jelas Elisa.
"Baguslah ada Rexy, Rexy seperti nya orang yang baik!" duga Malik.
"Dia memang baik mas, Sandra beruntung dicintai oleh Rexy!" Elisa menambahkan.
"Udah sore ternyata, dengar cerita kamu malah lupa waktu!" Malik beranjak dari duduknya.
"Tunggu sini! aku akan membayar makanan ini dan pergi ke Toilet!" suruh Malik.
Tak berapa lama mereka berdua pulang kerumah, tak lupa Elisa membeli mainan dan aksesoris rambut untuk Annisa. Mungkin sekarang inilah kebahagiaan yang Elisa inginkan.
*
*
*Masih bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak.
Selamat membaca 🤭🤭🤭