
Dirumah keluarga Cahyono.
Rexy menghampiri Sandra setelah Silvia dan Marshella masuk kedalam rumah. Rexy mengajak Sandra agar masuk kedalam.
"Kita masuk aja yuk sayang! udah sore begini." Ajak Rexy. Ia melihat ada gerakan aneh di luar ketika ia berpaling memegang bahu Sandra tadi.
"Iya, udah sore banget sih." Sandra tersenyum dan menggandeng lengan Rexy agar mampu berjalan walaupun tertatih.
Rexy masih menatap gerakan tadi. Ternyata dugaannya tepat. Ada seseorang dibalik pintu pagar depan rumahnya. Ia beberapa kali menangkap sekelebat bayangan itu.
"Langsung ke kamar aja yuk yang! biar kakimu istirahat dulu." Seru Rexy perhatian.
"Iya, kakiku juga agak nyeri nih!" ucap Sandra.
Setelah mengantar Sandra masuk ke dalam kamar, Rexy merogoh ponsel dari kantong.
Panggilan terhubung.
"Kamu ikuti siapa wanita itu! apakah benar dia orang yang aku curigai! dapatkan bukti dan informasi sekarang juga!" perintah Rexy.
Orang yang di hubungi Rexy mulai melancarkan aksinya. Ia yang tengah berada di dalam mobil sedari tadi memasang kamera kecil di mobil. Wanita itu terlihat di kamera dashboard yang sengaja dipasang untuk mengintai.
"Aku akan mengikuti Walaupun sampai lubang semut sekalipun!" ucap pria itu yakin.
Orang suruhan Rexy membuntuti target. Target nya sendiri adalah Jessica, mantan Rexy yang pintar bermain drama di kehidupannya dulu ketika sedang berhubungan dengannya.
Tibalah target disebuah rumah kosong. Tampak dari luar rumah itu tak berpenghuni karena banyaknya rumput liar yang tumbuh tinggi menjulang.
Jessi keluar dari mobil. Ia celingukan ke kiri dan ke kanan memantau sekeliling. Mobil suruhan Rexy berhenti di rumah seberang. Jessi tak tahu bahwa ia tengah di buntuti sedari tadi.
Jessi membawa masuk mobilnya di halaman depan rumah kosong itu. Rumput yang tinggi sudah terlindas. Ia masuk setelah dirasa keadaan cukup aman.
"Saatnya beraksi!" pria itu tersenyum lebar.
Ia membuntuti Jessi. Hari sudah mulai gelap, Jessica menelpon seseorang.
"Sialan kalian berdua! kenapa si pelacur Sandra itu belum mati juga? apa kerja kalian selama ini?" Jessica mengoceh pada suara di telpon.
"Maafkan kami bos! sekarang juga kami akan mengintai dan menunggu Sandra lengah!" balas pria itu.
Suruhan Rexy yang bernama Anton menyeringai licik. Ia bersembunyi dibalik tembok yang sudah terkelupas parah.
"Kalian berdua, cepat datang kesini! aku sekarang berada di markas!" perintah Jessica.
"Baiklah bos kami akan kesana!" sahutnya lagi.
"Jangan bertindak apapun sebelum aku suruh! rencana kalian gak pernah becus!" pekik Jessica geram.
"Maaf bos, kami segera kesana!" sahut suara itu lagi.
Jessica mematikan ponselnya. Ia duduk bersandar pada kursi satu-satunya yang masih bagus dan mungkin sengaja dia bawa untuk tempat duduknya.
Anton hanya mengangguk tanda mengerti. Ia mengetik pesan pada seseorang. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri akan alamat lengkap rumah kosong ini.
__ADS_1
"Ah, ketemu!" bisik Anton menemukan papan alamat rumah ini.
"Siapa itu?" tanya Jessica curiga.
Ia mendengar ada suara kayu yang terinjak.
Meong, meong.
Anton menirukan suara kucing. Ia membekap mulutnya sendiri agar tak tertawa.
"Dasar kucing si*lan! pergi sana!" Jessica melempar sebuah botol kosong.
Plaaakk. Entah kenapa botol itu bisa pas terkena jidat Anton.
"Aduh!" Anton mengaduh sambil membekap mulutnya agar tak terdengar.
"Sialan tuh cewek! beneran kejam jadi manusia!" sungut Anton pelan.
Sepuluh menit berlalu, kedua orang suruhan Jessica akhirnya datang juga berbarengan dengan pesan singkat yang di terima Anton.
Ketikan pesan Anton.
"Sekarang juga kalian harus masuk dan membuktikannya sendiri."
Balasan pesan.
"Semoga saja informasi dari anda valid kalau tidak kami akan menuntut karena anda salah satu penyebar hoax."
"Tidak usah buang waktu, kalian secepatnya harus masuk sekarang juga!"
Anton yang tersenyum simpul tengah melambaikan tangannya pada empat orang
yang menyelinap masuk ke rumah kosong.
Keempat orang itu berusaha mendekati Anton dengan perlahan dan secara sembunyi. Anton menyerahkan ponselnya.
"Ini pak rekaman wanita itu tadi." Anton mulai tersenyum lebar.
Sebuah rekaman Jessica tadi terdengar jelas. Keempat pria itu mulai mengeluarkan pistol nya. Salah satu dari mereka berempat maju.
"Jangan bergerak! kalian bertiga kami tahan!" perintah kepala tim kepolisian.
"Apa salah kami pak? kami hanya mengobrol disini!" Jessica berkilah.
"Inilah salah kalian!" polisi satunya mengeluarkan ponsel Anton tadi sebagai buktinya.
Jessica kaget setengah mati. Ia gemetar ditempat tak tahu lagi harus kemana.
Sementara pria botak dan cepak berusaha kabur. Mereka berdua berlari secepat mungkin.
"Jangan kabur kalian!"
Doorrr. Suara pistol terkena sasaran. Kaki pria botak terkena tembakan dan jatuh tersungkur.
__ADS_1
Sementara pria cepak berhasil kabur. Polisi mengejar sambil membidik pistol nya.
Anton dan seorang polisi mengamankan Jessica yang sudah diborgol. Anton tersenyum senang. Dua polisi mengejar pria cepak itu.
Pria botak yang jatuh telah di borgol tangannya. Kedatangan polisi secara diam-diam ternyata membuahkan hasil.
Adegan kejar-kejaran berlangsung cukup sengit. Pria cepak itu berlari kencang bagaikan pelari profesional.
Dorrr. Akhirnya pria itu jatuh terjerembab ketika betisnya terkena peluru dari pistol.
Hosh, hosh. Suara nafas ketiganya tersengal-sengal.
"Dasar pembuat onar! berani-beraninya mau kabur dari kami!" polisi itu menoel kepala pria cepak.
Jessica dan pria botak tengah menunggu didalam mobil polisi. Tak berapa lama kedua polisi membawa kembali pria cepak yang jalannya terpincang-pincang.
"Kita tunggu bantuan dari yang lain! jaga sekeliling sampai bantuan datang!" perintah polisi senior dengan pangkat yang lebih tinggi.
"Siap pak!" ketiga polisi lainnya kompak mengiyakan.
Lima belas menit berlalu. Bantuan datang, Para medis datang mengeluarkan peluru yang bersarang di betis dan paha kedua penjahat itu. Sementara Jessica tengah berusaha menelpon pengacaranya. Ia tak mau hidupnya harus berada di jeruji besi. Namun tak satupun pengacara yang mau menerima kasus Jessica ini. Rexy sudah menghubungi seorang pengacara ternama. Ia menyebarkan bahwa kasus Jessica akan ia usut tuntas dan akan memenangkan kasus ini. Rexy yang mempunyai kuasa mulai bertindak. Pengacara senior itupun menghubungi pengacara lainnya agar tak ikut campur dalam masalah ini.
Kini ketiga orang yang sudah mencelakai Sandra dan Cipto tengah meringkuk di penjara. Mereka bertiga menunggu proses sidang.
Anton menemui Rexy dan mendapatkan bayaran yang setimpal atas jasanya selama ini.
"Welldone bro! penyelidikan mu selama ini sungguh tak sia-sia!" ucap Rexy sambil menepuk pundak Anton.
"Bos juga ikut bantu kok!" senyum Rexy sumringah.
Shella yang keluar dari kamarnya melihat Anton dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Ia terpana akan ketampanan Anton yang seperti artis Asia tenggara. Rexy tahu akan tatapan mata Shella.
"Ekhem." Rexy berdehem keras.
"Om Rexy kenapa sih? Shella kan cuma mau kedapur." Sungut Shella sebal.
"Jangan lama-lama Shel, ada yang mau kenalan nih!" goda Rexy.
"Bos!" Anton mendelik pada bosnya.
"Hahahha, kalian ini ternyata imut juga!" Rexy tertawa kencang melihat tingkah malu-malu dari Anton dan Shella.
*
*
*Masih bersambung.
Ditunggu terus beberapa bab terakhir.
Selamat membaca.
Terimakasih atas dukungan semuanya 🤗ðŸ¤.
__ADS_1