Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 64. Kekecewaan yang mendalam


__ADS_3

*Author POV.


Elisa dan Mj masih terbawa suasana. Mereka hanya saling pandang dan terdiam memikirkan langkah selanjutnya. Langkah dan pilihan yang harus mereka pilih untuk hidup mereka kedepannya. Dari awal Elisa tahu kalau dia salah telah mencintai pria lain selain suaminya.


Suami yang hanya diatas kertas saja, begitulah pikiran Elisa selama ini.


"Mas, Sandra dan Marshella sudah tahu kalau hubungan kita mulai serius. Apa yang harus kita lakukan?" tanya Elisa ragu.


"Tenanglah! kita hadapi konsekuensinya bersama! pasti akan ada jalan keluar buat kita!"


Mj menenangkan Elisa.


"Elisa takut mas, om Cipto memang masih sakit. Tapi, Sandra atau Marshella pasti akan menghalangi kita!" Elisa mulai terisak.


"Kok malah muncul cengengnya nih, biasanya ngelawan terus pantang mundur." Seru Mj yang mencubit pipi Elisa pelan.


"Kuatir aja sih mas, takut kita kenapa-napa." Sambung Elisa.


"Berdoa saja, semoga Tuhan dan takdir berpihak pada kita!" senyum Mj mengembang.


"Aamiin, insya Allah mas." Elisa pun membalas senyuman Mj.


Genggaman tangan mereka semakin erat. Senyum mulai terkembang lebar. Kamar perawatan ini menjadi saksi bisu percintaan mereka berdua. Sepasang anak adam yang dilanda rasa cinta dan kasih sayang.


...----------------...


Rumah mewah keluarga Cahyono.


Sandra punya rencananya sendiri agar Elisa cepat menyingkir dari rumah ini. Sedari awal pernikahan abangnya dan Elisa membuat Sandra tak terima akan keputusan sang kakak.


Apalagi ketika tahu bahwa semua hutang orang tua Elisa dibayar lunas oleh sang abang.


"Bang, lebih baik abang lepaskan Elisa! dia sudah berselingkuh bang!" saran Sandra.


Cipto hanya mampu berkedip sambil mendengarkan ucapan Sandra. Tangannya bergerak perlahan.


"Tadi, waktu Sandra ke rumah sakit nyusul Shella. Sandra lihat sendiri Elisa menggenggam tangan supir itu dengan erat."


"Kalau kaya gini terus, abang yang rugi. Sudah banyak uang yang abang kasih sama Elisa, tapi balasannya kaya gini?" cemooh Sandra.


"Abang harus sembuh dan menceraikan Elisa! dia harus keluar dari rumah ini secepatnya!" seru Sandra tak sabar.


"Mulai besok abang akan Sandra bawa berobat ke Singapura! jadi, mau gak mau abang harus nurut sama Sandra!" jelas Sandra.


Air bening menetes sedikit demi sedikit. Sandra bingung kenapa abangnya menangis.


"Abang nangisin siapa? nangisin Elisa? jangan gegabah bang!" bertubi-tubi Sandra bertanya.


"Kita masuk dulu! biar abang bisa beristirahat di dalam!" ajak Elisa sambil mendorong kursi roda itu.


Sandra masuk ke dalam rumah. Marshella yang ada di ruang tamu menoleh dan melihat air mata yang menetes di wajah papanya.


"Tante tunggu! papa kenapa menangis?" Shella beranjak dari tempat duduknya.


"Nangisin istrinya yang selingkuh mungkin!" sahut Sandra enteng.


"Dih, om Mj gak pantes sama orang udik itu. Marshella Cahyono yang pantes tau!" geram Shella.


"Tuh lihat abang! anak gadismu juga kepincut sama supir kampung!" cibir Sandra.


"Kampung sih iya tant, tapi mukanya gak kampungan!" sahut Shella tak mau kalah.


"Dibilangin masih ngeyel ya kamu ini!" balas Sandra sengit.


"D-di-a-m." Ucap Cipto bersuara lirih dan terbata.


Marshella dan Alexandra mendengar ke asal suara. Mereka tidak percaya karena akhirnya Cipto bisa bersuara.

__ADS_1


"Abang, ayo bang ngomong lagi!" girang Sandra.


"Gawat ini, kalau papa sembuh total. Apa yang akan papa lakukan padaku?" batin Shella gelisah.


"Duh, aku harus gimana?" batinnya lagi.


"Shella, papamu sudah mulai bisa ngomong. Nanti tante panggilkan dokter keluarga kita kesini!" girang Sandra.


"Eh, iya tante. Panggil saja tante." Senyum Shella yang di paksakan.


...----------------...


Di sudut kampung, sebuah rumah sederhana nan mungil.


"Pak, ibu kok khawatir sama anak kita ya!" gelisah Sumiyati.


"Kalau Malik aja gak ngasih kabar 2 hari kuatir. Coba kalau Ipah sama Amah gak ngasih kabar berbulan-bulan. Reaksi ibu biasa aja tuh!" cibir Sugeng.


Bukannya menenangkan istrinya, Sugeng malah membandingkan dengan kedua anak mereka lainnya.


"Ipah sama Amah itu sudah berkeluarga pak. Sudah ada suami yang menjaga. Kalau Malik kan sendirian di pulau S. Makanya ibu kuatir sekali sama dia." Jelas Sumiyati.


"Malik itu lelaki dewasa bu, bukan anak kecil lagi. Jadi, biarkan saja dia dengan kemauannya sendiri. Nanti kalau sempat pasti dia akan menelpon." Hibur Sugeng.


"Ibu, lihat itu! Nissa mulai bertingkah lagi!" tunjuk Sugeng pada cucu kecilnya.


Annissa memanjat pohon di depan rumahnya.


Pohon Mangga yang sudah mulai berbuah. Dia menggendong Molly, boneka kesayangannya.


"Waduh pak, tuh anak kok kaya anak cowok sih. Cepat pak bawa kemari!" pekik Sumiyati khawatir Nissa akan terjatuh.


Sugeng berlari menghampiri Annissa di atas pohon. Nissa yang duduk di batang pohon hanya tersenyum sumringah melihat eyang kakungnya berlari.


"Yangkung larinya lucu deh, hi...hi." Cengir Nissa lebar.


Hoss, hoss ,hoss.


"Sini sayang, turun sama eyang!" ajak Sugeng.


"Nissa pengen itu eyang!" tunjuk Nissa pada buah mangga yang lumayan besar.


"Itu masih mentah, gak boleh di makan! nanti bisa sakit perut lho!" seru Sugeng.


"Tapi eyang, Nissa pengen makan mangga itu!" Nissa meminta lagi.


"Nanti sore pergi sama yangti aja kepasar beli mangga, mau ya? sekarang turun yuukk!" bujuk Sugeng.


Nissa berpikir sejenak, kemudian dia mengangguk dan mau turun di gendong oleh eyang kakungnya.


"Astaghfirullah Nissa, kamu kok bisa manjat pohon sih. Untung saja eyang kakung ngelihat nak!" risau Sumiyati.


"Manjat pohon asyik lho eyang, he..he." cengir Nissa polos.


"Lain kali gak boleh gitu ya!" nasehat Sumiyati.


"Kalau misal jatuh, yang sakit siapa coba?" tanya Sumiyati.


"Nissa dong yang sakit eyang! kan Nissa yang naik pohon, iya kan!" jawab Nissa polos.


"Makanya kalau mau naik pohon harus kasih tau eyang biar di jaga sama eyang! ngerti kan nak?"


Nissa hanya mengangguk sekilas.


Tulilut, tulilut, tulilut.


Terdengar suara ponsel berdering secara perlahan. Sumiyati spontan meninggalkan suami dan cucunya. Dia langsung berlari masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Alhamdulillah, akhirnya kamu menelpon juga nak!" Senyumnya lebar ketika Sumiyati memeriksa layar ponsel secara jauh.


Setelah saling mengucap dan menjawab salam.


"Kemana saja kamu Lik, ibu khawatir sekali nak!" risau Sumiyati menghilang seketika.


"Maaf bu, ponsel Malik tertinggal di rumah bos. Sementara Malik libur kerjanya." Bohong Malik tak ingin membuat ibunya tambah khawatir.


"Tapi, kamu baik-baik saja kan? suaramu kok beda Lik?" Sumiyati curiga.


"Oh, ini hanya pilek saja bu. Tenanglah Malik baik-baik saja disini."


"Ganti ke panggilan video saja nak!" pinta Sumiyati.


Malik yang tidak mau menambah pikiran ibunya terpaksa berbohong lagi dan lagi.


"Maaf bu, data internet Malik sudah habis. Lain kali saja ya!"


"Eyang....Nissa juga mau ngobrol sama ayah!" sela Nissa.


"Baiklah nak, nih!" Sumiyati menyodorkan Ponsel ke arah Nissa.


"Ayahhhh, Nissa tadi naik pohon! asyik banget yah!" riang Nissa.


"Waduh, anak cewek gak boleh naek pohon! main boneka saja ya!" suruh Malik.


"Nissa bosen ayah!" sungut Nissa.


Mereka sekeluarga bergantian mengobrol dan saling melepas rindu satu sama lain.


Sementara itu di dalam kamar perawatan, ada raut wajah murung melihat Malik bersenda gurau bersama keluarganya.


"Seandainya keluargaku masih lengkap. Mungkin saja nasibku tidak akan seperti ini" Gumamnya seorang diri.


Kriiinggg....kriinnggg.


Ponsel Elisa terdengar nyaring.


"Maaf mas." Pamitnya sambil beranjak keluar dari kamar ini.


Elisa melihat layar ponselnya.


"Bunda, kenapa bunda menelpon? padahal sudah lama sekali." Gumam Elisa langsung menjawab panggilan itu.


Setelah hampir 5 menit berlalu.


"Apa? tidak mungkin bunda!" Elisa lemas dan meneteskan air bening di pipinya.


*


*


*Happy reading. Semoga sebulan ini Author bisa meng update 2 bab setiap harinya. Jangan lupa dukungannya untuk karya pertama Author.


Beri like di setiap bab, komen, favorit, rate⭐️ 5 dan votenya. Bisa memberikan gift berupa 🌹,❀, ataupun β˜•. Terimakasih semuanya πŸ™πŸ’–.


Di bawah ini ada visual Marshella, Silvia dan Cipto. Semoga bisa menambah kehaluan para readers maximal 😁. Bisa tambahkan di kolom komentar siapa nama asli dari artis ini.



Marshella Cahyono yang seenaknya sendiri. Tak mau mengalah dan bucin sama Mj.



Silvia Cahyono yang bisa berpikir realistis dibandingkan Shella. Silvia bisa berubah karakter tergantung siapa temannya. Dia hanya mau ikut-ikutan.


__ADS_1


Cipto Cahyono pengusaha sukses dan kaya raya yang masih sakit stroke karena suatu kejadian. Sifatnya keras kepala, tapi sangat menyayangi Elisa. Tegas dan berkarakter kuat demi anak-anaknya yang tumbuh besar tanpa seorang ibu.


Cukup sampai disini β€¦πŸ€—πŸ˜


__ADS_2