Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 43. Kesalahan pertama kami


__ADS_3

Sore ini aku di panggil nyonya Elisa.


Dia ingin mencarikanku kamar kos yang jaraknya dekat dari rumah ini. Agar aku tidak perlu bersusah payah naik kendaraan umum tiap harinya.


Aku sudah memanaskan mobil dan menunggu nya.


Klik


Pintu mobil terbuka.


"Langsung jalan aja mas Mj! kuatir keburu malam. Banyak hal juga yang harus aku sampaikan padamu mas." Seru Elisa.


"Baiklah nyonya." Sahutku singkat.


Pintu pagar sudah terbuka otomatis. Pak satpam berdiri dan menunduk pada Elisa pertanda hormat pada sang nyonya.


Aku mengendarai mobil ini dengan nyaman.


Biasanya aku hanya menyetir mobil angkot ataupun mobil mas Toni. Tapi, mobil ini berbeda. Mobil ini canggih, di sertai GPS dan sistem kemudi otomatis. Ya walaupun aku belum bisa menggunakannya. Setidaknya aku harus belajar.


"Mas Mj, di seberang sana berhenti sebentar ya!" seru Elisa.


"Baiklah nyonya." Sahutku singkat.


Elisa membuka pintu mobil dan masuk ketempat duduk di sebelah kemudi.


Dia ternyata hanya pindah kesini. Aku pikir dia mau ngapain.


"Jalan lagi mas!" serunya.


Aku hanya menganggukkan kepalaku. Dan menjalankan mobil kembali ke jalan raya utama.


"Aku arahkan jalannya dulu. Mas Mj kan belum hafal jalanan sini!" Serunya.


"Baiklah nyonya!" sahutku singkat.


Tiba-tiba saja ada tangan yang mencubit pinggangku.


Aku menoleh sekilas. Elisa terseyum dengan manisnya. Matanya berbinar. Berbeda sekali ketika dia berada di rumah.


"Nyonya, nyonya terus mas. Gak bosen apa panggil aku nyonya. Ini sudah keluar jauh dari rumah. Jadi panggil Elisa aja!" suruhnya.


"Baiklah nyonya, eh Elisa!" aku mulai tersenyum jahil.


Dia memandangiku. Keningnya berkerut heran.


"Mas, kamu gak punya baju lagi selain yang kemarin aku kasih ya? perasaan itu mulu yang dipake deh." Ucapnya menelisik penampilanku.


"Kan barang-barangku tertinggal semuanya. Dompet aja tertinggal apalagi baju. Untung saja aku bisa bekerja di ladang pak Ismail." Terangku.


"Kita kearah sana dulu. Disana komplek kosan dan kontrakan. Kita harus dapat kamar sekarang juga." Ucapnya menambahkan.


Kami sampai di depan sebuah rumah. Banyak kamar berjejeran. Penghuni kamar ini juga sedang berseliweran kesana sini.


"Ini kosan campur apa ya? kok kayak gini sih orang-orangnya." Heran Elisa memandang sekeliling.


"Aku ini kan lelaki, jadi gak pa-pa lah kalau ngekos di tempat kaya gini. Santai ajah." Ucapku enteng.


"Kalo campur begini nanti mas MJ tuh bisa di gebet orang." Pekik Elisa.


Elisa langsung menutup mulutnya yang keceplosan.


"Emang kamu gak mau aku di gebet? lha kamu aja udah sah jadi istri orang gitu kok." Sahutku santai sambil memperhatikan raut wajah Elisa.


Raut wajahnya khawatir dan penuh keraguan.


"Ya sudah mas, kita cari ibu kosnya. Pasti rumahnya disini juga." Ajaknya.


Aku mengangguk dan mengikuti langkahnya. Banyak pasang mata menelisik kami berdua.


Setelah bertanya siapa pemilik kosan ini. Akhirnya kami berbincang dengan santai dan terjadilah kesepakatan antara ibu pemilik dengan Elisa.


Elisa memberikan bayaran selama satu tahun penuh. Dia tidak mau aku kerepotan.

__ADS_1


Sayangnya sudah punya suami. Padahal sepertinya kami memiliki rasa dan hasrat yang sama. Terlihat jelas dari sorot matanya ketika melihatku.


Kami beranjak pergi. Menuju tempat yang Elisa arahkan.


Aku sampai di sebuah ruko miliknya. Tertulis jelas namanya terpampang disana. Dia menyuruhku memilih beberapa setel pakaian casual dan jaket hoodie. Serta beberapa kemeja yang bermotif.


"Ini gak kebanyakan? aku belom sanggup membayar ini semua." Kataku sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.


Belom kerja udah banyak hutang aja nih.


"Gak usah di bayar mas. Ini gratis kok, hadiah buat kamu." Ucapnya ringan.


"Tapi, tadi kosan kamu yang bayar. Ini juga kamu gratiskan. Belom juga seharian kerja." Ujarku lesu.


Aku sebagai lelaki merasa minder. Wanita ini memanjakanku dengan hartanya.


"Santai ajah napa. Ayuk bawa semua barang ini ke kamar kos mas!" serunya.


"Baiklah nyonya Elisa." Sahutku mengiyakan dengan nada lesu.


Kami kembali ke tempat tadi.


Elisa yang membawa kunci, membuka dan melihat sekeliling.


"Lengkap juga isinya mas. Cerminnya juga lumayan tuh buat ngaca. Lemarinya juga g kecil-kecil amat." Katanya sambil mengamati seluruh ruangan.


Aku hanya mengangguk mengiyakan.


Pandangan kami tertuju pada arah yang sama.


Springbed yang bagus. Itu menurutku.


Tapi, tidak untuk Elisa karena dia terbiasa hidup di rumah mewah.


Aku duduk di tepi springbed sambil menekan-nekan pegasnya yang memantul.


"Kaya anak kecil aja kamu mas." Lisa menggelengkan kepalanya.


"Coba aja deh." Ajakku.


"Ahh...!" pekiknya terkejut.


Dia jatuh di dalam pelukanku. Kami saling menelisik satu sama lain. Pandangan kami bertahan beberapa menit.


Jemari Elisa mengusap bibirku lembut.


Ada getaran yang kurasakan.


Aku mulai mengelus pipinya.


Dia mengambil tanganku dan menggenggamnya. Seakan tak mau lepas dariku.


B*bir kami mulai berdekatan. Kami berci*man dan saling memagut. Mereguk rasa yang terpendam. Nafas kami tersengal menandakan hasrat yang begitu dalam. Kami tidak mau menghentikan permainan ini.


Tangan Elisa mulai menelisik kedalam bajuku. Dia mengelus dada bidangku.


Aku terhenyak dan mengingat kenyataan.


"Maafkan aku Elisa, kamu itu istri orang. Seharusnya aku tidak seperti ini." Nafasku masih tersengal dan aku berusaha mengendalikannya.


Elisa mengatur nafasnya dan mengendalikannya.


"Tapi, aku terpaksa menikah dengan om Cipto.


Aku tidak mencintainya sama sekali. Bahkan sampai saat ini." Ucapnya sendu.


"Pernikahan itu hal yang sakral. Jangan buat mainan." Nadaku meyakinkannya.


"Tapi, aku hanya menuruti wasiat ayah saja tidak lebih." Sahutnya sendu.


"Kita pulang saja dulu! gak enak kita di kamar berduaan begini. Nanti yang diluar curiga kalau kelamaan disini." Aku beranjak meninggalkan Elisa.


Dia bangun dari duduknya dan mengikutiku.

__ADS_1


"Setelah ini, kamu mau kemana lagi? ayo aku antar! mumpung masih sore." Seruku.


"Udah gak ada keperluan lagi kok mas. Kita bisa langsung pulang sekarang!" Ajaknya.


Sebenarnya aku juga merindukan belaian seorang wanita. Sudah lama adikku ini tidak mendapat jatahnya. Tapi, mau bagaimana lagi. Wanita itu sudah bersuami. Dan aku tidak boleh berbuat lebih jauh dari ini.


Pikiranku berkelana. Jalanan yang padat, tak membuat fokus ku teralihkan.


...----------------...


Elisa turun dari mobil. Aku masih memarkirkan kendaraan ku di garasi.


Anak remaja tanggung melihatku terkagum.


"Om? om ini siapa? kenapa keluar dari mobil istrinya papa?" kernyitnya heran.


"Saya supir baru nyonya Elisa. Kamu siapa?"


tanyaku penasaran.


"Saya anak bungsu dari papa om. Orang yang punya rumah ini. Terangnya.


"Adeknya Marshella ya!" seruku.


"Iya om. Om ganteng kenapa mau jadi supir? jadi model aja om." Kata bocah ini lagi.


Dia mengitari sambil melihatku dari atas rambut sampai ujung kaki.


"Om emang ganteng dah. Badannya juga tinggi dan tegap. Jangan-jangan nanti istrinya papa malah naksir lagi." Ucapnya spontan.


"Emang kalau naksir kenapa? salah ya? aku dengar kalian gak suka sama ibu tiri kalian." Ujarku enteng.


"Dia kan memang dari dulu mau harta papa ajah om!" serunya.


"Kalau gitu sama om ajah gimana? biar kalian bisa cari ibu baru." Ledekku.


Reaksi remaja tanggung di depanku ini sungguh diluar dugaan.


Dia mendekat kepadaku dan berbisik.


"Om ganteng kaya gini. Sama aku aja deh. Gak usah sama oranh udik itu!" Serunya.


Cup...cup.


Dia mencium kedua pipiku ketika dia selesai berbisik.


Anak jaman sekarang emang ngeri. Main samber aja. Untung gue kuat iman. Gak nafsu sama bocah kek gini.


Dia menjauh dariku. Wajahnya terlihat bahagia setelah mencium pipiku tadi.


Aku pun mengembalikan kunci mobil ketempatnya semula.


Pak Marjuki menyapaku dan mengajak mengobrol. Beliau pria paruh baya yang kesehariannya bekerja sebagai tukang kebun disini.


Baru satu hari aku bekerja disini. Tapi, sambutan dari keluarga ini ramah padaku.


Apakah mungkin ini karena wajahku yang rupawan? biarlah begitu. Ini menguntungkanku.


Elisa sendiri pun telah terpikat padaku sejak di rumah bunda Marwah kemarin.


Aku harus bisa menjauhinya. Tidak membalas lebih jauh perkataan manis darinya.


Aki harus bertahan lama di rumah ini. Aku harus menabung agar bisa kembali pulang dan menemui anak dan orangtuaku.


*


*


Selamat membaca.....sun jauh dari author 😘


Yang mau cerita tentang Fatma di up ...harap kasih like, komen dan rate⭐️ 5.


Kasihan kan Fatma kalau tidak bertemu dengan pria pujaannya.

__ADS_1


Dukung Author selalu πŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜


Terimakasih semua 😊😊


__ADS_2