Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 40. Keinginan


__ADS_3

Sudah hampir 2 minggu aku berada disini tanpa tau kabar keluarga di kampung halaman.


Aku merasa resah dan gelisah.


"Apakah anakku Annissa baik-baik saja? seandainya aku masih ingat nomer ponsel ibu, pasti sudah aku hubungi beliau." Gumamku seorang diri yang duduk di gazebo mini di ladang milik pak Ismail.


Pak ismail mendekat kepadaku. Beliau menelisik raut wajahku yang mendung.


"Adi, kamu kenapa? wajahmu kok ketekuk kaya kertas kusut gitu?" tanya pak Ismail.


"Biasalah pak. Saya kangen keluarga di kampung. Kangen sama ibu, bapak dan anak."


Jawabku.


"Kamu....kamu udah punya anak? yang bener aja, masih muda dan seger gini kok. Pasti banyak anak gadis yang ngejar-ngejar kamu." Tanya pak Ismail tak percaya.


"Iya pak beneran saya sudah punya anak. Saya gak muda-muda amat kok pak. Sudah 26 tahun." Meyakinkan pak Ismail.


"Kok cuma anakmu yang dibahas? Kamu gak kangen sama istrimu?" tanya pak Ismail lagi.


Malik mengambil nafas dalam.


Kemudian dia lanjut menjawab pertanyaan pak Ismail.


"Saya sudah cerai sama istri pak."


"Lha, masih muda sudah bercerai saja." Heran pak Ismail.


"Ya....gimana lagi pak. Dia sendiri yang bertingkah." Ucapku jujur.


"Gak usah kuatir nak Adi! kamu ini masih tegap dan tampan. Pasti masih banyak gadis diluar sana yang mau mencintaimu." Hibur pak Ismail.


"Semoga saja ya pak." Sahutku sambil tersenyum.


"Oh iya pak. Disini apa tidak ada angkot atau sejenisnya ya?" tanyaku.


"Disini kawasan pelosok nak, kalau misal orang-orang mau kekota. Pasti akan menyewa mobil pick up dan bayarannya juga patungan."


Jelas pak Ismail.


"Pantas saja banyak orang bersepeda di jalanan pak. Jadi itulah sebabnya. Padahal saya mau mencari kerja sebagai supir." Lanjutku lagi.


"Kamu bisa menyetir? wah enak dong ya. Tapi, bukankah kamu sudah bekerja sama bapak. Kenapa mau menjadi supir?" tanya Ismail.


"Saya kuatir saja pak. Kalau kelamaan kerja diladang, nanti malah kagok nyetirnya," jawabku jujur.


"Iya juga sih nak, apalagi bapak ini gak punya mobil. Tapi kalau kamu bisa menyetir kenapa kamu gak tanya sama bu Wardah?"


"Bunda Marwah maksut bapak?" tanyaku.


"Iya, bu Marwah nak, sudah sebulanan ini mencari supir untuk anaknya!" jawab Ismail.


"Anaknya? maksud bapak itu mbak Elisa?" tanyaku ragu.

__ADS_1


"Tapi kemarin dia gak cerita apapun tuh pak." Ucapku lagi tak percaya.


"Dia hanya cerita sama ibunya saja. Dan bu Marwah cerita sama bapak. Beliau minta tolong sama bapak untuk mencarikan seorang supir pribadi. Harus yang terpercaya orangnya nak."


Jelas pak Ismail.


"Ini kesempatan baik untukku. Bisa dekat dengan Elisa." Batinku senang.


"Tapi....kalau aku jadi supir. Siapa yang akan menemani bapak ya?" Batinku berkecamuk.


Disatu sisi aku ingin didekat Elisa. Disisi lain kasihan sama pak Ismail yang seorang diri. Istri beliau sudah meninggal dan anak-anaknya merantau ke kota.


Tiba-tiba saja pak Ismail berkata.


"Kalau kamu memang mau jadi supir pribadi Lisa, pergi saja kerumah bu Marwah. Nanti bapak akan cari orang baru yang bisa membantu bapak. Kamu terlalu muda dengan pekerjaan ini."


"Maaf pak. Saya tidak bermaksud....." belum menyelesaikan ucapanku pak Ismail menyelaku dan melanjutkan ucapannya.


"Gak usah gitu nak. Selama kamu disini, bapak terbantu sekali. Bapak juga gak menyangka sifat kamu baik dan perhatian melebihi anak bapak sendiri. Pergilah ke rumah bu Marwah. Mungkin Lisa lebih membutuhkanmu daripada bapak." Suruh pak Ismail lagi.


"Dia itu wanita yang rapuh. Bapak tahu sekali itu. Karena bapak dan almarhum ayahnya dulu berteman baik. Semenjak ayahnya meninggal Elisa pun mengalami tekanan dalam hidupnya."


Terang pak Ismail dengan wajah yang tersimpan kesedihan.


Mungkin beliau mengingat teman baiknya yang sudah terlebih dulu menghadap sang pencipta.


"Nanti malam saya akan kerumah Bunda pak. Semoga saja masih ada lowongan." Seruku.


Kami beriringan menyusuri jalanan yang berumput menuju ke rumah tua pak Ismail.


...----------------...


*Elisa POV.


Sudah seminggu lebih pikiranku masih terpaku dengan Adi. Dulu sekali, memang aku pernah jatuh cinta pada teman sekolahku. Sekarang hatiku merasakan indahnya jatuh cinta lagi setelah sekian lama.


Sebelum kelulusan, ayahku meninggal dan membuat surat wasiat yang membuatku terpaksa memenuhi wasiat beliau.


"Maafkan Lisa ayah. Alisa gak mau hidup dengan tekanan seperti ini terus. Alisa ingin sekali bahagia bersama orang yang Lisa cintai." Lirihku sambil melihat foto ayah yang terpajang di dinding kamarku.


Tiba-tiba saja bu Minah. Art dirumah ini masuk kekamar, mengambil dan mendorong kursi roda serta meminta maaf karena tidak mengetuk pintu dahulu.


"Maaf nyonya. Tuan mau duduk disini. Saya cepat-cepat dan tidak sempat mengetuk tadi. Non Marshella sudah ribut di ruang tamu." Ucapnya gusar.


"Itu anak masih saja arrogant. Ayo bik kita kesana!" seruku.


Aku dan bik Minah melangkah ke ruang tamu.


Marshella menunggu sambil berdiri dengan tangan yang bersedekap dan wajah yang cemberut.


Dia melihat kami. Pandangannya masih sama terhadapku. Penuh kebencian dan rasa jijik.


"Bi Minaaahh...buruan deh! sohib gue bentar lagi dateng. Bawa ayah kekamarnya!" teriaknya pada bik Minah.

__ADS_1


"Bbbbbaaikk-non." Jawab bik Minah tergagap dan ketakutan.


"Marshella, kamu gak boleh kasar sama orang tua. Kamu itu selalu bilang sudah gede. Tapi, mana sopan santunmu?" ucapku bergetar.


Selama ini Marshella selalu berucap tanpa memikirkan perasaan lawan bicaranya.


"Anda itu gak usah ikut campur. Ingat ya! Anda itu hanya jadi parasit disini. Dasar orang kampung." Ucapnya lantang sambil pergi meninggalkan kami begitu saja.


Aku dan bik Minah mengangkat badan orang tua yang terduduk di sofa ruang tamu.


Terlihat beliau menitikkan air matanya. Mungkin selama ini beliau menyesal telah memanjakan anak-anaknya tanpa memberikan mereka pengertian dan perhatian yang lebih.


"Biar aku saja yang bawa kekamar bik! bik Minah lanjut saja menyiapkan makanan buat temannya Shella." Suruhku.


"Maaf nyonya. Bik Minah permisi dulu!" pamitnya sambil melangkah menuju dapur.


Aku mendorong kursi roda ini. Setelah melintas di seberang tangga lantai dua.


Ada anak remaja perempuan berusia 13 tahun keluar dari kamarnya.


Di telinganya tersumpal headphone dan musiknya sampai terdengar di telingaku.


Aku menggelengkan kepalaku. Dia mengambil minuman di lemari es dan melihat ke arahku.


"Eh...ada istrinya papa. Kirain minggat kemana.


Tak tahunya masih nongol juga disini." Ucapnya santai sambil memegang kaleng minuman.


Aku tak menanggapi ucapannya. Aku masih mendorong kursi roda ini dan membawanya masuk kekamarku.


Pria tua ini melihatku. Diraut wajahnya tersimpan penyesalan. Air mata masih menitik sedikit demi sedikit.


Aku mengusapnya dan membelai lembut kepalanya yang memutih.


Aku memang menganggap beliau itu seperti ayah sendiri, tak kurang dan tak lebih.


Semoga saja penyakitnya bisa sembuh dan bisa berjalan kembali. Hanya itulah yang bisa jadi penyelamatku. Agar aku tak dianggap perempuan pembawa sial di keluarga besar Cahyono. Keluarga yang sudah tiga tahun bersedia menolongku dan keluargaku.


*Elisa POV end.


*


*


*


Tokoh antagonis mulai bermunculan.


Selamat membaca dan semoga bisa menebak beberapa arti kata yang tersirat didalam bab ini.


Jangan lupa untuk selalu mendukung karya Author dengan cara like, komen, rate ⭐️ 5 dan votenya.


Terimakasih semuanya 🙏🙏😘😘

__ADS_1


__ADS_2