
*Author Pov.
Elisa yang merasa tidak nyaman langsung mengenakan jaket dan keluar dari kamarnya. Tak lupa dia membawa ponsel Mj yang tertinggal tadi. Dengan baju tidur yang berbalut jaket dia mengendarai mobil menuju kosan Mj.
Perasaannya kalut, ntah apa yang membuatnya seperti itu.
Di perjalanan Elisa hanya memikirkan Mj. Ponsel Mj tiba-tiba berdering. Elisa tahan untuk tidak menjawabnya. Nama yang tertera di layar adalah ibu Mj.
"Tuh kan, untung ini mau di balikin ponselnya. Ibu nelpon tuh mas, mas." Gumam Elisa seorang diri.
Di jalanan masih ramai lancar. Tidak padat seperti sore tadi. Elisa turun dari mobilnya ketika sudah sampai di depan gerbang kosan.
"Maaf pak, saya mau mengunjungi teman saya! ponselnya ketinggalan nih." Ucap Elisa sambil menunjukkan ponsel Mj.
Sekuriti itu membukakan pintu pagar buat Elisa.
Elisa langsung melangkah menuju kamar Mj.
Di kamar, Mj merasa kepanasan. Dia membuka pakaiannya satu-persatu. Mj merasakan sesuatu berdenging di telinganya. Dia menutup telinga dengan kedua telapak tangannya. Dia berteriak seperti kesakitan.
Setelah itu dia tak sadarkan diri.
Elisa mempercepat langkahnya menuju kamar kosan Mj. Dia mengetuk pintu ketika sudah sampai depan kamar Mj.
Elisa tidak mendengar suara apapun. Dia mencoba membuka pintu, ternyata pintu tak terkunci. Elisa melihat Mj tergeletak tak sadarkan diri di lantai, tak berpakaian hanya memakai ****** ***** saja. Mulutnya mengeluarkan sedikit busa putih. Tiba-tiba saja Mj bangun dan matanya melotot ke arah Elisa.
"Kamu, ngapain kamu kesini? ayo kita pulang ke jawa. Ha....ha....ha." Tawanya nyaring.
"Kamu kenapa sih mas? kok jadi gini sih?" Elisa panik melihat kondisi Mj.
"Tadi diam tak bergerak, tiba-tiba bangun teriak-teriak." Kernyit Elisa heran.
Mj langsung berhambur ke pelukan Elisa. Elisa hanya membalas pelukan lelaki itu.
"Kamu kenapa harus jadi istri orang? kita pulang ke jawa saja ayoo!" Pekik Mj di pelukan Elisa.
"Ini orang bau nafasnya aneh. Mana kaya orang gila gitu, apa jangan-jangan mas Mj mabuk ya?" gumam Elisa seorang diri.
Elisa membaringkan Mj ke atas ranjang. Dia langsung berlari keluar meminta bantuan.
"Pak, tolong teman saya! tingkahnya aneh sekali." Pinta Elisa pada bapak sekuriti.
"Aneh gimana sih mbak? emangnya dia kenapa?" tanya pak sekuriti.
"Gak tau juga pak, baru kali ini saya melihatnya seperti itu. Tolong bantu saya pak! saya akan membawanya ke rumah sakit!" Pinta Elisa sambil masuk ke dalam mobil dan mengendarainya kedalam kosan.
Sekurity dan Elisa membopong tubuh Mj yang sudah tak sadarkan diri di kamarnya, masuk kedalam mobil.
Elisa dengan terburu-buru mengendarai mobil menuju rumahsakit terdekat.
"Hiks..." isak tangisnya terdengar.
Air mata menetes, mengalir tanpa henti. Dia sangat khawatir akan keadaan Mj yang seperti ini.
Di sisi lain, di suatu kamar kosan.
"Mas, kayanya rencana kita gagal lagi deh. Gimana ini?" panik Anggi.
__ADS_1
"Kamu tenang saja, mungkin Mj hanya gak kuat dengan efek samping obat yg kita kasih." Jelas Hendra.
"Tapi, aku takut nanti wanita itu mencari tahu penyebab Mj seperti itu mas Hend." Sesal Anggi.
"Wanita itu emang perusak rencana kita. Coba dia gak datang kesini, pasti besok Mj akan menanyakan langsung pada kita." Geram Hendra.
"Gak usah mikirin itu mas, Anggi kuatir kalau wanita itu mencari tahu penyebabnya. Habislah kita, belum dapat untung banyak dari obat campuran itu. Eh malah bisa berurusan dengan pihak berwajib." Anggi masih Khawatir.
Hendra terus menenangkan istrinya. Bahwa tidak akan terjadi apa-apa dengan kondisi Mj sekarang.
"Sudahlah, malam semakin larut. Lebih baik kita tidur saja! anggap saja kita tidak tahu apa-apa tentang Mj." Suruh Hendra.
Akhirnya Anggi menuruti ucapan suaminya. Walaupun di dalam hatinya masih menyimpan rasa khawatir.
...----------------...
*Rs Terdekat.
Elisa turun dari mobil dan meminta petugas kesehatan membawa brankar untuknya.
"Tolong pak, bantu saya! Teman saya baru saja kesakitan!" seru Elisa.
Suaranya tercekat memanggil petugas. Mj yang tadi tak sadarkan diri, terbangun dan merasa kepanasan. Seakan-akan tubuhnya di bakar, kerongkongannya kering dan panas.
Mj meronta seperti orang yang diikat paksa.
"Ibu harus menunggu di luar! biar dokter yang menangani beliau." Seru petugas ketika sudah sampai di ruang IGD.
Elisa hanya mengangguk pasrah. Di pipinya masih mengalir air bening. Sekarang dia hanya mampu berdoa agar Mj baik-baik saja.
Beberapa lama kemudian.
Dokter menemui Elisa.
"Bagaimana keadaan teman saya dokter?" tanya Elisa sesenggukan. Dia menghampiri dokter yang keluar dari ruangan tersebut.
"Pasien mengkonsumsi alkohol kadar 10% dengan obat penenang bersamaan. Untunglah anda cepat membawanya kemari." Jelas dokter.
"Alkohol dok? obat penenang? pasien bukan orang yang seperti itu dokter." Sergah Elisa.
"Tapi, di dalam kandungan darah pasien terdapat zat Benzodiazepin. Zat itulah yang terdapat dalam obat penenang. Kandungan alkohol yang di konsumsi juga lumayan tinggi.
Untunglah anda cepat membawanya kemari. kalau terlambat hanya ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama si pasien akan kecanduan. Kemungkinan kedua, pasien akan mengalami gagal jantung mendadak." Jelas dokter panjang lebar.
"Astaghfirullah." Elisa mengucap sambil menutup mulut dengan kedua telapak tangannya.
"Sekarang bagaimana keadannya dokter? apakah dia baik-baik saja?" tanya Elisa Khawatir dan cemas.
"Kami sudah berhasil menanganinya dengan baik. Kita tunggu saja 2x 24 jam! Kalau pasien sudah sadar sebelum itu, maka dia akan baik-baik saja dan tidak akan ketergantungan lagi. Kalau belum sadar selama itu, berarti pasien harus menjalani terapi lanjutan." Terang dokter lagi.
"Terimakasih dokter! apakah saya boleh menjenguknya?" tanya Elisa.
"Anda boleh menjenguk ketika pasien sudah berada di ruang perawatan! sementara ini pasien harus benar-benar dalam keadaan tenang." Saran Dokter.
"Baiklah dokter, terimakasih sarannya. Saya akan ke konter administrasi dahulu. Terimakasih atas kerjasamanya dok." Pamit Elisa.
Dokter tersenyum dan pamit undur diri.
__ADS_1
Mereka berpisah dan Elisa langsung menuju konter administrasi. Elisa menghubungi bi Minah, dia menyampaikan pesan pada bi Minah kalau malam ini tidak pulang dan akan menginap di rumah sakit. Bi Minah yang khawatir menanyakan kenapa.
"Nyonya sakit apa? kenapa masuk rumah sakit?" tanya Bi Minah cemas.
"Bukan saya kok bi. tapi...." Elisa tak melanjutkan ucapannya.
"Tapi siapa nyonya?" tanya bi Minah cemas.
"Teman saya yang sakit bi. Kalau orang rumah nanyain, bilang saja saya lagi jenguk temen di rumahsakit." Pesanku.
"Baiklah nyonya!" sahut bi Minah.
Elisa menghampiri brankar Mj ketika dia dipindahkan ke ruang perawatan. Kondisinya masih belum sadarkan diri. Sesekali Mj terlihat mengkerutkan wajahnya.
Infus masih melekat di tangannya. Elisa merasa de javu akan peristiwa ini.
Elisa seperti merasakan kembali peristiwa ketika dia pertama kali bertemu dengan Mj. Hanya saja, kali ini berbeda kondisi.
"Semoga kamu bisa cepat membaik mas, kasian anakmu di kampung." Elisa menggenggam tangan Mj.
Elisa tertidur di sebelah Mj, rasa kantuk dan khawatir yang bersamaan menyebabkan dia terlena di alam tidur.
...----------------...
Kampung Malik.
"Yangti, coba lihat! jari Nissa ketusuk. Hiks...." isak Nissa menunjukkan jarinya yang berdarah.
"Kok bisa sih Nis? sini yangti obatin!" suruh Sumiyati.
Annissa mendekat sambil terisak. Dia memegang jarinya yang perih dan berdarah. Sumiyati meneteskan obat merah dan meniup jari Nissa.
"Anak manis gak boleh nangis ya! udah yangti obatin lho." Senyum Sumiyati pada cucunya.
Annissa hanya mengangguk pelan. Diusapnya air mata yang masih menempel di pipinya.
"Yangti ambil minum dulu ya! Nissa tunggu aja disini!" seru Sumiyati.
"Iya yangti." Lirih Nissa.
Sumiyati berdiri, beranjak menuju dapur dan mengambil minum buat Nissa.
Praaannkkkk.
Suara gelas terjatuh. Sugeng menghampiri istrinya di dapur.
"Kenapa lagi to bu? tadi sore piring pecah. Sekarang gelas yang pecah." Seru Sugeng.
"Tangan ibu tiba-tiba gemeter pak. Bapak kasih minum Nissa nih! biar ibu beresin pecahan kacanya!" suruh Sumiyati.
Sugeng mengambil gelas baru dan menuang air putih untuk Nissa, segera ia meninggalkan dapur.
Mereka bertiga melanjutkan aktifitas menonton bersama. Pikiran Sumiyati melayang pada anak lelakinya. Malik tidak menjawab panggilannya dari sore tadi.
*
*
__ADS_1
Happy reading semuanya.🙏🙏🤗