Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 54. Kenyamanan Fatma.


__ADS_3

*Fatma Pov.


Seperti biasanya aku bekerja setiap pagi kecuali hari minggu. Di hari minggu yang cerah ini aku mengunjungi Nissa dan ibu Sumiyati.


Hanya merekalah yang mampu membuat hariku cerah. Orang tuaku sudah tak mempedulikan aku lagi. Aku juga sudah malas mau menengahi mereka.


Aku mengendarai mobil ke rumah Nissa.


"Mereka pasti sudah mendapat kabar dari mas Malik." Gumamku seorang diri.


Mesin kendaraan aku matikan setelah sampai di depan rumah yang mungil ini.


"Tumben gak ada di teras. Pada kemana ya?" gumamku seorang diri setelah keluar dari mobil.


Tap, tap, tap.


Suara langkahku terdengar.


Ceklek.


Ada yang membuka pintu. Ternyata ibu sudah tahu akan kedatanganku.


Kami saling mengucap salam. Aku langsung masuk ke dalam rumah sambil mengikuti.


Annissa menghampiri sambil menggendong boneka kesayangannya.


"Tante, Nissa kangen lho." Serunya langsung memeluk kakiku.


Aku berjongkok agar bisa berpelukan dengannya.


"Tante juga kangen Nissa, makanya tante datang kesini." Aku mengelus rambutnya dengan sayang.


"Pagi-pagi udah kesini ajah Fat, ada perlu apa?"


Tanya Sumiyati.


"Sumpek ajah kalau terus-terusan di rumah bu. Kalau di sini kan ada Nissa." Sahutku tersenyum.


"Suka banget kamu maen sama Nissa. Dia sekarang udah pinter maen sama temen-temennya di sekolah." Jelas Sumiyati.


"Nissa kan udah gede bu, makanya udah bisa maen sama anak-anak laennya." Ucapku mencubit pipi Nissa gemas.


Dia hanya tersenyum lebar ketika kami membahasnya.


"Tante, di sekolah seru lho. Nissa banyak temen. Bisa lukis pohon juga. Terus kalau sudah mau pulang dikasih minum susu sama ibu guru." Ucap Nissa semangat.


"Eh, duduk dulu sini Fat! Gak usah berdiri disana!" seru Sumiyati.


"Dikasih susu sama ibu guru? siapa gurunya sayang? baik banget sama Nissa ya!" seruku tak percaya.


Aku duduk di sebelah Nissa yang sibuk dengan bonekanya.


Nissa mengangguk dan berucap riang.


"Ibu guru Aisyah yang ngasih susu sama Nissa tiap hari tante."


"Oh, Aisyah ya! tante pikir siapa." Sahutku.


Ingatanku kembali pada Aisyah yang memandangku dan mas Malik yang berbeda, waktu di rumah sakit dulu.


Mungkin Aisyah juga suka sama mas Malik. Makanya dia mendekati Nissa dengan cara seperti itu.


"Nak Fatma, jangan lupa minum minumannya dan makan cemilannya ya. Gak usah sungkan." Suruh Sumiyati.


"Santai aja bu, perut masih kenyang sehabis sarapan tadi. Oh iya, nanti jam sepuluh. Kita ke bazaar yuk. Di alun-alun kampung sebelah ada aneka bazaar barang pecah belah dan kerajinan." Ajakku bersemangat.


"Boleh saja nak. Tapi, ibu harus ngabarin bapak dulu ya? kuatir bapak pulang pas ibu gak di rumah nanti!" ujar Sumiyati.


"Silahkan bu, Fatma juga gak maksa kok. Kasian bapak juga kalau beliau sendiri ketika kita keluar nanti." Ucapku tersenyum tipis.


"Sebentar ya nak, biar ibu hubungin bapak sekarang!" seru Sumiyati.


Ibu Sumiyati langsung menghubungi suaminya.


Dari obrolan mereka, aku sudah mengetahui kalau bapak akan pulang sore nanti.

__ADS_1


"Kita bisa berangkat nanti nak! sekarang masih jam 9 pagi. Kamu rebahan saja dulu." Suruh ibu.


Aku selalu menganggap rumah ini sebagai rumah keduaku. Walaupun kecil, tempat ini sungguh hangat dan penuh perhatian dari penghuninya. Hangat dan nyaman, begitulah hal yang kurasakan ketika berada di rumah ini.


Tak terasa aku terlelap sebentar. Sayup-sayup Aku mendengar suara ibu dan Nissa yang tengah mengobrol dengan seseorang. Kukerjabkan penglihatanku berkali-kali. Rasa kantuk tadi berkurang.


"Ayah, Nissa minum susu tiap hari lho. Ibu guru Aisyah yang ngasih!" Nissa mengadu.


"Kalau minum susu tiap hari. Bisa-bisa anak ayah tambah gede nanti." Sahut suara itu.


Mas Malik melakukan panggilan video. Aku sungguh merindukannya. Aku harus menyapa dan melihatnya sekarang.


Aku merangsek, mendekati kedua orang itu.


Tanpa aba-aba, aku mendekati layar ponsel ibu.


"Mas, gimana kabarnya? lama ngilangnya ya?" aku melihatnya. Badannya tambah berisi dan bersih. Tampilannya juga tambah keren. Membuatku semakin merindukannya.


"Fatma, Alhamdulillah baik selalu. Kamu pa kabar?" dia tersenyum padaku.


"Baik juga mas, kamu kenapa sih kok gak ada kabarnya?" selidikku.


"Tante, Nissa juga mau ngobrol sama ayah!" rengek Nissa ketika aku mulai mendominasi layar ponsel.


"Maaf sayang, bentar lagi ya!" seruku menyengir.


"Nissa, tante Fatma kamu juga kangen sama ayah. Makanya dia ngobrol terus sama ayah!" sahut suara di seberang.


"Ponsel dan dompetku hilang. Makanya aku gak ngasih kabar. Baru sebulan ini aku dapat kerjaan baru!" jawab mas Malik.


"Sudahlah nak, jangan di bahas lagi. Kami semua di sini merindukanmu!" seru Ibu.


Beliau seperti menyembunyikan sesuatu.


Raut wajah yang kaku serta ekspresi itu menggangguku.


"Maaf bu, Fatma, dan Nissa. Aku harus pergi! bosku sudah datang menjemput!" pamit mas Malik.


Aku melihat sekilas dari layar ponsel, seorang perempuan keluar dari mobil. Dia sungguh cantik dan menawan.


Dia memanggil mas Malik dengan suara yang begitu indah. Hatiku serasa tercabik.


"Yeee, ayah nih. Nissa kan masih kangen!" seru Nissa kecewa.


"Masih harus kerja mungkin ayahmu Nak." Sahut Sumiyati.


"Kita siap-siap saja yuk! udah jam segini lho!" ajakku agar Nissa lupa akan ayahnya tadi.


"Asyik, kita jalan-jalan ya tante!" girang Nissa.


"Iya, ikut yangti sana! ganti baju yang bagus dan nyaman ya!" suruhku.


"Nissa mau pake baju Hello Kitty ajah tante. Nissa suka." Sahutnya gembira.


"Iya, iya. Sana ganti baju!" suruhku lagi.


Mereka berdua masuk kedalam kamar. Sementara aku mencuci muka dan memakai bedak tipis serta lipstik yang aku bawa setiap hari di dalam tas.


10 menit kemudian.


Kami sudah selesai bersiap dan masuk kedalam mobil.


Nissa sepertinya tidak sabar akan melihat barang-barang kerajinan nanti. Dia mengoceh di sepanjang perjalanan.


"Yangti, tante. Bagus banget itu ayunannya!" tunjuk Nissa dibalik kaca mobil.


"Kita turun sekarang yuk!" ajakku.


Kami turun setelah membayar tagihan parkir kendaraan.


Kami melihat sekeliling. Ada sebuah ukiran kayu jati klasik di ujung sana. Ukirannya sungguh membuatku terpikat. Meja rias yang sangat indah. Kakiku langsung berjalan mendekati. Tanpa tau ada seseorang di sampingku. Aku menabraknya tak sengaja.


"Aduh....." keluhnya.


"Maaf, mas. Saya gak sengaja!" aku menangkupkan tanganku pada pria itu.

__ADS_1


"Fatma? kamu Fatma kan?" tanya pria itu.


Ibu Sumiyati dan Nissa hanya terdiam melihatku dan pria itu. Mereka memperhatikan kami.


"Iya, saya Fatma. Kenapa mas bisa tahu nama saya?" kernyitku heran.


"Oh ya, kenalin dulu. Saya Evan, dokter Evan yang menangani luka kecelakaan anda dulu."


Dia tersenyum sembari mengulurkan tangannya.


"Maaf, saya baru ingat dokter Evan." Aku menerima ulurannya dan kami pun bersalaman.


Dialah yang selalu rutin memeriksa keadaanku.


Dengan telaten membalut perban dan menggantinya selama aku berada di rumah sakit. Sudah seharusnya dia seperti itu karena memang begitulah tuntutan seorang ahli medis.


"Dokter sendirian? istrinya mana dok?" tanyaku.


"Apa? istri? aku belum punya istri Fatma. Pacar aja belum punya." Jawabnya malu.


"Maaf ya dok, saya pikir....." aku menggantung perkataanku. Aku jadi tak nyaman sendiri.


"Jangan panggil aku dokter. Panggil mas kaya tadi tuh. Terasa lebih akrab." Suruhnya.


Aku hanya menyunggingkan senyum tipis dan mengangguk, mengiyakan perkataannya.


"Kamu bareng siapa Fat? ibumu mana?" tanya Evan yang memang sudah kenal dengan ibu Zainab.


"Aku bareng ibu Sumiyati dan Nissa. Orang tua dan anak dari mas Malik." Ucapku bersemangat.


Sumiyati hanya tersenyum pada Evan.


"Malik siapa? pacarmu ya?" tanya Evan ragu.


"Ehm, sebenarnya bukan pacar sih!" jawabku pelan.


"Owh, begitu. Kita jalan bareng aja yuk!" ajaknya.


"Baiklah, gak ada salahnya. Iya kan buk?" tanyaku meminta pendapat ibu Sumiyati.


"Nyantai saja kalau sama ibu Fat, silahkan saja!" sahut ibu tersenyum.


Kami berempat berjalan beriringan. Aku didepan bersama Evan. Sementara ibu dan Nissa mengikuti kami.


Kami masih disini. Melihat-lihat ukiran kayu yang unik. Hobi kami ternyata sama.


Evan salah satu orang yang mengkoleksi aneka hiasan ukiran.


Kami berbincang sambil berjalan dan melihat-lihat hiasan ukiran di sekeliling kami.


Tak terasa waktu makan siang tiba. Evan mengajak kami makan bersamanya dan membayar makanan kami.


Waktu terasa begitu cepat. Sudah lama aku tidak merasakan perhatian yang seperti ini dari pria lain. Evan cukup membuatku nyaman ketika bersamanya.


Kami pulang kerumah masing-masing setelah selesai menghabiskan waktu berkeliling bazaar.


"Bu, Fatma langsung pulang saja ya! sudah sore ini!" pamitku.


"Makasih ya Fat, Nissa seneng banget kamu ajak kesana. Bangun nak, kita sudah sampai rumah!" Sumiyati menepuk pelan pundak Nissa.


"Ehm, iya eyang." Jawab Nissa serak. Suara khas baru bangun tidur.


Mereka turun dari mobil. Aku langsung bermanuver menuju arah rumahku.


Sampai rumah. Aku yang sudah merasa lega karena suntuk. Kembali lagi kerumah ini.


Belum masuk ke dalam rumah. Ada suara berisik yang membuat ku terganggu.


Suara mereka. Suara ibu dan ayahku yang bertengkar. Aku hanya melewati mereka dan mengacuhkannya. Aku sudah tidak peduli lagi.


Ini semua gara-gara mas Toni.


*


*

__ADS_1


*Selamat membaca. Terimakasih selalu atas dukungan pembaca setia SUPIR UNTUK SANG NYONYA. Jangan lupa untuk like setiap bab, komen, rate ⭐️5, favorit dan vote. 🙏🙏🤗🤗


Selamat menunaikan ibadah apapun di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini.💖💖


__ADS_2