Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 51. Kebahagiaanku kembali perlahan


__ADS_3

*Marshella Pov.


Silvia sudah pulang ketika aku mengambil minuman bersoda di kulkas.


"Dari mana aja kamu dek? tadi kakak telpon kok gak aktif sih?" tanyaku.


"Ngerjain tugas kak, sekalian makan bareng sama temen-temen juga sih." Jawabnya.


"Mandi sana! nanti kakak ke kamarmu bentar!" seruku.


"Iya kak, seharian pake baju seragam gak enak banget rasanya!" keluhnya.


"Lain kali bawa baju ganti dek!" seruku.


Dia hanya menganggukkan kepalanya. Langkahnya gontai dan lemas. Seperti orang yang beraktifitas seharian. Padahal dia lebih banyak bersenang-senang.


Aku kembali ke kamar. Duduk di pinggiran spring bed. Kali ini aku akan menghubungi nomor ponsel ibunya om Mj. Aku menekan nomor itu satu persatu. Terdengar suara bahwa panggilanku mulai masuk.


Panggilanku dijawab. Dan suara diseberang telepon memberikan salamnya.


Dia bertanya siapakah aku. Dari nada suaranya, seperti bingung akan sesuatu. Aku langsung saja menjawab dengan entengnya.


"Ini aku buk, majikan om Mj."


"Majikan Mj? nak Malik maksudnya? Malik Jayadi anakku?" rentetan pertanyaan suara diseberang telepon.


"Terus siapa lagi? aku majikan om Mj buk. Dia baik-baik saja kok! jadi ibu gak usah kuatir!" jelasku enteng.


"Siapa nama kamu? bisakah saya berbicara dengan anak saya sekarang?" nada suara itu mulai bersemangat.


"Aku Marshella bu. Om Mj sudah pulang ke kosannya kalau malam gini. Besok, biar aku hubungi ibu kembali!" langsung saja aku menutup panggilan.


"Kalau diladenin, gak bakalan habis pertanyaan ibu tua itu." Sungutku kesal.


Aku mendengar suara mobil masuk ke garasi rumah.


"Om Mj pasti mampir bentar deh." Aku kegirangan menuju keluar rumah dan menunggunya.


Kutatap lekat-lekat bayangan yang akan keluar dari sana.


"Si*lan tuh perempuan. Gue pikir om Mj melipir kesini bentar. Eh taunya malah wewe gombel." Sungutku kesal sambil masuk kedalam rumah kembali.


"Ah iya, Silvia. Aku harus ke kamarnya!" gumamku seorang diri.


Tanpa basa-basi aku langsung masuk kedalam kamarnya. Silvia tidak menyadari kehadiranku.


Dia sibuk dengan ponselnya sambil mengetikkan sesuatu. Senyum sumringah tidak lepas dari bibir mungilnya.


"Ehem.....Lagi ngapain kamu dek?" tanyaku menelisik wajahnya.


"Eh, kakak. Lagi ngirim pesan singkat aja kok kak!" jawabnya malu.


"Ngirim pesan ke pacarnya ya dek?" tanyaku.


"Bukan kak, kami masih masa pendekatan kok, He....he...he." Jawabnya.


"Asalkan gak ganggu elo sekolah sih gak masalah. Inget dek, tahun ini elo kelas 3 SMP. Jadi harus rajin belajar biar lulus dengan nilai yang bagus!" suruhku.


Aku tahu potensi Silvia seberapa besar dalam pelajarannya. Bukan seperti aku yang memang malas belajar dan hanya bergonta-ganti pacar saja.


"Eh dek, orang udik itu jalan sampe malem sama om Mj. Baru ajah dia pulang." Sungutku kesal.


"Kali ajah itu orang udik banyak kerjaannya kak. Lagian ngapain juga kakak ngurusin om Mj?" tanya Silvia yang mulai bangun dan meringsek mendekatiku.


"Gak apa sih, soalnya kan itu orang udik gak pernah pulang malam kecuali tadi. Pasti dia ada apa-apanya sama om Mj." Aku curiga.

__ADS_1


"Kalau menurut Silvia ya kak. Malah bagus kalau orang udik itu berhubungan sama om Mj. Kita bisa mengusirnya jauh-jauh dari sini." Usul Silvia.


"Tapi dek, kakak kan suka sama om Mj!" sahutku.


"Whattttt??? kakak gak salah suka sama cowok kere kaya om Mj? tampang doang ganteng kak. Gak punya modal." Jujur Silvia.


"Namanya juga suka, mau gimana lagi dek. Kakak tuh emang ngincer anaknya temen papa.


Mereka tajir dan dermawan. Tapi, ya begitulah dek. Wajah mereka pas-pasan, gak menarik sama sekali." Sahutku geram.


"Tunggu deh kak. Misal, kakak mau shopping. Tapi, om Mj gak punya duit. Terus kakak mau gigit jari gitu?" tanya Silvia.


"Ya gak gitu juga sih. Kan duit papa banyak. Bisa minta jatah sama papa kan?" belaku.


"Gak bisa gitu kak! masak seumur hidup kita cuma nebeng sama papa sih!" sergah Silvia.


"Lagian papa itu sekarang sakit. Kita tidak tau kapan papa meninggalnya." Lanjutnya enteng.


"Weeehhh, elo doain papa koit ya? kurang ajar jadi anak!" aku menyentil telinganya dan menjewernya kuat.


"Ampun kak, ampun kak. Silvia gak doain papa koit kok. Hanya saja, resikonya besar kak. Itu doang kok!" belanya sambil melepas jeweranku.


"Gak usah ngomong yang enggak-enggak lagi deh. Awas ajah ya elo!" ancamku.


"Maaf kak, Silvia juga sayang sama papa kok!" belanya lagi.


"Ya udah deh, gue masuk ke kamar dulu. Cepet tidur! gak usah lama-lama kirim pesannya!" Suruhku.


Aku meninggalkan Silvia, dia hanya menyengir sambil menampakkan sederet gigi putihnya.


Aku kembali ke kamar dan berbaring dengan nyaman. Ku ambil guling dan mendekapnya erat. Berharap besok aku bisa mendapatkan perhatian dari om Mj. Aku sudah mendapatkan nomor keluarga om Mj di kampung. Setidaknya itulah caraku mendapat perhatiannya.


*


*Marshella Pov end.


Pagi ini aku berjalan seperti biasa ke rumah mewah nan megah itu.


Ponsel android sudah aku kantongi. Saatnya aku mulai mengisi pulsa dan kuota internet.


Aku akan mencari informasi sosial medianya Fatma. Mungkin, hanya dialah yang bisa menolongku.


Akhirnya sampai juga. Kalo ada motor lumayan juga sih. Menghemat waktu lima belas menit.


Aku yang sudah berada di depan pagar langsung di bukakan pintu oleh pak satpam.


Kami saling bertegur sapa dengan ramah.


Terlihat ada seorang gadis tengah duduk dengan santainya di kursi teras. Gadis itu mengenakan setelan baju tidur pendek selutut.


Aku menghampiri rumah utama untuk mengambil kunci mobil. Gadis itu menyambut dan menyapaku dengan senyumannya.


"Pagi om Mj." Sapanya dengan senyum terkembang.


"Pagi non Marshella." Jawabku santai.


Dia melambaikan tangannya. Menyuruhku mendekat kepadanya.


"Ada apa non Shella? mau saya anterin ke kamar mandi ya?" tanyaku asal.


"Diihh, om Mj nih. Iya tau kok, kalau shella belum mandi." Sahutnya mengerucutkan bibir.


"Terus kenapa manggil pagi-pagi?" tanyaku santai.


"Ada berita baik buat om Mj. Sini om Shella bisikin deh!" suruhnya.

__ADS_1


Aku mendekat, Shella langsung saja berbisik ditelingaku.


"Shella udah tau nomor telepon keluarga om Mj di jawa sana."


"Benarkah? kok kamu bisa tau? gimana kamu bisa tau nomornya?" tanyaku terheran-heran.


Marshella hanya tersenyum dengan lebar. Dia menekan layar ponsel. Dia menghubungi seseorang.


"Nih om! coba aja ngobrol!" suruhnya sambil memberikan ponsel androidnya padaku.


Terdengar sebuah suara di ujung sana.


"Halo, siapa ini? cepat jawab!" seru suara itu.


Suara ini, suara yang sudah lama aku rindukan.


"Ibu, apakah ini ibu Sumiyati?" tanyaku bergetar.


"Iya, saya Sumiyati. Siapa ini?"


"Saya Malik bu, anak ibu." Lanjutku.


Ibu yang mendengar suaraku tiba-tiba menjadi haru dan senang. Suara beliau serak tanda menangis.


Kami meluapkan kerinduan kami lewat telepon ini. Tak lama Marshella menyuruhku untuk melakukan panggilan video.


Kami benar-benar saling merindukan.


Annissa tiba-tiba saja menangis ketika dia melihatku. Terlihat dari raut wajahnya yang tengah menahan kerinduan.


Walaupun kami tidak bertemu secara langsung. Setidaknya kami bisa bertegur sapa dan saling melihat satu sama lain.


Hampir satu jam aku melampiaskan kerinduanku.


Klek...


Pintu ruang utama terbuka. Kami menoleh kearah pintu bersamaan.


"Ck, gangguin aja nih orang udik!" cibir Shella ketika tahu siapa yang membuka pintu.


"Mas Mj, kamu kenapa? pagi-pagi gini kok sudah menangis?" tanya Elisa.


"Saya baru saja melakukan panggilan video dengan keluarga di jawa nyonya. Maaf nyonya saya pamit sama keluarga dulu." Ucapku pelan.


Aku mengakhiri panggilan video.


Aku mengusap tetesan air bening yang terjatuh tanpa sengaja di pipi.


"Cuci muka dulu sana! aku tunggu di dalam mobil. Kali ini aku harus berkunjung ke konveksi langsung. Dan tempatnya agak jauh dari sini." Jelasnya.


"Udah ganggu. Ngerusak mood orang lagi!" pekik Marshella sambil melangkah ke dalam rumah.


Kini tinggal aku dan Elisa berdua. Aku mengikuti langkahnya menuju garasi rumah.


Kupanaskan mesin mobil beberapa saat. Dan mulai melajukannya.


Pikiranku mulai tenang. Akhirnya aku bisa menghubungi keluargaku kembali.


*


*


*


Selamat membaca. Semoga dibulan ramadhan ini kita selalu diberi kesehatan dan keberkahan.

__ADS_1


Selamat menunaikan ibadah puasa buat yang menjalankannya. Tetap dukung Author dengan cara like, komen, rate ⭐️ 5, favorit dan votenya.


Terimakasih bagi yang sudah mendukung Author selama iniπŸ™πŸ™. Salam sayang untuk kalian semua.😍😍😍


__ADS_2