Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 78. Rexy yang khawatir


__ADS_3

*Malik Jayadi POV.


Rumah mewah Cahyono.


Aku tak menyangka Elisa akan berbuat jauh seperti ini. Naluriku juga sebagai pria normal meladeni kemauannya.


Dosa apalagi ini yang sudah aku perbuat.


Sepertinya terlalu banyak dosa yang aku lakukan selama ini. Semoga ini menjadi yang pertama dan terakhir aku melakukannya dengan Elisa.


Aku memakai kembali pakaianku yang tergeletak di lantai. Elisa masih berada di kamar mandi. Aku membuka kunci perlahan, ku putar kenop pintu dan mengintip keadaan di luar.


"Sepertinya situasi aman!" lirihku pelan.


Aku cepat keluar dari kamar ini.


"Kenapa sih?" suara seseorang bertanya padaku. Aku menoleh dan melihat gadis itu.


"Kamu, kamu sudah pulang nona Silvia?" tanyaku tersentak ketika melihat Silvia menatap ku yang keluar dar kamar Elisa.


"Sudah om. Barusan aja sampai! om ngapain sih? kok keluar dari kamar papa? emang om ngapain ajah?" Silvia bertanya bertubi-tubi kepadaku.


"Tadi disuruh ngambil koper di atas lemari Sil, kopernya udah om turunin. Jadi, om keluar deh!" jawabku.


"Semoga saja nih bocah percaya," batinku.


"Owh begitu, trus yang suruh om nurunin koper kemana? kok gak ada di kamarnya?" tanya Silvia.


"Nyonya tadi pamit ke kamar mandi sebentar!" jawabku sekenanya.


"Tapi, kok om Mj rambutnya bisa basah sih. Seperti orang yang baru selesai mandi aja deh!" Silvia berucap sambil mengernyitkan dahinya.


"Owh ini ya, tadi waktu nurunin koper itu banyak debu yang nempel di rambut om. Jadi, om cuci bentar doang sih gak pake mandi." Aku berbohong pada Silvia.


"Begitu ya om. Kok rumah bisa sepi gini om? pada kemana?" tanya Silvia.


"Tuan tadi jatuh trus di bawa kerumah sakit non!" jawabku singkat.


"Apa?? yang bener om?" Silvia membelalakkan netranya.


"Iya non, non Sandra sudah ada disana. Nyonya Elisa baru saja pulang non." Jelasku.


"Antar saya kesana om! sekarang juga!" perintah Silvia.


"Kita kesana kalau non Shella sudah pulang. Biar bareng berangkat nya." Saranku.


"Betul juga om, kalau gitu gue mau mandi dulu deh! jangan lupa jagain rumah om!" seru Silvia.

__ADS_1


Silvia yang masih memakai seragamnya langsung beranjak melangkah menuju kamarnya. Aku melihatnya sampai Silvia tak terlihat lagi.


"Fiuh, syukurlah tuh bocah gak nanya-nanya lagi!" gumamku seorang diri.


Pandanganku mengitari sekeliling rumah. Ternyata bi Minah sedang tidak ada. Mungkin beliau tengah berbelanja atau ada keperluan di luar rumah.


"Aman, sepertinya tidak ada yang tahu kalau aku kekamar Elisa. Hanya Silvia saja yang tahu dan itu sudah beres!" gumamku sumringah.


Masih terbayang di kepala ketika kami bersatu tadi. Elisa benar-benar seperti seorang yang berbeda. Dia sangat agresif dan dominan. Aku hampir kewalahan menghadapinya. Sungguh perempuan pertama yang bisa membuat aku semakin cinta padanya.


Tak lama ketika aku duduk di teras rumah.


Gadis itu tersenyum lebar dan menghampiri ku.


Dia melihat sekeliling dan langsung mencium pipiku.


"Selamat sore om!" ucap gadis itu.


"Kamu kenapa sih Shel, sukanya maen nyosor!" gerutuku kesal.


"Shella seneng dong, pasti om Mj lagi nungguin Shella dateng kan?" serunya sumringah.


"Siapa yang bilang gitu! om lagi nungguin mamanya Shella!" sahut ku enteng dan tenang.


"Cuih, jangan bilang mama gue tau om. Dia itu orang kampung yang udik! bukan mama Shella!" pekik Shella kesal.


"Shella bisa bahagia kalau ada om Mj disini! apalagi kalau di cium sama om Mj!" genit Shella sambil mengedipkan netranya.


"Jangan-jangan kamu kesurupan tuh Shel!" gerutuku.


"Om, gak usah ngomong gitu kenapa sih!" Shella cemberut.


"Oh iya Shel, kamu ditungguin tuh sama Silvia! papa kalian ada dirumah sakit. Jadi, kalian harus menjenguknya disana!" seruku.


"Apa....? papa dirumah sakit? gak salah om? Emangnya kenapa om?" tanya Shella yang mulai cemas.


"Tadi terjatuh, terus nona Sandra membawa kerumah sakit." Jawabku.


"Terus, kenap orang udik itu masih disini?" tanya Shella penasaran.


"Nyonya Elisa sudah kesana. Tapi, di usir oleh tuan. Aku juga gak tahu alasan nya apa!" jawabku santai.


"Masak sih, asyik dong om!" cibir Shella.


"Mandi dulu sana! Silvia nungguin tuh!" seruku.


Marshella menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia hanya mengangguk dan berlalu dari hadapan ku.

__ADS_1


"Bocah tengil itu kenapa suka amat sih sama aku? perasaan aku ini orang nya biasa aja deh!" gumamku.


Aku masih menunggu mereka bersiap dan akan mengantarnya kerumah sakit.


...----------------...


*Author POV.


Sandra keluar dari kamar perawatan Cipto. Ada seseorang yang menghubunginya. Sepertinya ini panggilan yang penting karena dari tadi nomer ini yang menghubunginya


"Siapa sih, kok nelpon Mulu! gue kan mau istirahat disini!" gerutu Sandra sebal.


Dering suara ponsel berhenti.


Tak lama kemudian, dering itu berbunyi lagi.


"Ah, gue jawab aja deh!" Sandra menyentuh tombol hijau.


"Heh, ini siapa sih? dari tadi kok nelpon mulu?"


"Halo sayangku! kenapa baru di jawab sih?" tanya suara itu.


"Aku gak bisa lama-lama, aku ada di rumah sakit sekarang!" seru Sandra cuek.


"Rumah sakit mana sayangku?" tanya suara seberang telepon.


"Rumah sakit Harapan Maju!" jawab Sandra singkat.


"Baiklah, tunggu aku disana ya!" seru suara itu dan panggilan mereka berdua terhenti.


"Aneh deh ini orang, bisa-bisanya dia panik dan khawatir seperti itu..." gumam Sandra.


"Perut laper lagi, saatnya ke kantin!" Sandra melangkah menuju kantin rumah sakit.


Disana ada seorang perempuan melihatnya dari jauh.


"Si*lan tuh orang! kenapa dia kembali ke Indonesia lagi?" sungut perempuan itu kesal.


"Tunggu saja nanti, gue akan........"


*


*


*


* Happy reading 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2