
Malik melupakan sesuatu. Sepertinya ia sedang berpikir. Dan dengan cepat Malik baru menyadarinya.
"Astaga aku lupa sayang...ibu dan bapak! aku belum menghubungi mereka." Malik segera merogoh kantong celananya dan mengambil ponsel.
Dengan cepat Malik mencari nomor Sumiyati.
"Ibu....maaf Malik lupa menelpon tadi." Ucap Malik setelah suara Sumiyati terdengar.
"Memang nya ada apa Lik? kenapa sepertinya kamu gugup?" tanya Sumiyati ketika mendengar suara anaknya yang bergetar.
"Malik bahagia Bu...bukan gugup, Elisa sudah melahirkan dan sekarang kami berada di RS Makmur." Malik sangat girang.
"Benarkah? Alhamdulillah kalau begitu. Ibu seneng mendengar nya. Tunggu dulu disana...Ibu dan Bapak akan secepatnya datang." Sumiyati tersenyum lebar dan sangat antusias.
"Jangan kesini Bu.... sebentar lagi kami akan pulang. Elisa sudah tidak betah berlama-lama disini." Cegah Malik.
"Ibu tunggu dirumah saja nanti. Hubungi kami kalau kalian sudah sampai rumah ya!" Pinta Sumiyati.
"Siap Bu," sahut Malik.
Senja sudah turun ke peraduan. Malam menjelang dengan cepat. Botol infus Elisa sudah habis dan dengan cepat Malik keluar kamar memanggil pihak medis. Setelah diperiksa dan dicek lagi kesehatan Elisa dan bayinya akhirnya dokter memutuskan bahwa Malik bisa segera pulang.
Elisa duduk sambil menggendong bayinya dikursi roda. Malik mendorong dengan berhati-hati sementara Nissa berjalan disebelah Malik.
Mereka menuju kearah parkiran mobil. Elisa berusaha bangkit dari kursi rodanya dan melangkah masuk kedalam mobil dibantu oleh Malik.
Bayi mungil nya berada di dekapan Elisa sedari tadi. Bayi itu tertidur pulas. Mobil melaju ditengah jalan raya. Malik berusaha untuk semaksimal mungkin tak menimbulkan goncangan agar Elisa dan bayinya nyaman berada didalam mobil. Satu jam berlalu, kini mereka sudah sampai dirumah mewahnya.
Semuanya sudah masuk kedalam rumah. Setelah selesai mengantarkan Elisa dan bayinya di dalam kamar, Malik langsung menghubungi Sumiyati.
"Ealah nak...malam sekali kalian pulang nya. Sebentar lagi kami sampai, tunggu saja kami!" seru Sumiyati.
__ADS_1
Sumiyati dan Sugeng berboncengan sepeda motor. Mereka menuju kerumah Malik yang letaknya dipinggir kampung. Jarak yang ditempuh lumayan memakan waktu walaupun tak sampai satu jam.
Tak lama kedua orang tua Malik sampai. Mereka sudah tak sabar untuk segera melihat cucu barunya.
"Elisa dan bayi kami ada dikamar nya Bu, Pak... langsung saja kesana." Seru Malik tersenyum puas.
Mereka bertiga berjalan dengan tergesa-gesa karena sudah tak sabar melihat cucunya. Setelah berada dikamar ternyata keduanya tengah tertidur pulas.
"Yah...kami telat kemari nak! mereka sudah tidur." Sumiyati kecewa.
"Bapak dan Ibu menginap saja disini! dilantai atas kan ada dua kamar kosong." Ucap Malik.
"Kami gak membawa baju ganti nak. Biarlah kami pulang dan besok kami kesini lagi." Sahut Sugeng.
"Ayolah Pak, Bu...hari bahagia seperti ini kalian harus menemani kami. Apalagi Elisa butuh bantuan, tidak mungkin kami merawat bayi kami hanya berdua saja."
Nampak Sugeng dan Sumiyati berpikir keras dan saling pandang. Akhirnya mereka berdua mengangguk bersamaan.
"Kan Bapak bisa pakai baju tidur aku, ibu juga bisa pakai baju tidur Elisa kok." Sahut Malik.
"Asalkan kalian gak keberatan ya gak masalah sih." Sambung Sugeng.
"Tunggu dulu deh, Ibu dan Bapak sudah makan malam belum nih? kalau belum aku akan memesan makanan dulu." Malik menawarkan.
"Sudah dong nak, tadi kami makan setelah sholat Maghrib." Sahut Sumiyati.
"Ibu dan Bapak harus menginap disini setidaknya selama sepuluh hari. Tolong bantu Malik untuk merawat Elisa, Nissa dan bayi kami. Malik masih mencari asisten rumah tangga yang tepat dan cocok dengan kami sekeluarga." Ucap Malik.
Keduanya hanya menghela nafas. Sebenarnya mereka suka membantu anaknya, akan tetapi mereka tidak betah kalau meninggalkan rumah itu kelamaan.
Malam sudah larut. Annisa tidur dikamar nya seorang diri. Sugeng dan Sumiyati berbaring bersama di kamarnya.
__ADS_1
"Kira-kira kalau kita meninggalkan rumah, apakah ada kemungkinan kalau Ipah akan pulang?" harap Sumiyati.
"Cukuplah Bu... selama ini kita sudah bersabar terlalu lama. Ikhlas kan saja mereka itu, kita cukup doakan mereka dari jauh." Sugeng malah menasehati istrinya.
Keduanya terdiam dengan pikirannya masing-masing.
Tak berapa lama akhirnya mereka tertidur dengan perasaan yang masih khawatir.
Sementara dipusat kota, ada seorang wanita menggendong seorang balita dan menggandeng anak kecil. Mereka bertiga berjalan ditengah gemerlap lampu jalanan. Air mata wanita itu menetes membasahi pipinya. Balita yang digendongnya sudah tertidur.
"Ibu...aku sudah capek berjalan. Kita akan mencari ayah kemana lagi Bu?" Tanya anak kecil itu polos.
"Yang kuat ya nak! Sebentar lagi kita pasti bertemu dengan Ayah." Sahut wanita itu.
"Malam ini kita akan tidur dimana Bu? Malam ini sungguh dingin." Anak itu mendekat memeluk paha Ibunya.
"Nanti kalau ada bangunan kosong baru kita masuk dan tidur didalam nya." Sahut wanita itu.
Mereka berjalan tanpa henti. Bocah kecil itu tanpa henti merengek pada ibunya.
Ciiiiiiiitt.....
Ada sebuah kendaraan mengerem mendadak. Mereka semua terkejut dan terpaku. Jantung mereka berdetak tak karuan.
"Hey....kalian ini_!
Bersambung di bonus chapter selanjutnya.
Novel ini sudah TAMAT ya, Bonus chapter hanyalah penambah cerita tentang tokoh yang tidak pernah muncul sama sekali tapi terkadang menjadi topik yang dibahas oleh tokoh utama dan figuran.
Nantikan bonus chapter selanjutnya yang akan menceritakan dengan singkat kehidupan kakak Malik dan kejadian apa yang menimpa mereka.
__ADS_1
Jangan lupa kasih vote dan gift yang banyak untuk author ya ðŸ¤.