Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 73. Berkenalan dengan Evans Anderson


__ADS_3

*Malik POV.


Aku yang menunggu Elisa di ruangan tunggu menerima panggilan telepon dari ibu di kampung.


Beliau bersemangat sekali. Terlalu kentara dari nada suaranya.


Selang kami berbagi kabar masing-masing. Ibu mengalihkan ke panggilan video.


Aku melihat ibu berada di sebuah rumah mewah. Aku bertanya-tanya, sebenarnya dimanakah ibu berada. Dia mengarahkan kamera ke sebuah taman di depan rumah itu.


Sungguh pemandangan yang membuat ku iri.


Lelaki itu bersenda gurau dengan anakku. Annissa begitu bersemangat dan ceria. Senyum tak lepas dari bibir mungilnya.


Ayah rindu padamu anakku Annissa.


Ada seorang gadis yang aku kenal tengah bermain bersama lelaki itu dan Annissa.


"Tunggu dulu, itu kan Fatma! Fatma bermain bersama anakku dan lelaki itu," gumamku lirih.


Ibu masih saja mengarahkan kamera kearah mereka bertiga. Beliau tak mendengar gumaman tadi. Setelah terlihat kamera ponsel diam, akhirnya aku bersuara.


"Ibu ada dimana?" aku penasaran sekali.


"Ibu ada di rumah nak Evans." Jawab ibu sumringah.


"Evans? siapa itu bu?" kernyitku.


"Dia itu dokter nak, dokter yang menangani Fatma dulu waktu kecelakaan!" terang ibuku.


"Dokter?" aku berusaha mengingat, tapi tetap saja aku tak bisa mengingat dokter itu.


"Kamu pasti lupa ya! kan cuma sekali kamu ketemu sama nak Evans!" jelas ibuku.


"Benar juga bu! Malik berusaha mengingat tapi gak ingat tuh!" sahutku.


"Hubungan nya dengan Fatma apa bu? mereka bahagia sekali." Lanjut ku lagi.


"Mereka baru 2 Minggu ini berpacaran nak! ibu bahagia melihat Fatma tersenyum lebar seperti sekarang." Ibu berucap tulus.


Dari dulu beliau memang menganggap Fatma seperti anak sendiri. Kehadiran Fatma di rumah selalu menjadi obat rindu ketika kakak IPah dan Amah jauh merantau bersama keluarga mereka.


"Alhamdulillah bu, Malik ikut senang mendengarnya. Jadi, Malik gak merasa bersalah lagi setiap melihat Fatma yang sudah Malik anggap seperti adik sendiri." Aku berucap lega.


"Iya nak, apalagi ibu. Serasa punya anak bontot cewek." Ibu antusias sekali.


"Evans anak yang baik. Dia juga pantang menyerah ketika mendekati Fatma, ibu tahu itu." Terang ibuku lagi.


"Bu, Malik mau mengobrol dengan Nissa. Malik kangen nih!" rengekku.


"Iya bentar! ibu panggilkan Nissa ya!" ibu berjalan mendekati mereka bertiga.


"Nissa sayang! ayah nih!" suara ibu memanggil Nissa.


"Tante, ayah!" girang suara Nissa.


Terlihat Annissa berlari mendekat kearah kamera.


Kami mengobrol tentang aktivitas nya sehari-hari. Fatma juga tertarik mengobrol denganku. Dia mengenalkan Evans padaku secara langsung. Dari raut wajah Evans terlihat jelas kebahagiaan. Semoga saja dia benar-benar tulus mencintai Fatma dan tidak akan pernah menyakiti nya.

__ADS_1


Ku akhiri obrolanku dengan mereka bertiga.


Melihat mereka, sedikit beban pikiran ku berkurang. Aku bahagia sekali melihat keluargaku bahagia.


...----------------...


Rumah Mewah Cahyono.


*Marshella POV.


Aku yang turun dari mobil langsung berjalan mengikuti om Mj di depan ku.


Sarapan bersama di pagi hari membuat ku bersemangat untuk ke kampus nanti siang.


Seketika aku berubah ekspresi.


Tante Sandra dengan santai nya duduk sambil memegang cangkir teh di tangannya. Dia melihat ku dari sana.


Di depan teras ada wanita lain melihatku. Dia menunggu om Mj. Orang udik itu terlihat kesal sekali.


Aku yang semula mengekor di belakang om Mj.


Akhirnya berubah haluan. Lebih baik aku mengambil hati tante Sandra. Dia lebih berbahaya dari kelihatannya.


"Morning Tante! udah sarapan belum?" tanyaku basa-basi.


Aku menarik kursi di depan tante Sandra dan duduk dengan menyender.


"Udah dong. Elo kemana aja pagi-pagi gini? muncul dengan supir kampung itu lagi!" sungut tanteku kesal.


"Tadi Shella kebetulan aja ketemu di jalan sama om Mj. Jadi, Shella ajak sekalian deh tant!" ucapku berbohong.


"Yang bener nih? elo gak boong kan?" tanya tante Sandra memastikan.


"Gak kok tante cantik tapi norak." Sahutku langsung beranjak dan berlari masuk kedalam rumah meninggalkan tante Sandra sendiri.


"Heh, anak nakal! sini lo! si*lan gue di panggil norak." Pekiknya padaku.


Aku mendengar suaranya dari dalam rumah.


"Ha..ha...sokor. Lagian udah di Singapura 3 bulan masih saja norak dandanannya!" aku terkekeh geli.


Kumasuki kamar ku. Ku ambil ponsel Android mahalku. Banyak notis yang masuk ke akun sosial media ku.


"Gila ini mah! gue kan bukan selebgram. Kenapa banyak yang mau jadi pengikut gue di sosial media?" kernyitku heran.


Ku lihat sekilas siapa saja mereka. Banyak akun orang yang tidak aku kenal. Aku pun mengabaikannya.


"Ah, ngapain juga konfirmasi orang yang gak kenal. Bisa-bisa jadi stalker di akun gue nantinya!" pikirku.


Aku mengabaikan sosial mediaku.


Sekarang ini aku lebih fokus kepada kuliahku yang baru saja masuk sebulanan ini. Apalagi aku harus berusaha mengambil alih perusahaan papa Cipto satu-satunya.


Tok, tok, tok.


Pintu kamarku diketok dengan nyaring dari luar.


"Siapa?" pekikku.

__ADS_1


"Gue Shell! cepetan buka pintunya!" suara tante Sandra terdengar.


"Duh gawat nih, ngapain dia kemari!" gumamku seorang diri.


"Tante mau ngapain? maafin Shella tant!" pekikku lagi.


Aku masih belum membuka pintuku yang terkunci.


"Buruan buka pokoknya Shel, tante mau ngobrol sama elo!" tante Sandra masih keukeuh.


"Nasib lah kalau pala gue di getok nanti sama tante Shella!" lirihku sambil bangkit dari tempat tidur.


Klik, Ceklek.


Pintu kubuka lebar. Tante Sandra langsung masuk dan berbaring di tempat tidurku.


Raut wajahnya tidak seperti tadi pagi.


"Tante mau ngapain?" kernyitku heran.


"Gue mau ngobrol sama elo masalah mantan pacar tante nih!" sahutnya murung.


Raut wajah ini, sudah lama sekali aku tak melihat tante Sandra galau seperti sekarang.


Ternyata orang galak dan Arrogant seperti Tante Sandra bisa menampakkan kesedihan di raut wajahnya.


"Ada apalagi degan om Rexy? bukannya kalian udah putus lama ya?" tanyaku.


Aku menghampiri tante. Memeluk boneka kesayanganku dan duduk di dekatnya.


"Begitulah Shel. Tapi, gue bertemu lagi dengannya waktu gue mau makan siang beberapa hari yang lalu." Jawabnya.


"Kok bisa tant? emang Tante janjian sama om Rexy? kok bisa ketemu disana sih?" tanyaku penasaran.


"Gue gak janjian tau. Gue laper pengen makan, trus gue ke restoran favorit seperti biasanya. Eh malah di panggil sama Rexy. Ternyata dia ada di restoran yang sama." Jelas tante panjang lebar.


"Wauw, kebetulan yang hebat. Jangan-jangan tante Sandra berjodoh dengan om Rexy!" aku terkekeh menggoda tanteku.


"Elo tuh ya, suka sembarangan kalau ngomong!" sahut tanteku.


Tulalit, tulalit, tulalit.


Ponsel tante Sandra berdering, dia melihat nama yang tertera dilayar. Dahinya berkerut,


antara menjawab atau tidak.


Akhirnya dia memutuskan untuk menjawab panggilan itu.


"Halo, siapa ini ya?" tante Sandra tanpa basa-basi.


Suara di ujung sana terdengar begitu pelan dan samar


"Jadi, ini kamu.....?" pekiknya.


*


*


* Selamat membaca. Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya.

__ADS_1


__ADS_2