
Malam ini seperti biasa, aku mengantar barang selundupan. Tapi, kali ini dengan rute yang berbeda. Kami akan mengambil jalur tikus. Bukan di pelabuhan lagi. Karena sudah beberapa kali kami hampir tertangkap oleh aparat hukum. Polisi sewaan bos David sudah tak bisa lagi menyelamatkan kegiatan kami.
*Flashback.
Siulan kami menenuhi ruangan rahasia di pabrik. Kami meminum kopi kemasan yang sudah tersedia. Tak lupa cemilan yang berada di atas meja. Sebelum barang di masukkan kedalam kontainer. Hanya inilah yang bisa kami lakukan sambil berbincang.
"Mas, gak tertarik beli motor atau nyicil mobil gitu? lumayan kan mas tabungannya," tanya Dendi.
"Ah...sepertinya gak dulu Den. Motor aja sudah bos sediakan. Mending uangnya aku simpan di bank saja." Jawabku.
"Iya juga sih mas. Tapi kan kalau punya mobil kita bisa lebih bebas bawa cewek-cewek bening he....he...he," cengirnya nakal.
"Dikepalamu itu hanya ada cewek dan cewek. Emang nanti kamu gak mau menikah apa?" tanyaku.
"Ya ...mau dong mas. Tapi nanti dulu. Aku mau menikmati jadi seorang pecinta semua wanita ha...ha...ha," jawabnya sambil tertawa senang.
"Haish....kalau nunggu kelamaan bisa-bisa kering tuh." sahutku menggoda Dendi.
"Gak mungkin mas. Tenang saja, si adek akan selalu meproduksi yang baru setiap harinya." Jawab Dendi terkekeh.
Riiiinggg...
Ponsel Android Dendi berbunyi. Dia menerima telepon dan hanya mengucapkan beberapa patah kata saja.
"Mas, kita berangkat sekarang. Semua sudah masuk dan bersih." Ajak Dendi.
"Siap deh, yuk," aku beranjak dari tempat dudukku.
Kami berjalan beriringan sambil bersiul senang.
Jujur saja. Aku sebagai seorang pria normal lebih menyukai keadaanku yang sekarang.
Uang selalu tersedia di dompet. Pekerjaan juga tidak harus bersusah payah. Wanita? jangan ditanya. Mereka rela menunggu gilirannya tanpa uang sepeserpun dariku. Wajah tampanku ini berguna sekali bukan. Dosa? bukankah semua manusia berdosa? termasuk diriku. Ya aku memang tahu semua dosa yang aku lakukan. Aku tidak terlalu memikirkannya.
Kami sudah berada di dalam kendaraan. Aku yang sudah hafal jalannya terus melajukan kendaraan besar ini. Dendi hanya memainkan ponselnya. Sesekali dia melakukan panggilan video dengan wanita.
Wanita itu menyapaku dan menunjukkan sebagian dadanya. Dendi tersenyum nakal.
"Gak cewek gak cowok mesum semua otaknya," kataku dalam hati.
Sesampainya disana. Sebelum semua kotak masuk ke dalam perahu. Ada gerakan tanpa suara yang sempat terlihat olehku dibalik kaca spion.
Dendi berpikiran sama denganku.
__ADS_1
Insting kami mulai tajam ketika kami dihadapkan oleh bahaya dari luar. Karena ini barang selundupan, kami harus lebih berhati-hati.
"Mas, ada yang mengintai kita di dalam mobil hitam di parkiran ujung," dia memberitahuku.
"Aku lihat gerakan mencurigakan dibalik mobil putih itu." Lirikku dari arah kaca spion.
"Kita bergerak sekarang," aku dan Dendi berkata bersama-sama.
Ku tancap kendaraanku. Melaju secepatnya dan menjauh dari sini. Aku yang sudah belajar mencari jalan alternatif, langsung menuju jalan itu. Untunglah muatan kami sudah turun. Jadi, beban kendaraan ini tidak seperti tadi.
Mobil tadi yang mengikuti kendaraan kami. Sudah tidak terlihat lagi. Jalur alternatifku menyelamatkan kami. Untung saja kami tidak tertangkap basah.
Kami kembali menuju pabrik setelah dirasa semua aman. Kendaraan kami bawa kebelakang pabrik. Dendi menghubungi seseorang. Tak berapa lama datang sekitar 5 orang pria membawa beberapa peralatan mekanik. Kami bekerja sama setelah apa yang mereka rencanakan sebelumnya.
Kami membuka plat nomor kendaraan dan mengecat ulang sebelum ketahuan aparat. Tidak lupa kami mengubah satu angka dinomor mesin. Pagi ini kami melakukan perubahan pada kendaraan besar ini agar tidak dicurigai oleh pihak berwajib.
Semua bekerja sama agar barang selundupan berhasil berangkat dan kami kurirnya juga selamat dari sergapan aparat.
*Flashback off.
Petualangan baru akan dimulai.
Aku harus menghafal dan mengingat jalan tikus ini. Jalanannya tidak rata. Banyak batu-batuan yang besar di jalan. Kendaraan pun bersuara berisik akibat bebatuan itu. Tapi, setidaknya jalan ini jauh dari pemukiman.
Kami turun dari kendaraan besar ini.
Kami disambut oleh pengemudi pick up dan kernetnya. Mereka mulai memindahkan kotak satu persatu. Tak lupa, sayuran yang mereka bawa. Mereka letakkan diatas kotak-kotak itu. Mereka menyusunnya sedemikian rupa agar tidak di kenali.
"Pinter juga idenya tuh!" sambil menunjuk mereka semua.
"Namanya juga barang selundupan mas. Bukan hanya pinter tapi juga harus licik," senyum lebar Dendi.
"Apa kita harus menunggu mereka pergu baru kita pulang?" tanyaku yang mulai bosan menunggu.
"Sabar mas. Ini kan bukan kapal barang yang sekali angkut beres. Jadi, perlu waktu untuk menyusunnya di belakang pick up." ujar Dendi.
"Baiklah. Aku mau main game dulu." ucapku pada Dendi.
Aku menyenderkan badanku santai dibadan kendaraan ini. Aku mulai serius dengan permainan ini.
Brakkkk...
Dendi memukul badan kendaraan ini.
__ADS_1
"Si*lan Den. Bikin aku kaget ajah. Mana lagi asyik ini maennya," kesalku.
"Lagian keasyikan maen sampe lupa. Semua udah beres tuh mas. Ayo kita berangkat!" ajak Dendi.
Kami menuju jalan pulang ke arah pabrik setelah dirasa cukup aman.
Pagi ini sungguh melelahkan sekali. Ingin rasanya aku berlibur sejenak dari rutinitas yang membuatku selalu waspada.
...----------------...
Siang ini kami libur. Sebuah ide muncul di kepala.
"Den, kalau kita cuti 2 sampai 3 hari boleh gak sih?" tanyaku.
"Gak tau mas. Aku belum nanya masalah cuti pada bos David." Jawab Dendi.
"Coba aja kamu tanya. Aku pengen liburan Den. Pengen bawa cewek-cewek juga sih," ucapku lagi.
"Wah...ide bagus mas. Nanti kalau liburan, aku mau bawa tiga cewek," seringainya licik dan mesum.
"Terserah mau bawa berapa aja, asalkan kamu sanggup," ucapku sambil tersenyum.
Dendi menghubungi asisten bos David.
Dan dia menjelaskan soal liburan tadi.
Selang sepuluh menit kemudian. Ada suara pesan masuk.
"Yess.....kita liburan mas. Kita hubungi cewek-cewek dulu." ucap Dendi girang.
"Liburan kemana kita Den?" tanyaku penasaran.
"Kita kepantai aja mas. Banyak penginapan disana. Kita bisa bermalam dan bermain sepuasnya disana." Jelas Dendi.
"Baiklah. Aku akan menghubungi Lidia dan Maudi. Cewek kesukaanku. Mereka pasti senang sekali bisa melayaniku disana," cengirku lebar.
Kami menghubungi beberapa wanita dan memesan mobil sewaan yang akan kami pakai nanti. Kami harus menikmati liburan ini.
Apalagi kami akan ditemani wanita-wanita kesukaan kami. Sungguh indah rasanya.
Setelah menghubungi mereka. Kami bersiap dan segera meluncur ke pantai. Sebelum matahari terbit kami harus tiba disana.
Dendi pun menghubungi kedua orangtuanya. Dia berbohong bahwa kami akan keluar kota untul bekerja. Liburan pun akan kami mulai dan nikmati.
__ADS_1
*Jangan lupa dukung karya pertama queen semua. Jangan lupa tinggalkan jejak dengan cara like, komen dan rate bintang. Makasih sebelumnya kakak readers tersayang. 🙏🙏😘😘