
Elisa yang seharian jalan berdua bersama Mj akhirnya harus pulang sore ini. Dia terlalu letih ketika sudah sampai dirumah. Setelah berbaring di ranjang empuk kamarnya, Elisa memikirkan kejadian tadi ketika bertemu dengan Silvia. Pikirannya bercabang kemana-mana. Dia merasa kalut dan tidak tenang. Entah itu karena bertemu Silvia atau entah ada yang lainnya.
Dia masuk ke kamar mandi dan membersihkan badan. Cipto yang sedang tertidur merasa terganggu oleh suara pengering rambut Elisa.
Ya, Elisa sudah selesai mandi dan mengeringkan rambutnya yang panjang dan hitam. Sungguh pemandangan yang sangat indah bagi Cipto. Ia memperhatikan Elisa, dan beranjak duduk perlahan. Elisa tak menyadari tatapan suaminya itu. Ia hanya mau rambutnya mengering dengan cepat. Adzan Maghrib berkumandang, Elisa sholat seperti biasanya.
Ia tak menyadari bahwa Cipto selalu memperhatikan. Selesai sholat, rasa kantuk menguasai nya. Ia tidur terlentang di sofa panjang yang ada di dalam kamar. Dia merasa nyaman tidur ditempat itu.
Malam mulai beranjak. Elisa yang terbangun mulai mengucek netranya agar bisa mengurangi rasa kantuk. Ia mencuci muka kembali dan mulai memakai perawatan rutin.
Tak lupa Elisa memakai masker wajah dan menutup netranya. Tatapan Cipto seakan mau memangsa istrinya itu. Ia bangkit perlahan, tapak kakinya menempel lantai. Cipto melangkah perlahan, tangannya memegang almari yang ada disisi samping nya. Dengan tertatih ia mencapai pundak Elisa. Elisa yang tengah memakai masker wajah tak tahu bahwa orang di sebelahnya mendekati.
Plak.
Tangan itu memukul pundak Elisa pelan. Elisa tersentak dan membuka perlahan maskernya.
Ia menoleh dan terkejut akan orang di belakang nya.
"Tunggu dulu, kamu udah bisa berjalan?" tanya Elisa terkejut.
"Aaa-kku......!" Cipto menjawab pelan.
Elisa membelalakkan netranya, ia benar-benar tak menyangka bahwa Cipto sudah lebih baik daripada kemarin-kemarin.
Perkembangan nya sungguh pesat akhir-akhir ini. Membuat Elisa sumringah dengan rencana yang sudah ia pikirkan.
Elisa menuntun Cipto kembali ke ranjang. Cipto hanya mau duduk tanpa berbaring.
"Pa, cepat sembuh ya! Elisa mau meminta sesuatu nanti!" Elisa tersenyum lebar.
"Ke-napa hha-rus nuu-nggu aku sem-bbuh! ka-tak-an se-kar-ang ju-ga!" Cipto menanggapi ucapan Elisa.
"Ehm, sebenarnya aku sudah menyetujui rencana Sandra pa. Aku ikhlas kok berpisah dengan mu!" Elisa memasang wajah lesunya.
Sebenarnya dia di dalam hati kegirangan.
"Cih, pinter sekali ia berakting. Dia pikir aku gak tau kalau dia selingkuh dengan supir itu!" Cipto berkata dalam hati.
"Be-nar-kah? tapi aa-ku tti-dak mau berr-pi-sah dengan-mu!" ucap Cipto.
Elisa tersentak dan spontan berkata.
"Tidak mungkin!" ucapnya keceplosan.
"Ke-napa tttii-dak mung-kin? haa-nya aku ya-ng bisa men-cerai-kan-mu! tapi aak-kku tidak mau bercerai!" Cipto mulai menahan amarahnya.
"Tapi Sandra sudah mengambil berkas cerai dan aku sudah menandatanganinya!" balas Elisa sedih.
Cipto menggelengkan kepalanya.
"Ber-kas ii-tu su-dah saa-ya bbuang!" sahut Cipto.
__ADS_1
"Apaaa?" tanya Elisa tak percaya.
Cipto hanya tersenyum dan mengangguk saja.
Ia tersenyum puas ketika melihat kekecewaan yang ada di wajah Elisa.
"Aku kedapur sebentar pa!" pamit Elisa lesu.
Cipto tak menanggapinya. Elisa membuka pintu dan menuju ke taman yang berada di samping rumah. Dia mencerna kembali perkataan Cipto tadi. Rasa kecewa meluluh lantakkan hatinya. Keinginan nya untuk bersama orang yang di cintai pun harus mendadak sirna. Tapi, dia tidak kehilangan akal. Suatu rencana terbersit dalam benaknya. Besok ia harus berdiskusi bersama Mj akan rencana tersebut.
...----------------...
Sementara di malam yang sama di kosan Mj.
Sumiyati menghubungi anaknya, dia berbincang lama menceritakan semua hal. Ia tak sabar mendengarkan jawaban Mj. Kerinduan selama satu tahun lebih membuncah di dadanya.
"Maaf bu, Mj tidak bisa pulang bulan ini! kasih Mj waktu ya!" seru Mj gundah.
Sumiyati yang mendengar nya seakan kecewa pada keputusan anaknya itu.
Dia tak menyangka anaknya menolak untuk pulang kampung.
"Kenapa nak? bukannya tujuan mu kesana untuk mencari uang? sementara disini nak Evans Sudah mau membantu kita!" Sumiyati berucap pelan.
"Sebenarnya, sebenarnya aku itu!" Mj tak melanjutkan kata-katanya.
"Kamu kenapa nak? apa jangan-jangan kamu sudah menemukan gadis yang bisa mengisi hatimu?" selidik Sumiyati.
"Eh, ehm... begitulah bu. Maafkan Mj ya!" Mj merasa bersalah.
"Tapi, secepatnya kamu harus memberi tahukannya! kamu bisa membawa nya kemari nak!" usul Sumiyati.
"Bukan itu masalahnya bu, ini rumit dari kelihatannya! dia itu istri orang, aku gak bisa berbuat apapun kecuali dia sudah bercerai!" Mj berkata dalam hati.
"Maafkan aku ibu! nanti aku akan mengabari ibu secepatnya! sekarang Mj harus pergi bekerja lembur!" Mj terpaksa berbohong agar ibunya menyudahi perbincangan mereka.
"Baiklah, berhati-hatilah nak di kota orang!" nasehat Sumiyati.
"Baiklah bu!" Mj mengiyakan pesan ibunya.
Setelah saling berpamitan telepon pun terputus.
Mj menarik nafasnya dalam, ia menghembuskannya dengan kasar. Ucapan ibunya seakan menjadi peringatan baginya.
"Elisa, apa yang harus aku katakan padanya? kenapa semuanya makin kacau?" Mj mengeluh dalam kesendiriannya.
Sudah 6 bulan dia bekerja di rumah itu menjadi supir pribadi Elisa. Ia masih ingat ketika pertama kali Elisa mengatakan cinta. Sekarang semuanya sungguh rumit.
"Ah biarlah, aku hanya ingin berbahagia. Urusan ibu dan Evans nanti saja aku pikirkan!" Mj merebahkan kembali dirinya.
Perlahan ia mulai memejamkan netranya berharap besok hari akan membantu meringankan bebannya.
__ADS_1
...----------------...
Elisa yang sudah mengantuk kembali ke dalam rumah. Ia tak sengaja berjumpa dengan Sandra di ruang tamu.
"Heh, jangan senang dulu kamu ya!" ucap Sandra tiba-tiba.
"Senang kenapa emangnya?" Elisa tak mengerti ucapan Sandra.
"Senang karena abang gue gak mau bercerai!" sahut Sandra.
"Apa?? kamu bilang senang? aku malah sedih gak bisa bercerai dengan abangmu itu!" Elisa yang kecewa memperlihatkan ekspresi nya di depan Sandra.
"Kamu bersedih karena supir itu kan?" selidik Sandra.
"Terserah apa katamu! aku sudah ngantuk!" Elisa meninggalkan Sandra.
Ia kembali kedalam kamar nya.
Sandra melihat Elisa dari jauh dan berkata.
"Cuih, orang kampung kaya gitu! ada apa dengan abang gue! bodoh lah dia itu!" Sandra mengutuk abangnya sendiri.
Ceklek, pintu terbuka perlahan.
Elisa membuka pintu dan disana Cipto sudah terbaring dengan netra terpejam.
Elisa hanya mampu menghela nafasnya. Ia seakan sudah tak mampu untuk bertahan di rumah ini.
"Seandainya kita bertemu lebih awal mas Mj! Mungkin nasib kita tidak akan seperti ini!" lirih Elisa pelan.
Derttt, derttt, derttt.
Bunyi notif pesan masuk di ponsel Elisa.
Dia mengambil ponselnya diatas nakas dan membuka kunci layar ponsel.
Dia membuka pesan itu, nomor yang tidak dia kenal mengirimkan beberapa gambar.
"Tidak mungkin, siapa ini? kenapa dia mengirimkan gambar ini kepadaku?" Elisa heran.
Derttt.
Ada pesan masuk lagi. Disana tertulis pesan yang membuat Elisa tercengang dan tercekat.
"Apa??? tidak mungkin......!"
*
*
*
__ADS_1
*Selamat membaca 🥰